Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Mereka yang Hendak Bunuh Diri di Tengah Badai Keluarga

Mereka yang Hendak Bunuh Diri di Tengah Badai Keluarga Ilustrasi keluarga cerai. ©2021 Merdeka.com/Fimela.com

Merdeka.com - Sinar matahari pukul tujuh pagi membuat siapapun yang beraktivitas di luar rumah merasa hangat dan bersemangat. Tapi siapa sangka, di tengah cuaca cerah pagi itu, Amalia (bukan nama sebenarnya), melompat dari jembatan ke badan sungai kecil di sebuah perkampungan di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Ketinggian jembatan itu sekitar lima meter dari badan sungai. Tidak terlalu tinggi, tapi tetap berbahaya bagi anak seusianya.

Saat itu, gadis kelas tiga SMP swasta kenamaan di Kota Yogyakarta itu dalam perjalanan menuju sekolah dibonceng kakaknya naik motor bebek. Seragam sekolah berupa rok menyebabkan Amalia hanya bisa duduk miring di boncengan. Posisi tersebut justru ia manfaatkan untuk melompat ke badan sungai.

“Kan pakai rok jadi dudukku miring, yaudah aku lompat. Jatuh terus ditolongin masku. Habis gitu dia marah-marah, bilang ke ibuku kalau aku mungkin stres,” ujar Amalia saat ditemui di Sleman, Senin (22/11/2021) petang.

Peristiwa yang terjadi tahun 2009 itu adalah percobaan bunuh diri pertama yang dilakukan Amalia, ia merasa beban hidupnya terlalu berat. Ayahnya menjadi pelaku kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan selingkuh dengan perempuan lain saat usia kakak Amalia baru dua tahun. Sejak saat itu, tak ada lagi cerita harmonis dalam rumah tangga kedua orang tuanya.

Dampak ketidakharmonisan keluarga itu nyata. Sejak masih TK, Amalia Prastiwi (28) sudah sering ditinggal sendirian di rumah. Kemudian, selama tiga tahun masa SMP, Amalia sering menghabiskan waktu lebih lama di sekolah untuk menunggu jemputan. Setiap hari, ia memang diantar jemput ke sekolah, kadang oleh ayahnya, kadang oleh kakak laki-lakinya.

Gadis itu tak bisa berangkat atau pulang sendiri lantaran sekolah dan rumahnya berbeda kota. Sekolahnya terletak di tengah Kota Yogyakarta, sementara rumahnya di Kabupaten Sleman. Pelajaran di sekolah selesai sekitar pukul 13.00 WIB, tapi Amalia pernah dijemput menjelang pukul 20.00 WIB. Peristiwa itu tak hanya terjadi sekali.

Menurut Amalia, ayah dan kakaknya sering ogah-ogahan menjemput dia di sekolah. Sementara ibunya tidak bisa melakukannya lantaran harus menyelesaikan pekerjaan rumah sebelum pergi mencari nafkah pada sore hari. Kondisi keluarga tak harmonis membuat kedua orang tua dan kakaknya sibuk dengan aktivitas masing-masing.

Berulang kali Mencoba Bunuh Diri

Upaya bunuh diri dengan melompat ke sungai itu bukan satu-satunya yang pernah dilakukan Amalia. Beberapa bulan setelah percobaan pertama gagal, ia nekat berlari ke tengah jalan di dekat sekolahnya dengan harapan bakal ditabrak truk yang melintas. Alih-alih tertabrak, ia lebih dulu diselamatkan pengguna jalan lain. 

“Aku tiga kali mau bunuh diri. Terakhir 2019 kemarin, cutting pakai gunting tapi caraku salah, jadi nggak berhasil. Lagian sebenarnya aku takut darah,” tutur anak bungsu dari dua bersaudara itu.

Amalia mengaku melakukan percobaan bunuh diri lantaran beban hidupnya terlalu berat. Jauh sebelum kedua orang tuanya bercerai, keluarganya sudah tidak harmonis. Sejak TK ia sering ditinggal sendirian di rumah.

Saat itu, kakak laki-laki Amalia yang lebih tua empat tahun sudah mulai mengalami gejolak. Seperti kedua orang tuanya, kakak Amalia juga jarang di rumah. Sepulang sekolah ia lebih sering bermain hingga larut malam bahkan menginap di rumah temannya.

Ibunya pemilik usaha bisnis susu sapi murni di bilangan Jalan Magelang, DIY. Saat sore tiba, ia berangkat untuk membuka tenda susu murni dan baru pulang dini hari berikutnya. Sementara itu, selepas berjualan burung di pasar, ayahnya sering tak pulang hingga malam sudah larut.

Kondisi yang demikian membuat Amalia kecil mau tidak mau harus bersikap layaknya orang dewasa. Mulai kelas dua SD, ia terpaksa menyiapkan lauk sendiri saat tak ada orang lain di rumah. Selanjutnya, saat kelas empat SD, ia sudah mahir memasak nasi dan aneka lauk pauk.

Meskipun kondisi keluarga sudah lama tak harmonis, ayah dan ibu Amalia baru resmi bercerai tahun 2009. Amalia dan kakaknya lah yang meminta ibunya mengajukan cerai karena sudah tidak tahan dengan perlakuan sang ayah.

Jauh sebelum itu, Amalia kecil pernah menyaksikan langsung ayahnya melakukan KDRT kepada ibunya. “Aku pulang sekolah itu, masih TK, masuk rumah lihat wajah ibuku sudah lebam, biru-biru gitu. Waktu kutanya, dia bilang habis jatuh. Beberapa bulan kemudian, pulang sekolah juga, aku lihat langsung bapakku mukul ibuku. Aku lari ke arah ibuku. Tahu aku lari ke arah ibuku, bapakku melempar ember ke arah kami,” ungkap gadis berjilbab itu.

Saat menceritakan peristiwa itu, mata Amalia tampak sedikit berkaca-kaca, tapi ia tetap melanjutkan ceritanya dengan lancar. Ekspresi itu tak mengherankan, pasalnya sejak melihat KDRT yang dilakukan ayah kepada ibunya, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak cengeng, apalagi di hadapan orang lain. Meski demikian, ia mengaku hingga kini sering menangis saat sendirian.

“Aku ngerasa keluargaku hancur, aku dari kecil nggak dapat kasih sayang. Sekolah ya disekolahin tapi nggak bener-bener dapat kasih sayang kayak anak-anak lain. Setelah cerai, ibuku jadi emosian, mungkin gara-gara tekanan. Dia harus cari uang untuk biaya hidup kami, ngurus aku dan masku sendirian, terus ngurus rumah,” ujar lulusan salah satu perguruan tinggi swasta kenamaan di DIY itu.

Amalia bukan satu-satunya anak dari keluarga bercerai yang pernah melakukan percobaan bunuh diri. Dian Yuanita Wulandari (27) juga melakukan tindakan serupa saat masih duduk di bangku kelas dua SMP. Seperti yang terjadi pada Amalia, percobaan bunuh diri itu ia lakukan lantaran merasa hidupnya tidak berarti.

“Mungkin karena aku memendam semua sendiri, soalnya orang tua cerai sejak aku umur 8 tahun. Waktu itu, udah waktunya pulang sekolah, tapi aku belum pulang. Silet yang bagian tumpul aku iriskan ke pergelangan tangan, udah luka itu,” terang Dian saat dihubungi Merdeka melalui sambungan telepon, Jumat (26/11).

Tidak hanya itu, dalam perjalanan pulang dari sekolah menuju rumah, Dian berharap bakal ditabrak kendaraan bermotor hingga meninggal dunia. Harapan tersebut muncul berulangkali.

“Aku pulang sekolah bersepeda, aku pengen ditabrak dan mati,” tutur anak sulung dari dua bersaudara itu.

Pikiran bunuh diri itu terus mengganggu Dian hingga ia berstatus sebagai mahasiswi Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Saat kuliah, ia tidak lagi menyayat pergelangan tangan atau berharap meninggal ditabrak kendaraan bermotor. Gadis berjilbab itu memilih menenggak obat melebihi dosis yang ditentukan dengan harapan bakal keracunan lalu meninggal dunia.

