Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) berhasil meraih status bergengsi sebagai WHO Listed Authority (WLA), menjadikannya otoritas pengawas obat nasional (NRA) pertama dari negara berkembang yang masuk daftar rujukan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Pencapaian signifikan ini diumumkan di Jakarta pada Jumat, 30 Januari, bertepatan dengan perayaan 25 tahun pengabdian BPOM dalam menjaga kesehatan masyarakat. Status ini secara resmi menempatkan BPOM sejajar dengan otoritas pengawas dari negara-negara maju.
Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menyatakan bahwa predikat ini merupakan refleksi dari dedikasi dan kerja keras BPOM selama seperempat abad. Berbagai tantangan telah dihadapi, serta ekspektasi publik yang terus meningkat terhadap kualitas pengawasan obat dan makanan di Indonesia. Capaian ini menjadi hadiah terindah bagi BPOM.
Pengukuhan sebagai BPOM Otoritas Rujukan WHO menegaskan komitmen Indonesia dalam memastikan keamanan dan kualitas produk kesehatan. Hal ini juga memperkuat peran BPOM di kancah internasional. Keberhasilan ini tidak lepas dari kolaborasi erat lintas sektor yang terus terjalin.
Advertisement
Advertisement
Dalam upaya memperkuat kemandirian nasional di sektor obat-obatan, Kepala BPOM Taruna Ikrar bersama Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, menandatangani nota kesepahaman. Penandatanganan ini berlangsung di Jakarta pada Kamis, 29 Januari. Kerja sama strategis ini bertujuan untuk menyinergikan pengawasan obat dan makanan dengan pendidikan tinggi, ilmu pengetahuan, dan teknologi.
Menteri Brian Yuliarto menekankan pentingnya kolaborasi ini, mengingat Indonesia memiliki potensi besar dengan lebih dari 4.000 perguruan tinggi. Jumlah tersebut didukung oleh sekitar 300 ribu dosen dan lebih dari 12 ribu profesor. Aset akademik yang melimpah ini menjadi fondasi kuat untuk pengembangan riset dan inovasi yang relevan dengan kebutuhan pengawasan obat dan makanan.
Sinergi antara BPOM dan Kemdiktisaintek diharapkan dapat mendorong penelitian dan pengembangan produk obat dan makanan yang inovatif. Hal ini sekaligus mendukung kemandirian bangsa dalam penyediaan produk kesehatan. Kolaborasi ini menjadi langkah konkret untuk meningkatkan kualitas dan daya saing industri farmasi serta pangan nasional.
Advertisement
Advertisement
Sebagai penutup rangkaian peringatan usia perak, BPOM juga memberikan penghargaan "BPOM Award" kepada para mitra strategisnya. Penghargaan ini diberikan kepada perwakilan dari sektor akademisi, dunia usaha, dan pemerintah. Ini merupakan bentuk apresiasi atas dukungan dan sinergi yang telah terjalin selama ini.
Para pemangku kepentingan tersebut memiliki peran krusial dalam mengawal amanah pengawasan obat dan makanan di seluruh wilayah Indonesia. Dukungan mereka sangat vital dalam memastikan produk yang beredar aman, bermutu, dan bermanfaat bagi masyarakat. Sinergi yang kuat menjadi kunci keberhasilan BPOM dalam menjalankan tugasnya.
Pemberian penghargaan ini sekaligus menjadi momentum untuk mempererat hubungan kerja sama. BPOM berharap dapat terus berkolaborasi dengan berbagai pihak. Tujuannya adalah untuk terus meningkatkan efektivitas pengawasan dan perlindungan konsumen di masa mendatang.
Advertisement
Sumber: AntaraNews