BPBD Riau Berjibaku Padamkan Karhutla di Rokan Hilir dan Dumai, Titik Panas Terus Bertambah

BPBD Damkar Riau terus berupaya memadamkan Karhutla Riau di Rokan Hilir dan Dumai di tengah kondisi panas kering. Simak detail upaya pemadaman dan sebaran titik panas terbaru yang mengkhawatirkan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
BPBD Riau Berjibaku Padamkan Karhutla di Rokan Hilir dan Dumai, Titik Panas Terus Bertambah
BPBD Damkar Riau terus berupaya memadamkan Karhutla Riau di Rokan Hilir dan Dumai di tengah kondisi panas kering. Simak detail upaya pemadaman dan sebaran titik panas terbaru yang mengkhawatirkan. (AntaraNews)

Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Riau kembali berjibaku memadamkan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di dua wilayah krusial, yakni Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) dan Kota Dumai. Peristiwa Karhutla Riau ini terpantau masih aktif dalam beberapa hari belakangan, menandakan ancaman yang belum mereda di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu.

Kepala Pelaksana BPBD Damkar Riau, M Edy Afrizal, mengonfirmasi bahwa titik api tersebar di Kecamatan Pujud, Rohil, serta di Bukit Batrem, Kecamatan Dumai Timur. "Karhutla masih ada. Ada dua titik lokasi, di Kecamatan Pujud, Rohil dan Bukit Batrem, Dumai," ujarnya di Pekanbaru, Sabtu, menegaskan bahwa upaya pemadaman terus dilakukan.

Tim BPBD Damkar Riau telah diturunkan ke lokasi untuk membantu penanganan Karhutla Riau ini. Di Rohil, kebakaran di Pujud sempat padam, namun api kembali hidup dan kini sedang dalam tahap pendinginan intensif oleh tim darat yang bekerja tanpa henti.

Upaya pemadaman Karhutla Riau menghadapi tantangan berat akibat kondisi cuaca panas yang ekstrem dan tidak sesuai perkiraan. Pihak BPBD Damkar Riau berharap musim hujan segera tiba untuk membantu meredakan situasi ini secara alami, mengingat kondisi panas kering memperparah penyebaran api.

Meskipun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi tahun ini akan terjadi panas basah, kenyataannya Riau justru dilanda panas kering yang memicu Karhutla. Kondisi ini sangat menyulitkan tim pemadam di lapangan, karena api dapat dengan cepat meluas dan sulit dikendalikan.

"Kita berdoa saja segera musim hujan agar tidak terjadi karhutla. Karena kalau kondisi panas seperti sekarang tim darat tak mampu juga melakukan pemadaman jika tidak dibantu tim udara menggunakan helikopter," kata M Edy Afrizal, menyoroti keterbatasan tim darat tanpa dukungan udara.

Situasi pemadaman Karhutla Riau semakin rumit dengan ditariknya semua helikopter pengebom air dan patroli dari lokasi. Penarikan aset vital ini secara signifikan mengurangi kapasitas respons cepat dalam memadamkan api dari udara, yang sangat efektif untuk area sulit dijangkau.

Selain itu, rencana pergeseran helikopter dari Sumatera Selatan ke Riau kemungkinan besar tidak akan terealisasi, menambah daftar kendala dalam penanganan Karhutla Riau. Ketiadaan bantuan udara membuat tim darat harus bekerja lebih keras dan berisiko tinggi dalam menghadapi kebakaran yang meluas.

Pada Sabtu, terdeteksi 33 titik panas di Riau, dengan Kabupaten Bengkalis menjadi wilayah terbanyak dengan 14 titik. Sementara itu, di seluruh Pulau Sumatera, terdeteksi total 102 titik panas, di mana Jambi menjadi provinsi dengan jumlah titik panas terbanyak, yaitu 37 titik, menunjukkan skala masalah Karhutla yang lebih luas di kawasan tersebut.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi