Kisah Pria Disabilitas Penjahit Sepatu, Keliling Tawarkan Jasa Meski Susah Jalan

Seorang pria disabilitas berjalan kaki keliling daerah-daerah di Kota Malang untuk menawarkan jasa menjahit sepatu dan tas. Ia berangkat pagi hari dan baru pulang sekitar pukul 20.00 WIB. Ini kisah selengkapnya.

Rizka Nur Laily M
Oleh Rizka Nur Laily M - Reporter
Kisah Pria Disabilitas Penjahit Sepatu, Keliling Tawarkan Jasa Meski Susah Jalan
Pria disabilitas penjahit sepatu dan tas di Kota Malang. ©2022 Merdeka.com/Instagram @malang_media

Sehari-hari, seorang pria disabilitas berjalan kaki keliling daerah-daerah di Kota Malang untuk menawarkan jasa menjahit sepatu dan tas.

Di tengah keterbatasannya, pria ini seolah tak mau putus asa dan terus berjuang mencari rezeki.

Ada kalanya penghasilan yang didapat dari menjahit sepatu dan tas tidak seberapa. Namun, hal itu tidak membuatnya patah semangat.

Tak Putus Asa

Seorang kreator video, Nurrohman Adi Assajjad mengunggah cerita mengenai pria disabilitas penjahit sepatu dan tas di akun media sosial Instagramnya (19/1/2022).

Video tersebut kemudian diunggah ulang oleh akun Instagram penyedia informasi lokal Malang @malang_media, Selasa (1/2).

Dalam video tersebut tampak pria penjahit sepatu dan tas berjalan kaki terseok-seok. Tampak kaki dan tangan sebelah kirinya tidak berfungsi normal.

Meski demikian, ia tampak sekuat tenaga berjalan kaki demi menawarkan jasa menjahit sepatu dan tas.

“Kali ini saya bertemu dengan Bapak penjahit sepatu dan tas, saya bertemu dengan beliau di belakang UIN Malang. Rumah Bapak ini di Bululawang Krebet dan beliau menawarkan jasanya di tengah keterbatasannya,” tulis Nurrohman Adi.

Ongkos Jahit

 
 
 
View this post on Instagram
     

A post shared by Info Malang Raya (@malang_media)

Sebelumnya, Nurrohman sudah bertemu pria penjahit sepatu dan tas itu di daerah Klojen, Kota Malang. Dalam pertemuan kedua di belakang UIN Malang, ia akhirnya mengetahui bagaimana perjuangan pria penjahit sepatu dan tas dalam mencari rezeki.

Siang itu, pria disabilitas penjahit sepatu dan tas sudah berhasil menjahit dua sepatu dan mendapatkan upah Rp30 ribu.

“Ongkos (sepasang sepatu) Rp15 ribu, mas,” ceritanya.

Penghasilan yang ia terima dari jasa menjahit tas dan sepatu masih harus dikurangi untuk biaya transportasi. Pasalnya, ia perlu naik mobil angkutan kota untuk berpindah dari satu daerah ke daerah lain.

Ditanya apakah ia tidak capek harus jalan kaki keliling perkampungan, jawaban pria tersebut membuat siapapun yang mendengarnya bakal haru. Setiap hari, ia berangkat pagi dan pulang sekitar pukul 20.00 WIB.

“Kalau capek nanti enggak dapat hasil, mas,” ungkapnya.

Baca Juga Ratusan Ribu Jamaah Selawat Nariyah Padati Haul Masyayikh Situbondo, Doakan Bangsa Lebih Baik

Menangis Terima Donasi

Dalam kesempatan itu, Nurrohman juga memberikan donasi dari sukarelawan yang mengaku Hamba Allah untuk pria disabilitas penjahit sepatu dan tas keliling tersebut.

Pria itu sempat keberatan sebelum akhirnya mau menerima donasi tersebut. Menerima amplop yang disodorkan Nurrohman, pria disabilitas tersebut pun tak kuasa menahan tangisnya.

“Ini ada titipan dari Hamba Allah, buat beli sepatu,” kata Nurrohman sembari mengulurkan amplop.

“Ya Allah…” ujar pria disabilitas penjahit sepatu dan tas tersebut sembari menangis.

Baca Juga Progres Sensus Ekonomi Tulungagung Capai 45 Persen, BPS Targetkan 506 Ribu KK
Halaman Berikutnya Menteri LH Sebut Jatim Peringkat 1 Nasional Kelola Lingkungan dan Sampah
Rekomendasi