Asal usul peci atau kopiah dari orang Turki

Jumat, 1 Juli 2016 10:14 Reporter : Adriana Megawati
Asal usul peci atau kopiah dari orang Turki ragam kopiah. ©2013 Merdeka.com

Merdeka.com - Kalangan masyarakat Indonesia pasti sudah tidak asing lagi dengan Kopiah atau Peci. Barang tersebut sering digunakan para pria untuk menutupi kepalanya. Kopiah sebagai simbol memuliakan kepala bagi orang yang memakainya.

Sejarahwan Betawi, Yahya Andi Saputra menuturkan bahwa peci atau kopiah adalah simbol-simbol kemuliaan. Hal itu lantaran di kalangan masyarakat tidak diperbolehkan memegang kepala orang secara sembarangan.

"Kalau di tradisi budaya Betawi kan tidak boleh sembarangan memegang kepala orang, karena itu peci digunakan untuk memuliakan kepala. Perjalanannya pun juga cukup panjang, kopiah itu dulu karena terpengaruh orang Turki," tutur Yahya kepada merdeka.com.

Dia menceritakan asal usul kopiah pertama kali. Pada zaman sebelum penjajahan dahulu, orang-orang Timur Tengah datang ke Indonesia dan mengenalkan topi Fez kepada penduduk lokal. Lalu para penduduk sekitar untuk membedakan dengan warga Turki, mereka memendekkan topi tersebut agar terlihat perbedaannya.

"Kalau topi orang Turki kan tinggi-tinggi tuh, nah masyarakat lokal pun memendekkan bentuknya agar terlihat berbeda," katanya.

Dia melanjutkan, bahwa para leluhur pada zaman dahulu senantiasa menutup kepalanya dengan menggunakan kopiah agar dilindungi dari segala unsur-unsur.

"Kalau orang-orang alim leluhur kita dulu, senantiasa menutup kepalanya karena kepala itu harus dilindungi dari segala unsur-unsur. Kopiah juga memiliki fungsi kemuliaan karena melindungi kepala, seperti mahkota bagi seorang putri," lanjutnya.

Selain itu, kata dia, terkenal juga pada zaman presiden pertama Indonesia Soekarno, saat membacakan teks proklamasi menggunakan kopiah. Oleh karena itu, hingga saat ini kopiah menjadi identitas nusantara dan simbol memuliakan kepala.

"Untuk membangkitkan rasa nasionalisme, pada zaman pak Soekarno menggunakan kopiah sebagai identitas bangsa. Pada zaman penjajahan dulu, kebanyakan orang Eropa memakai topi bulat, untuk membedakan dengan orang Eropa bung Karno memakai Kopiah. Dan itu diikuti oleh pergerakan nasional lainnya seperti Cokro Aminoto. Sebagai simbol untuk memuliakan kepala, karena orang-orang mulia akan memakai mahkota untuk menutup kepala mereka," pungkasnya. [hhw]

Topik berita Terkait:
  1. Ramadan 2016
  2. Pelangi Ramadan
  3. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini