Pakar Otomotif Jerman Geleng-Geleng Soal Teknologi Baterai China Sampai Bilang Eropa Kalah Jauh

Ferdinand Dudenhffer, seorang pakar otomotif asal Jerman, mengungkapkan bahwa Eropa kini tertinggal dari China dalam pengembangan teknologi baterai.

Azkal Azkia Nurrohmat
Oleh Azkal Azkia Nurrohmat - Reporter
Pakar Otomotif Jerman Geleng-Geleng Soal Teknologi Baterai China Sampai Bilang Eropa Kalah Jauh
Pakar Otomotif Jerman, Ferdinand Dudenhffer, menyebut Eropa tertinggal daru China terkait Teknologi Baterai (Merkur) (© 2026 Liputan6.com)

Pakar otomotif Jerman, Ferdinand Dudenhffer, mengungkapkan bahwa Eropa tertinggal setidaknya 20 tahun dibandingkan dengan China dalam teknologi baterai.

Menurutnya, pada tahun 2025, lebih dari 70 persen baterai kendaraan listrik di Eropa akan dipasok oleh perusahaan-perusahaan asal China.

Dalam wawancara yang dilansir oleh Global Times dan dikutip dari laman Carnewschina, Dudenhffer memberikan penilaian mengenai posisi Eropa dalam persaingan global kendaraan listrik.

Komentar tersebut muncul seiring dengan laporan produsen mobil China yang mencatat penjualan luar biasa di Eropa, dengan volume bulanan mencapai lebih dari 100.000 unit untuk pertama kalinya pada Desember 2025, serta meraih pangsa pasar sebesar 9,5 persen.

Keunggulan biaya yang dimiliki produsen Tiongkok sangat signifikan, di mana biaya produksi baterai mereka sekitar 30 persen lebih rendah dibandingkan dengan pesaing di Eropa, dan siklus pengembangan produk yang lebih cepat hingga 50 persen.

Sementara itu, produsen baterai Eropa menghadapi berbagai tantangan, seperti Northvolt dari Swedia yang terancam kebangkrutan akibat masalah teknis dan keterlambatan dalam pengiriman, serta ACC dari Prancis yang menunda rencana ekspansi pabriknya.

Di sisi lain, perusahaan-perusahaan baterai besar asal China seperti CATL dan Gotion High-Tech tidak hanya memasok komponen, tetapi juga aktif membangun kehadiran manufaktur di Eropa.

Hal ini menunjukkan adanya ekspansi yang semakin luas dari China dalam pasar otomotif Eropa.

Contohnya adalah usaha patungan antara CATL dan BMW yang telah memulai produksi di Jerman, serta kemitraan BYD dengan Stellantis yang bertujuan untuk mengembangkan baterai lithium besi fosfat berbiaya rendah yang kini telah memasuki fase produksi massal.

Tidak Hanya Baterai, Teknologi Lain juga Dikuasai China

Kesenjangan antara Eropa dan China tidak hanya terlihat dalam sektor baterai, tetapi juga dalam teknologi-teknologi penting lainnya.

"Perusahaan-perusahaan Tiongkok di bidang seperti pengemudian otomatis dan kokpit pintar, seperti QCraft, Horizon Robotics, Xiaomi, dan Huawei, memimpin tren ini dan bukannya didominasi oleh produsen Eropa dan Amerika," ujar Dudenhffer.

Data dari Badan Energi Internasional menunjukkan bahwa saat ini, China menguasai 75 persen kapasitas produksi baterai global, dengan keunggulan khusus dalam teknologi baterai litium besi fosfat.

Dudenhffer juga mengingatkan bahwa jika produsen mobil Eropa terus bergantung pada rantai pasokan lokal yang tidak efisien, mereka akan kehilangan kesempatan untuk bertransisi sepenuhnya.

Selain itu, ia menekankan bahwa kemitraan yang sedang berlangsung antara perusahaan-perusahaan Tiongkok dan Eropa berpotensi mengubah Eropa dari sekadar pusat konsumsi baterai menjadi lokasi untuk uji coba teknologi Sino-Jerman.

"Kita bisa belajar banyak dari efisiensi Tiongkok," tutupnya.

Rekomendasi