Tragis Santri di Bangkalan Tewas Dianiaya Pengurus dan Santri Lain, Ponpes Disorot

Seorang santri di bawah umur meninggal dunia usai dianiaya pengurus dan para santri lain. Kronologinya menyedihkan.

Rizka Nur Laily M
Oleh Rizka Nur Laily M - Reporter
Tragis Santri di Bangkalan Tewas Dianiaya Pengurus dan Santri Lain, Ponpes Disorot
Pondok Pesantren Darul Ittihad Bangkalan. ©2023 Merdeka.com/Dok. Pondok Pesantren Darul Ittihad Bangkalan

Nasib tragis dialami seorang santri di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur. Anak di bawah umur itu meninggal dunia pada Selasa (7/3/2023) malam usai menjadi korban penganiayaan para seniornya di sebuah Pondok Pesantren Darul Ittihad, Desa Campor, Kecamatan Geger, Kabupaten Bangkalan.

Kasat Reskrim Polres Bangkalan AKP Bangkit Dananjaya mengungkapkan bahwa korban meninggal dunia mengalami luka lebam di dada, tangan, dan punggung. Kasus penganiayaan santri hingga meninggal bukan kali pertama terjadi. Sebelumnya, kasus serupa juga terjadi di Pondok Pesantren Modern Gontor dan Pondok Pesantren Amanatul Ummah Mojokerto.

"Tadi malam saya mendapatkan laporan ada santri meninggal dikeroyok oleh seniornya," ujar Bangkit, Rabu (8/3/2023), dikutip dari akun Instagram @wecarebangkalanmadura.

Hingga Rabu, aparat Polres Bangkalan telah memeriksa lima orang saksi untuk dimintai keterangan terkait kasus tersebut. Selain itu, Polres Bangkalan juga masih menunggu hasil autopsi terhadap jenazah korban untuk mengetahui penyebab kematian korban.

Duka Keluarga

Seorang kerabat korban mengungkapkan bahwa pelaku penganiayaan merupakan pengurus pondok pesantren yang jumlahnya mencapai 16 orang. Penganiayaan terhadap korban terjadi di dalam kamar pondok pesantren.

“Keponakan saya semasa hidupnya polos dan lugu masih berumur 16 tahun, dibawa orang tuanya ke pondok untuk mencari ilmu bukan untuk menjadi mayat,” ungkap pemilik akun Instagram @aisyaaaahh_19.

Menurut dia, setiap kali dikunjungi keluarga, sang keponakan menyatakan keinginanya pulang ke rumah karena tidak betah berada di pondok pesantren.

“Tapi enggak ngasih tahu alasannya (pengen pulang) apa ternyata karena diancam oleh para pengurusnya tidak boleh menceritakan ke orang tuanya,” imbuh Aisyah.

Pihak keluarga berharap almarhum husnul khotimah. Meski demikian, pihak keluarga mengharapkan para pelaku dihukum seadil-adilnya.

Komentar Warganet

Kasus meninggalnya santri di bawah umur karena dianiaya pengurus dan senior Pondok Pesantren Darul Ittihad Bangkalan itu menjadi sorotan warganet. Mereka mempertanyakan pengelolaan pondok pesantren yang tidak aman bagi para santrinya.

Banyak orang tua khawatir memasukkan anak ke pesantren, kalau ada yang tidak kerasan gara-gara hal seperti itu dianggap inilah itulah kuwalat enggak dapat barokah. Sedangkan kalau seperti ini yang terjadi siapa yang mau disalahkan dan apa tanggapannya. Pengasuh ponpes dimohon memantau karena kalau kejadiannya sudah seperti ini maka tidak akan ada yang bisa bertanggung jawab dan menjelaskan bagaimana hal ini bisa terjadi,” komentar pemilik akun Instagram @malihahms.

Harus diusut tuntas, ini juga termasuk kelalaian pengurus pondok. Pelaku anak-anak harus tetep direhabilitas, apa lagi kata pesantren sudah melekat dengan kata moral/akhlak,” tulis @fikashmh.

Rekomendasi