Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) mengalami insiden saat berupaya mendarat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Maros, Sulawesi Selatan, pada Sabtu, 17 Januari. Insiden ini menarik perhatian publik dan pihak berwenang untuk menginvestigasi penyebabnya. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah merilis laporan awal terkait kondisi cuaca di lokasi kejadian.
Laporan BMKG menyoroti keberadaan awan cumulonimbus (Cb) tebal yang menyelimuti wilayah Maros pada saat insiden terjadi. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyampaikan informasi ini dalam rapat bersama Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat di Jakarta. Kehadiran awan Cb tebal ini disebut memerlukan kehati-hatian ekstra bagi penerbangan.
Meskipun kondisi cuaca secara umum relatif stabil, keberadaan awan Cb di area pendekatan pendaratan menjadi faktor yang patut diperhatikan. Informasi ini disampaikan BMKG berdasarkan analisis laporan meteorologi bandara dan citra satelit. Pihak berwenang masih terus mendalami penyebab pasti insiden tersebut.
Advertisement
Advertisement
BMKG, melalui Kepala Teuku Faisal Fathani, menegaskan bahwa kondisi cuaca saat insiden ATR 42-500 terjadi di Maros, Sulawesi Selatan, menunjukkan keberadaan awan cumulonimbus tebal. Awan ini terdeteksi di area pendekatan pendaratan pesawat pada 17 Januari. Fathani menjelaskan bahwa laporan ini bertujuan untuk menggambarkan kondisi meteorologi, bukan menentukan penyebab teknis kecelakaan.
Berdasarkan laporan Aerodrome Meteorologi (METAR) pukul 12.30 waktu setempat, Bandara Sultan Hasanuddin di Maros menunjukkan kondisi yang relatif stabil. Jarak pandang tercatat 9 kilometer, dengan angin bertiup dari barat berkecepatan 13 knot, serta suhu dan tekanan normal. Namun, BMKG menemukan anomali cuaca di sekitar bandara.
Fathani menambahkan bahwa awan cumulonimbus tebal terpantau di sekitar bandara, khususnya di atas Maros. Formasi awan ini berpotensi menimbulkan risiko signifikan bagi upaya pendaratan pesawat. Citra satelit Himawari juga mengonfirmasi adanya formasi awan tinggi dan padat di Maros, dengan suhu puncak awan yang mengindikasikan aktivitas konvektif kuat. Ini konsisten dengan laporan cuaca bandara.
Advertisement
Advertisement
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyatakan bahwa penyebab insiden pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung masih dalam penyelidikan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Investigasi mendalam diperlukan untuk mengungkap semua faktor yang berkontribusi terhadap insiden ini. KNKT sebagai lembaga independen bertugas menganalisis data dan bukti yang ditemukan.
Pesawat ATR 42-500 yang dioperasikan oleh Indonesia Air Transport (IAT) dilaporkan hilang saat mencoba mendarat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Tim penyelamat telah menemukan beberapa puing pesawat di lokasi kejadian. Upaya pencarian dan evakuasi terus dilakukan oleh tim gabungan.
Selain puing, tim SAR juga telah menemukan dua jenazah korban, meskipun identitasnya belum secara resmi dikonfirmasi oleh pihak berwenang. Proses identifikasi menjadi prioritas untuk memberikan kepastian kepada keluarga korban. Penyelidikan akan mencakup pemeriksaan kotak hitam dan analisis data penerbangan lainnya.
Advertisement
Advertisement
Pesawat ATR 42-500 tersebut terbang dari Yogyakarta dengan membawa total 10 orang. Rinciannya adalah tujuh awak pesawat dan tiga penumpang. Ketiga penumpang ini merupakan perwakilan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KemenKP).
Para penumpang dari KemenKP yang berada di dalam pesawat adalah Ferry Irawan, Deden Mulyana, dan Yoga Naufal. Keberadaan mereka di pesawat menunjukkan adanya agenda dinas atau kegiatan terkait sektor kelautan dan perikanan.
Sementara itu, awak pesawat terdiri dari Kapten Pilot Andi Dahananto, Co-Pilot Muhammad Farhan Gunawan, serta pramugari Hariadi, Restu Adi, Dwi Murdiono, Florencia Lolita, dan Esther Aprilita. Seluruh nama ini telah dirilis untuk kepentingan informasi publik dan keluarga.
Advertisement
Sumber: AntaraNews