Kini, Dian sudah menikah dan memiliki seorang anak. Ide untuk bunuh diri kadangkala masih muncul dalam pikirannya, namun ia tak pernah benar-benar melakukannya.

“Kondisinya kan udah berbeda, aku punya anak, itu source of my power,” ungkapnya.

Kondisi Keluarga Picu Kondisi Mental Anak

      View this post on Instagram      

A post shared by Komunitas Inspirasi HAMUR (@hamurinspiring)

 

Meskipun sudah menunjukkan gejala gangguan psikologis sejak SMP, Dian baru berani mengakses bantuan ahli saat ia dewasa. Pada 2016 silam, ia menemui psikolog dan didiagnosa mengidap PTSD (Post Traumatic Stress Disorder), gangguan kecemasan yang membuat penderitanya teringat kejadian traumatis.

Dian mengaku mengalami kesedihan mendalam sejak orang tuanya bercerai. Keluarga yang awalnya tinggal bersama dalam satu rumah harus berpisah. Ia dan adik perempuannya tinggal bersama ibunya di Kota Surakarta, Jawa Tengah. Sementara ayahnya tinggal di kota lain.

Sejak perceraian kedua orang tuanya, Dian semakin jarang bertemu sang ayah. Bahkan, pernah hingga 10 tahun lamanya ia tidak mengetahui kabar ayahnya.

“Orang tua berpisah dan banyak kejadian traumatis yang aku nggak bisa cerita ke publik ya, yang sangat bikin aku frustasi. Aku sering banget pengen mati aja,” ujarnya.

Setiap kali ada hal yang memicu traumanya, Dian remaja bisa melakukan hal-hal tak terduga. Ia menyakiti diri sendiri atau mengalami perubahan perilaku. Jika sudah demikian, muncul ide bunuh diri dalam pikirannya. Ritme itu berulang terus setidaknya sampai ia jadi mahasiswi semester empat pada 2014 silam.

Berbeda dengan Amalia dan Dian, Indah Wulandari (21) tak berasal dari keluarga bercerai. Hingga kini kedua orang tuanya masih terikat pernikahan dan tinggal bersama di salah satu kabupaten di Jawa Tengah. Meski demikian, sudah lama kondisi keluarganya tak harmonis.

Indah menuturkan, sepekan sebelum ujian nasional (UN) SMP, sang ayah mengusir ia dan ibunya dari rumah. Sebelum peristiwa nahas itu, ayah dan ibunya bertengkar hebat. Pertengkaran berujung pengusiran itu, terang Indah, merupakan puncak gunung es dari permasalahan-permasalahan sebelumnya. Selama sekitar 1,5 tahun berikutnya, ayah dan ibunya tinggal terpisah.

“Aku nggak bisa merasakan fungsi keluarga itu gimana, beberapa kali pihak ketiga masuk ke keluarga,” ujar mahasiswi semester lima Program Studi Pariwisata Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM itu.

Permasalahan keluarga itu berdampak pada kondisi mental Indah. Saat kelas satu SMA, anak bungsu dari dua bersaudara itu sering masuk rumah sakit. Setidaknya, sebulan sekali selama sekitar enam bulan berturut-turut, Indah harus dirawat di rumah sakit. Padahal pemeriksaan kesehatan menunjukkan fisiknya baik-baik saja.

“Semester dua kelas satu SMA, dalam sebulan itu udah pasti satu minggu di rumah sakit, satu minggu bed rest, satu minggu di rumah, satu minggu di UKS. Aku mual muntah tanpa diagnosa masalah kesehatan sama sekali,” ungkapnya saat ditemui di salah satu kafe di bilangan Jalan Affandi, Kota Yogyakarta, Senin (22/11) siang.

Setahun berikutnya, Indah memutuskan menemui psikiater. Saat itulah ia tahu penyebabnya berkali-kali masuk rumah sakit. Ia didiagnosa mengidap bipolar dan PTSD.

“Aku punya trauma sangat besar. Aku memutuskan menjalani pengobatan mental tanpa sepengetahuan mama. Aku jualan, nyisihin uang untuk datang ke psikiater,” ungkap Indah.

Sebelum diagnosa itu, Indah menyadari dirinya sering cemas berlebihan (panic attacks), mengalami perubahan emosi sangat cepat (mood swing), hingga menyakiti diri sendiri (self harm) dengan melakukan tindakan yang mengancam nyawanya.

Mengaku takut darah, Indah justru pernah menyayat pergelangan tangannya. Ia juga pernah nekat mengendarai motor dengan mata tertutup dan berharap bakal mengalami kecelakaan.

“Aku takut darah tapi butuh pelampiasan. Kalau mental terganggu, orang nggak tahu apa yang dia rasain. Butuh tempat pelampiasan untuk cari tahu di mana sih rasa sakitnya,” kata Indah mengungkap alasannya.

Alami Perundungan di Sekolah

ketua komunitas inspirasi hamur indah wulandari

©2021 Merdeka.com/Rizka Nur Laily Muallifa

Kondisi keluarga tak harmonis atau bercerai alias broken home tidak hanya membuat Amalia, Dian, dan Indah tumbuh tanpa pengasuhan optimal dan kasih sayang utuh dari kedua orang tuanya. Di luar rumah, mereka kerap menjadi sasaran empuk perundungan karena statusnya sebagai anak broken home.

“Waktu SMA, pernah ada temanku bilang kalau ibunya melarang dia berteman dengan anak yang keluarganya bermasalah,” tutur Amalia.

“Aku pernah disoraki teman-temanku, Dian nggak punya bapak, Dian nggak punya bapak,” terang Dian.

Senada, teman-teman Indah memandang dia sebagai anak broken home yang hancur. “Oh emang ya dia rangking 31 dari 32 karena suasana rumahnya nggak harmonis, makanya dia sakit-sakitan, stres,” kata Indah menirukan ungkapan teman-temannya di sekolah.

Bahkan, oknum guru di sekolah Indah tak luput jadi pelaku perundungan. Saat berpapasan misalnya, ada guru melontarkan pertanyaan yang menyakiti hatinya.

“Kalau papasan banyak pertanyaan, kamu sekarang ikut papamu sama yang baru atau ikut mamamu, gimana kelanjutan masalah kemarin, kayak gitu pertanyaan mereka” demikian Indah menirukan pertanyaan oknum guru di sekolahnya.

Psikolog Puskesmas Gamping, Kabupaten Sleman, Jefri Reza (30) mengungkapkan, perundungan di sekolah memperparah kondisi mental anak-anak dari keluarga broken home.  Perundungan menyebabkan anak-anak ini merasa semakin tidak berarti.

“Sekarang banyak sekolah dan lingkungan anti-bullying, tapi masalah itu sudah telanjur ada sejak dulu. Maka, harusnya tidak hanya jadi slogan. Sekolah perlu memberikan pendidikan karakter, memberi edukasi tentang kesehatan mental remaja. Harus benar-benar ada kurikulumnya di sekolah. Kita harus potong masalah bullying ini dari akarnya,” tuturnya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Selasa (30/11).

Sementara itu, di lingkungan rumah, anak-anak broken home ini juga mengalami perundungan oleh para tetangga. Acapkali perundungan justru dilakukan orang-orang dewasa.

Orang tua tunggal sekaligus pendiri komunitas single parent Spinmotion Indonesia, Yasin Malenggang (48) menceritakan perundungan yang dialami anaknya. Ada tetangga yang kerap melontarkan kata-kata menyinggung kepada anak sulungnya yang saat itu baru 10 tahun.

“Kok ayahmu belum nikah lagi. Waktu anakku menjawab bahwa dia nggak mau punya ibu tiri, tetangga ini malah memojokkan dia. Tetangga ini bilang ke anakku, kasihan bapakmu, dia butuh ada yang mengurus, yang menemani. Padahal itu kan hak anak untuk tidak mau punya ibu tiri. Hal-hal semacam ini akan membekas terus dalam ingatan anak broken home,” ungkap Yasin saat ditemui di Kota Yogyakarta, Kamis (2/12). 

Menurut Yasin, perundungan yang dilakukan orang-orang di sekitar menimbulkan trauma tersendiri dalam diri anak-anak broken home. Menambah panjang daftar trauma yang disebabkan perceraian kedua orang tuanya. Pada tingkat ekstrem, akumulasi trauma itu memicu anak dari keluarga broken home melakukan percobaan bunuh diri.

Menghalau Ide Bunuh Diri

komunitas be home indonesia

©2021 Merdeka.com/Dok. Chatreen Moko

Percobaan bunuh diri yang dilakukan anak-anak broken home tak bisa disepelekan. Penelitian yang dilakukan ahli seperti McDermott, Moorison Offord, Westmann, dan Frank Kalter menunjukkan bahwa remaja yang orang tuanya bercerai cenderung menunjukan perilaku nakal, mengalami depresi, terjerumus seks bebas, memiliki kecenderungan mengonsumsi obat-obat terlarang, hingga melakukan percobaan bunuh diri.

Organisasi kesehatan dunia, WHO (World Health Organization) menyebut bunuh diri sebagai isu sangat serius. Berdasarkan laporan WHO, pada 2019 silam, secara global bunuh diri menjadi penyebab kematian tertinggi keempat pada usia 15-29 tahun. Pada rentang usia itu pula, Amalia, Dian, dan Indah melakukan percobaan bunuh diri.

Relawan di Pusat Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak Korban Kekerasan Rekso Dyah Utami (RDU) Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) DIY, Martanti Endah Lestari (45) mengungkapkan, sejak 2013 hingga awal Desember 2021 pihaknya mendampingi sekitar 120 anak broken home sekaligus korban kekerasan. Dari jumlah tersebut, delapan di antaranya pernah melakukan percobaan bunuh diri.

“Rata-rata mereka melakukannya saat SMP, usia 13 sampai 17 tahun. Itu usia-usia penuh tantangan, energinya lebih,” jelas Tata, sapaan akrab mantan ketua SOS Children Village Kota Yogyakarta itu.

Alumnus Magister Psikologi Profesi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Jefri Reza menjelaskan, jauh sebelum remaja memutuskan melakukan percobaan bunuh diri, ia telah mengalami berbagai gejolak psikologis.

“Saat tahu orang tua bertengkar sampai kemudian bercerai, anak punya kecenderungan menyalahkan dirinya sendiri, bertanya-tanya apakah dia yang membuat kedua orang tuanya berpisah,” terangnya.

Selanjutnya, kata Jefri, saat orang tuanya resmi bercerai, anak akan mengalami berbagai dampak, di antaranya sensitif terhadap penolakan, mengurung diri atau sebaliknya aktif mengekspresikan diri.

“Kalau anak ini dapat lingkungan baik, menemukan teman atau keluarga yang baik dan mendukung dia, maka dia bisa mengelola perasaan atau terhindar dari merasa ditolak. Terkait pembentukan kepribadian, dia bisa punya kepribadian cemas menghindar, atau malah perfeksionis karena di masa lalu merasa diterima orang lain saat melakukan hal baik. Dia nggak mau melakukan kesalahan karena takut tidak diterima orang,” imbuhnya.

Menurut Jefri, munculnya opsi bunuh diri pada anak broken home disebabkan ia tidak memiliki keterampilan mengatasi masalah pascaperceraian orang tuanya. Mereka kehilangan role model.

“Kalau nggak punya pustaka tentang bunuh diri, dia menyakiti diri sendiri. Beberapa ada yang merasa lega, merasa impas karena orang lain di luar memandang dia negatif jadi sudah sewajarnya dia berdarah-darah. Ada yang dapat ide (bunuh diri) dari nonton film korea, dari beberapa artis yang meninggalnya bunuh diri. Mereka awalnya mendengar dulu, tahu informasi dari luar dulu,” jelas laki-laki berkacamata itu.

