Pada bulan Muharam, terdapat satu hari yang dikenal dengan sebutan hari ‘Asyura. Orang-orang jahiliyah pada masa pra Islam dan bangsa Yahudi sangat memuliakan hari ‘Asyura ini. Ini dikarenakan pada hari tersebut Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa AS dari kejaran Fir’aun dan bala tentaranya.
Atas rasa syukur terhadap karunia Allah SWT tersebut, Nabi Musa AS lantas berpuasa pada hari ini. Saat berita ini sampai kepada Nabi Muhammad SAW, melalui orang-orang Yahudi yang tinggal di Madinah beliau bersabda; "Saya lebih berhak mengikuti Musa dari kalian [kaum Yahudi]", mengutip publikasi dari umy.ac.id.
Semenjak itu, Nabi Muhammad SAW memerintahkan umatnya untuk berpuasa, sehingga jadilah puasa ‘Asyura di antara ibadah yang mustahab (disukai) di dalam Islam. Dan ketika itu puasa Ramadan belum diwajibkan.
Berikut ini adalah niat puasa Asyura, waktu tepat untuk melaksanakannya, dan keutamaannya yang wajib diketahui oleh umat Islam.
Advertisement
Niat dan Tata Cara Puasa Asyura
Puasa asyura dilakukan dengan tata cara yang hampir sama dengan puasa lainnya. Yang membedakannya hanyalah niat yang dipanjatkan. Berikut tata cara puasa Asyura beserta niatnya, dilansir dari liputan6.com:
- Membaca niat puasa asyura
Nawaitu shauma ghadin 'an ada'i sunnati 'Asyura lillahi ta'ala.
Artinya: "Aku berniat puasa sunah Asyura karena Allah Lillahi ta'ala."
- Melakukan sahur
Sama halnya seperti puasa wajib di bulan Ramadan, dalam menjalankan puasa sunah seperti puasa asyura juga disarankan untuk melaksanakan sahur. Hukum sahur ini adalah sunah, yang apabila dikerjakan akan mendapatkan pahala namun jika tidak dilakukan juga tidak apa-apa. Puasa asyura yang dijalankan akan tetap sah meskipun tanpa melakukan sahur.
- Menahan diri dari nafsu
Saat berpuasa, menahan diri dari hal-hal yang membatalkan adalah hal yang wajib dilakukan. Umat muslim wajib menahan nafsu seperti dilarang makan, minum, marah, mabuk, dan lain sebagainya sebelum waktu berbuka puasa.
- Berbuka puasa
Seperti puasa wajib dan sunah lainnya, puasa asyura juga diakhiri dengan berbuka puasa. Salah satu sunah dalam berbuka adalah menyegerakannya saat sudah memasuki waktu berbuka.
Advertisement
Waktu Pelaksanaan Puasa Asyura
Puasa Asyura biasa dijalankan pada hari kesepuluh bulan Muharam. Berpuasa pada hari kesepuluh (Puasa Asyura) bisa menghapuskan dosa setahun yang lalu. Rasulullah SAW bersabda; “Puasa hari ‘Asyura, sungguh aku berharap kepada Allah agar menghapuskan dosa setahun yang telah lalu.” (HR. Muslim).
Disunahkan juga berpuasa pada hari sebelumnya, yaitu tanggal Sembilan Muharram yang dikenal dengan hari Tasu’a. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa padanya, mereka menyampaikan, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya hari itu adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nashrani.’ Lalu beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Kalau begitu, pada tahun depan insya Allah kita berpuasa pada hari kesembilan’. Dan belum tiba tahun yang akan datang, namun Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam sudah wafat.” (HR. Muslim).
Atas dasar hadis tersebut, Imam al-Syafi’i dan para sahabatnya, Ahmad, Ishaq dan selainnya, berkata “Disunnahkan berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh secara keseluruhan, karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam telah berpuasa pada hari ke sepuluh dan berniat puasa pada hari kesembilan.”
Advertisement
Keutamaan Puasa Asyura
Di masa hidupnya Nabi Muhammad SAW berpuasa di hari Asyura. Kebiasaan ini bahkan sudah dilakukan beliau lakukan sejak sebelum diwajibkannya puasa Ramadan dan terus berlangsung sampai akhir hayatnya.
Al-Bukhari meriwayatkan di dalam kitab shahihnya dari Abdullah bin Abbas RA; “Aku tidak pernah mendapati Rasulullah menjaga puasa suatu hari karena keutamaannya dibandingkan hari-hari yang lain kecuali hari ini, yaitu hari ‘Asyura dan bulan ini, yaitu bulan Ramadhan.” (Hadis Riwayat al-Bukhari dari Abdullah bin Abbas RA, Shahih al-Bukhariy, juz III, hal. 57, hadits no. 2006).
Hal ini menandakan sebuah keutamaan besar yang terkandung pada puasa Asyura. Ketika Nabi Muhammad SAW ditanya pada satu kesempatan tentang puasa yang afdhal (paling utama) setelah Ramadan, beliau menjawab; "(puasa di bulan) Allah, Muharram."
Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda; “Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah (puasa) di bulan Allah, Muharram. Dan salat yang paling utama setelah salat wajib adalah shalat malam.” (Hadis Riwayat Muslim dari Abu Hurairah RA, Shahih Muslim, juz III, hal. 169, hadits no. 2812).
Dan di antara faedah (kegunaan) puasa Asyura sebagaimana sabda Rasulullah SAW adalah untuk menggugurkan dosa-dosa setahun yang lalu. Abu Dawud meriwayatkan dari Abu Qatadah RA; “Dan puasa di hari ‘Asyura, sungguh saya mengharap kepada Allah bisa menggugurkan dosa setahun yang lalu.” (Hadis Riwayat Abu Dawud dari Abu Qatadah RA, Sunan Abi Dawud, juz II, hal. 321, hadits no. 2425).