Piala Dunia 2026 menjadi panggung kemenangan generasi baru. Stadion MetLife, New Jersey menjadi saksi saat Spanyol membuktikan bahwa keberanian mempercayai pemain-pemain muda mampu mengalahkan pengalaman.
La Roja menundukkan juara bertahan Argentina 1-0 melalui gol Ferran Torres pada babak tambahan waktu sekaligus mengangkat trofi Piala Dunia untuk kedua kalinya setelah terakhir juara pada 2010.
Final ini bukan sekadar mempertemukan juara Eropa dengan juara Copa América. Pertandingan juga menjadi duel dua generasi. Spanyol datang dengan skuad yang didominasi pemain-pemain Generasi Z, sementara Argentina masih bertumpu pada para senior yang menjadi tulang punggung saat menjuarai Piala Dunia 2022.
Perbedaan komposisi usia itu terlihat jelas di lapangan. Spanyol membawa salah satu skuad termuda di Piala Dunia 2026 dengan rata-rata usia sekitar 26 tahun. Di sisi lain, Argentina memiliki rata-rata usia mendekati 29 tahun dan masih mengandalkan sejumlah pemain berpengalaman.
Generasi Z Spanyol tersebar di hampir semua lini. Lamine Yamal dan Pau Cubarsí masih berusia 19 tahun, Gavi 22 tahun, Pedri 23 tahun, Nico Williams 24 tahun, serta Joan García dan Álex Baena yang masing-masing berusia 25 tahun. Bahkan pencetak gol kemenangan, Ferran Torres, baru berusia 26 tahun sehingga masih berada dalam fase emas kariernya.
Sebaliknya, Argentina mengandalkan sederet pemain senior. Lionel Messi memimpin Albiceleste pada usia 39 tahun. Di belakangnya masih ada Nicolás Otamendi (38), Nicolás Tagliafico (34), Emiliano Martínez (33), Rodrigo De Paul (32), dan Leandro Paredes (32). Pengalaman mereka memang menjadi modal penting, tetapi tak mampu mengimbangi energi dan intensitas permainan Spanyol.
"Tim ini luar biasa. Kami adalah juara dunia dua kali. Itu pencapaian yang sangat sulit, mungkin yang tersulit dalam sepak bola. Kami meraihnya dengan mengalahkan tim sekuat Argentina," kata Rodri yang dikutip ESPN.
Gol yang memastikan gelar dunia pun lahir dari kolaborasi dua pemain muda. Nico Williams mengirim umpan matang yang diselesaikan Ferran Torres pada menit ke-106 untuk membobol gawang Emiliano Martínez. Momen tersebut menjadi simbol keberhasilan regenerasi yang dibangun pelatih Luis de la Fuente sejak menangani tim kelompok umur Spanyol.
Dominasi La Roja tak hanya terlihat dari skor akhir. Sepanjang pertandingan, Spanyol mampu menekan Argentina sejak menit pertama hingga babak tambahan waktu. Mereka melepaskan 20 tembakan, dengan 12 di antaranya mengarah ke gawang. Sebaliknya, Argentina hanya mampu menciptakan dua peluang dan tidak satu pun menjadi tembakan tepat sasaran.
Keunggulan juga terlihat dalam distribusi bola. Spanyol mencatatkan 858 operan dengan 774 di antaranya akurat. Angka itu jauh mengungguli Argentina yang hanya membukukan 458 operan dengan 357 operan sukses. Intensitas pressing para pemain muda La Roja membuat Argentina kesulitan mengembangkan permainan sepanjang laga.
"Saya bangga dan berharap generasi baru melihat bahwa hal itu mungkin terjadi. Seorang pemain yang pernah berada di puncak lalu jatuh, masih bisa bangkit lagi. Ini adalah contoh bagaimana mengatasi kesulitan. Kita harus percaya. Sungguh luar biasa," ujarnya.
Advertisement
Strategi Jitu Luis de la Fuente
Luis de la Fuente juga menerapkan strategi yang efektif untuk meredam Lionel Messi. Alih-alih menempatkan penjagaan khusus terhadap sang kapten, Spanyol memilih memutus jalur distribusi bola menuju peraih delapan Ballon d'Or tersebut. Taktik itu membuat Messi minim ruang untuk menciptakan peluang dan memaksa Argentina lebih banyak bermain di bawah tekanan.
Di lini tengah, Rodri kembali menjadi pengatur ritme permainan. Sementara di jantung pertahanan, Pau Cubarsí tampil matang meski baru berusia 19 tahun. Bek Barcelona itu beberapa kali menggagalkan upaya serangan Argentina dan memperlihatkan ketenangan yang jauh melampaui usianya.
Keberhasilan Spanyol menunjukkan bahwa regenerasi yang dipersiapkan sejak level usia muda mampu menghasilkan prestasi di level tertinggi. Mayoritas pemain inti mereka bahkan belum mencapai usia puncak sebagai pesepak bola. Dengan fondasi pemain seperti Lamine Yamal, Cubarsí, Pedri, Gavi, Nico Williams, Álex Baena, hingga Ferran Torres, La Roja diprediksi masih akan menjadi kekuatan utama dunia pada Euro 2028 dan Piala Dunia 2030.
Sebaliknya, kekalahan di partai puncak menjadi alarm bagi Argentina untuk mulai mempersiapkan regenerasi. Sejumlah pemain senior yang selama ini menjadi tulang punggung tim telah memasuki usia kepala tiga, bahkan Messi kini berusia 39 tahun.
Tantangan terbesar Albiceleste setelah Piala Dunia 2026 bukan hanya kembali mengejar gelar, melainkan memastikan tongkat estafet dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.