Lebih lanjut, psikolog puskesmas itu menegaskan, pada dasarnya perceraian tidak baik bagi perkembangan anak. Namun, apabila itu sudah menjadi keputusan final, orang tua sebaiknya memperhatikan hal-hal berikut ini.

Pertama, memberi pengertian kepada anak bahwa perceraian orang tuanya bukan sesuatu yang mereka inginkan. Anak-anak perlu diberi penjelasan bahwa perceraian hanya memutus ikatan suami-istri, bukan ayah-ibu. Sehingga anak tetap bisa menjalin komunikasi seluas-luasnya dengan ayah dan ibunya.

Kedua, pascaperceraian kedua orang tua tetap wajib memberi kasih sayang penuh pada anak. Orang tua juga tidak boleh menyalahkan satu sama lain di hadapan anak. Hal itu bisa menimbulkan dampak panjang di belakang, termasuk membentuk pandangan anak mengenai pernikahan dan memengaruhi kecenderungan seksual si anak.

Ketiga, orang tua perlu melakukan komunikasi partisipatif dengan anak. Orang tua harus bisa berperan sebagai teman bagi anak sehingga mereka nyaman untuk mengungkapkan perasaannya.

Dian Yuanita Wulandari mengaku beban hidupnya lebih ringan saat ia pertama kali berani menceritakan latar belakangnya sebagai anak broken home di sebuah forum kemahasiswaan di kampusnya. Alih-alih mendapat penolakan seperti yang selama ini ia takutkan, Dian justru mendapat dukungan dari teman-temannya.

Hidup Lebih Berarti

infografis anak broken home jaga kesehatan mental

©2021 Merdeka.com/Rizka Nur Laily Muallifa

Pada Agustus 2015, Dian bersama dua kawan di kampusnya menginisiasi Komunitas Inspirasi Hamur untuk mewadahi anak-anak broken home. Kini, anggotanya berjumlah ratusan dan tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Mereka aktif saling berbagi cerita seputar kehidupan sebagai penyintas broken home di grup Line dan Instagram.

“Waktu itu kami melihat akan bagus kalau ada forum yang mewadahi teman-teman broken home. Jadi punya support system yang mendukung kami menghadapi lika-liku hidup lebih berat dari keluarga yang bukan broken home,” tutur ibu satu anak itu.

Ketua Komunitas Inspirasi Hamur, Indah Wulandari menuturkan, di komunitas tersebut ia menemukan banyak anak broken home yang berprestasi. Satu nama yang ia sebut pertama adalah Dian Yuanita Wulandari, pendiri Komunitas Inspirasi Hamur.

Pascaperceraian orang tuanya, kondisi ekonomi keluarga Dian limbung. Ibunya banting tulang kerja serabutan untuk membiayai hidup Dian dan adiknya. Berkaca pada kenyataan itu, Dian tidak berharap bisa mengenyam pendidikan tinggi. Namun nasib berkata lain, ia mendapat beasiswa berkuliah di Fakultas Kehutanan UGM. Bahkan, kini saat ia sudah berumah tangga dan memiliki buah hati, ia melanjutkan pendidikan Magister Manajemen Agribisnis UGM berkat beasiswa LPDP Kementerian Keuangan.

Indah sendiri mengaku pernah mendapat IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) hampir sempurna. “Saya awalnya juga nggak nyangka padahal dulu di SMA pernah rangking dua terakhir. Sampai sekarang Puji Tuhan IPK-ku selalu di atas 3,5,” tuturnya sambil tertawa.

Merdeka menghubungi pendiri Komunitas Broken Home Indonesia atau yang lebih dikenal dengan nama Be Home Indonesia, Chatreen Moko (27) untuk mendengar kisahnya membentuk komunitas anak broken home yang paling banyak dibicarakan di Indonesia.

“Tahun 2012, sekitar sembilan tahun lalu aku bikin akun twitter anonim untuk mengeluarkan unek-unekku tanpa diketahui orang lain, untuk memaki orang tua. Itu titik terendahku, aku merasa sendiri, kehilangan keluarga,” tutur Moko, sapaan akrabnya, saat dihubungi melalui aplikasi video conference Zoom, Sabtu (4/12) malam.

