Cerita Da'i Bachtiar sulitnya bangun Gedung Promoter saat jabat Kapolri

Cerita Da'i Bachtiar sulitnya bangun Gedung Promoter saat jabat Kapolri. Mantan Kapolri Jenderal (purn) Da'i Bachtiar menceritakan, saat dirinya masih menjabat sebagai Kapolri, ingin membangun Gedung Promoter. Gedung itu digagas oleh almarhum mantan Kapolda Metro Jaya Irjen Firman Gani.

Ronald
Oleh Ronald - Reporter
Cerita Da'i Bachtiar sulitnya bangun Gedung Promoter saat jabat Kapolri
dai bachtiar. ©2018 Merdeka.com/ronald chaniago

Mantan Kapolri Jenderal (purn) Da'i Bachtiar menceritakan, saat dirinya masih menjabat sebagai Kapolri, ingin membangun Gedung Promoter. Gedung itu digagas oleh almarhum mantan Kapolda Metro Jaya Irjen Firman Gani.

"Kenapa 23 lantai, dulu pemikiran kita terorisme akan terus berkembang. Bukan untuk terorisme saja, tapi untuk menangani segala bentuk kejahatan yang ada," ujarnya di Mapolda Metro Jaya, Jumat (19/1).

Ia beralasan, saat itu untuk membangun gedung tersebut terbentur dengan biaya. Yang mana pada saat itu Polri hanya mendapat belasan triliun dari pemerintah.

"Ya karena multi years itu dananya. Kan waktu saya cukup untuk membangun konstruksi saja, paling 2 tahun. Tapi keterbatasan anggaran ya jadinya begini. Di zaman saya anggaran pembangunan hanya Rp 1 triliun. Dulu sebagian saya bangun asrama Brimob di Jawa Tengah dan Kelapa Dua Depok," ujarnya.

Dalam pembangunan gedung itu, Da'i sempat menolak. Sebab, ia ingin membangun gedung berdasarkan anggaran dari pemerintah.

"Kapolda Metro dulu ingin membangun secara swadaya. Saya bilang jangan, karena sulit pertanggungjawabannya. Pakai anggaran saja. Saya khawatir eksesnya. Makanya tunggu saja anggaran," pungkasnya.

Seperti diketahui, gedung ini sudah lama sekali terbengkalai. Mulai peletakan batu pertama pada tahun 2004 dengan rencana pembangunan 23 lantai dan semula digunakan untuk Densus 88. Saat itu, Kapolda Metro Jaya Irjen Firman Gani menganggarkan biaya Rp 660,1 miliar untuk pembangunan gedung di atas lahan seluas 14.500 meter persegi.

Sayangnya, hingga pembangunan dilaksanakan, biaya yang digunakan belum tercatat dalam APBN. Sontak, seluruh media massa menjadikan pembangunan gedung tersebut sebagai topik pemberitaan hingga di penghujung 2004.

Tetapi Firman Gani tetap melaksanakan pembangunan, dengan alasan sambil menunggu anggaran dari APBN. Pernyataan itu menuai kritik pedas berbagai pihak. Firman Gani semakin tersudut dengan pertanyaan wartawan, terkait penolakan mendadak Kapolri Jenderal Dai Bachtiar untuk hadir saat menggelar syukuran peletakan batu pertama.

Pergantian Kapolri dari Jenderal Dai Bachtiar kepada Jenderal Sutanto tidak memberikan dampak terhadap kelanjutan pembangunan. Justru, proses pembangunan yang direncanakan selesai selama 18 bulan, semakin tidak jelas. Akhirnya, selama Jenderal Sutanto menduduki posisi nomor satu di Polri, pembangunan tak lagi berjalan dan akhirnya mangkrak hingga 14 tahun lamanya.

Hingga akhirnya, memasuki awal 2018 atau setelah 14 tahun pembangunan dimulai, Polri memutuskan pembangunan gedung itu diselesaikan dengan nama Gedung Promoter.

Rekomendasi