Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar mengambil langkah proaktif dengan menyiapkan operasi modifikasi cuaca (OMC). Inisiatif ini bertujuan mendukung proses evakuasi korban serta bangkai pesawat ATR 42-500 yang mengalami kecelakaan tragis. Pesawat tersebut jatuh di wilayah Pegunungan Bulusaraung, yang mencakup area Kabupaten Maros dan Pangkep, Sulawesi Selatan.
Persiapan modifikasi cuaca ini merupakan tindak lanjut langsung dari arahan Gubernur Sulawesi Selatan. Gubernur meminta BMKG untuk mengerahkan segala upaya demi mempercepat penemuan korban dan bagian pesawat. Kondisi cuaca ekstrem menjadi salah satu kendala utama dalam operasi pencarian dan penyelamatan.
Pelaksana Tugas Kepala BMKG Wilayah IV Makassar, Nasrol Adil, menegaskan bahwa satu unit pesawat khusus telah disiapkan. Pesawat ini akan diterbangkan dari Semarang, Jawa Tengah, menuju Makassar untuk mendukung pelaksanaan operasi modifikasi cuaca yang krusial tersebut.
Advertisement
Advertisement
Operasi modifikasi cuaca (OMC) dirancang khusus untuk mengatasi kondisi meteorologis yang menghambat upaya pencarian. Menurut Nasrol Adil, operasi ini akan melibatkan penaburan bahan tertentu di lokasi pencarian. Tujuannya adalah mengendalikan curah hujan serta mengurangi pembentukan awan hujan yang berpotensi besar menghambat pandangan dan pergerakan tim evakuasi.
Teknik yang akan digunakan dalam operasi modifikasi cuaca ini cukup spesifik. Potensi awan-awan tebal atau kabut yang menyelimuti area pegunungan dapat dieliminasi secara efektif. Caranya adalah dengan menaburkan zat kapur di area tersebut, sehingga diharapkan dapat membersihkan jalur evakuasi dari gangguan visual.
BMKG berharap dengan penerapan strategi modifikasi cuaca ini, tim SAR gabungan dapat bekerja lebih optimal. Pengurangan kabut dan awan hujan diharapkan mampu membuka akses yang lebih luas. Ini sangat penting terutama untuk operasi evakuasi yang dilakukan melalui jalur udara, memastikan visibilitas yang baik bagi helikopter dan pesawat.
Advertisement
Advertisement
Kondisi cuaca di lokasi jatuhnya pesawat ATR 42-500 memang menjadi tantangan serius bagi tim evakuasi. Selain cuaca, medan yang sangat terjal di Pegunungan Bulusaraung juga mempersulit akses. Tim evakuasi bahkan harus menggunakan teknik "rappeling" untuk mengevakuasi korban yang ditemukan pada Minggu (18/1).
Teknik rappeling merupakan metode khusus untuk turun dari ketinggian, seperti tebing atau jurang, menggunakan tali khusus. Bantuan alat descender yang terhubung ke harness atau alat pelindung diri (APD) sangat krusial dalam teknik ini. Penggunaan teknik ini menunjukkan betapa ekstremnya kondisi geografis di lokasi kejadian.
Prakiraan cuaca dari BMKG Wilayah IV Makassar menunjukkan bahwa saat kejadian nahas pada Sabtu (17/1) siang, kondisi cuaca sangat buruk. Hingga malam hari setelah kejadian, area tersebut masih diselimuti kabut tebal dan sesekali diguyur hujan. Kondisi ini secara signifikan menghambat upaya pencarian dan penyelamatan yang sedang berlangsung.
Advertisement
Advertisement
Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, menyatakan optimismenya terkait operasi modifikasi cuaca ini. Beliau berharap bahwa upaya BMKG Modifikasi Cuaca ini dapat mengurangi hambatan signifikan yang dihadapi tim SAR Gabungan. Kolaborasi dengan masyarakat setempat diharapkan juga semakin efektif dengan kondisi cuaca yang lebih kondusif.
Gubernur Sulsel menambahkan, "Mudah-mudahan dengan modifikasi cuaca itu dapat membuka akses yang lebih luas sehingga proses evakuasi dari udara bisa dilakukan dengan cepat dan menemukan beberapa bukti di lokasi." Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya akses udara untuk mempercepat proses identifikasi dan pengumpulan bukti.
Keberhasilan operasi modifikasi cuaca ini akan sangat menentukan kelancaran seluruh proses evakuasi. Dengan cuaca yang lebih terkendali, tim dapat bekerja lebih efisien dan meminimalkan risiko tambahan. Fokus utama tetap pada pencarian dan evakuasi korban serta bangkai pesawat secara menyeluruh.
Advertisement
Sumber: AntaraNews