Tak disangka, akun twitter itu justru mendapat sambutan baik, jumlah pengikutnya terus bertambah. Ia menerima banyak kisah dari anak-anak broken home. Peristiwa itu menjadi titik balik Moko, ia kemudian bertekad menggunakan akun twitter tersebut untuk lebih banyak mengunggah informasi-informasi positif terkait isu broken home.

“Perceraian punya dua dampak, positif dan negatif, tinggal mau pilih yang mana. Aku kayaknya lebih ke yang positif. Aku merasa melalui perceraian orang tuaku, aku dipilih Tuhan untuk merangkul adik-adik dari keluarga broken home agar tidak mengalami hal sepertiku dulu (punya ide bunuh diri, red),” ungkap penulis buku Menata Luka (Grasindo, 2017) itu.

Menurut anak bungsu dari lima bersaudara itu, pascaperceraian jika orang tua tetap bisa berperan sebagai ayah dan ibu yang baik, maka bisa dipastikan tidak ada anak-anak broken home.

“Yang bikin jadi broken home karena setelah bercerai orang tua saling menyalahkan, saling menjelekkan. Itu memicu trauma tersendiri pada diri anak,” imbuh gadis kelahiran Luwu Timur, Sulawesi Selatan itu.

Di sisi lain, baik Moko maupun Dian tak menampik bahwa perceraian orang tua ada kalanya menyebabkan anak-anak terjerumus pergaulan menyimpang seperti  mengonsumsi narkoba dan seks bebas. Khusus di DIY, Ketua Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak Kecamatan Prambanan, Sleman, Yasin Malenggang menuturkan bahwa anak-anak broken home memiliki peluang lebih besar menjadi pelaku klitih atau kekerasan yang menyasar pengguna jalan secara acak.   

Lebih lanjut, harapan Moko, Dian, Indah, dan Amalia berikut ini kiranya mewakili harapan seluruh anak broken home di Indonesia.

“Kami cuma pengen dianggap seperti manusia pada umumnya, kami hanya butuh dukungan. Jangan hanya karena kami dari keluarga broken home, stigma bahwa kami anak yang buruk dan tidak punya masa depan diberikan terus menerus,” tutur Moko.

Dian menuturkan, praktik sederhana tapi esensial yang bisa dilakukan masyarakat untuk mendukung anak-anak broken home adalah dengan tidak menyebutnya sebagai korban perceraian.

“Kita tidak bisa memilih dilahirkan dari keluarga seperti apa, yang bisa dilakukan anak-anak broken home sepertiku hanya menerima dan menjalani. Saat aku disebut korban, aku merasa ada afirmasi negatif, seperti aku teraniaya, nggak bisa ngapa-ngapain, menerima begitu aja. Berbeda saat kami disebut penyintas, pejuang, survivor. Itu jadi afirmasi positif, kami mendapat musibah lalu bagaimana cara kami melewati, bertahan, berdaya juang sampai menemukan versi terbaik diri kami,” ungkap Dian.

Dian mengaku bahwasanya keberadaan Komunitas Inspirasi Hamur yang ia gagas bersama temannya enam tahun lalu punya andil tersendiri membentuk dirinya sekarang. Berbagi cerita dengan sesama anak broken home, kata Dian, membuatnya merasa tidak sendiri dan memiliki support system. Melalui komunitas itulah, para anggota yang terdiri dari para penyintas broken home baik anak-anak maupun orang tua saling mentransfer dukungan.

Sementara itu, hingga kini, setiap hari akun media sosial Be Home Indonesia menerima puluhan hingga ratusan kisah dari anak-anak broken home dari seluruh Indonesia. Be Home Indonesia sendiri memiliki layanan Mancur, akronim dari Teman Curhat. Siapapun bisa mencurahkan isi hatinya dan melakukan konseling gratis dengan psikolog melalui aplikasi WhatsApp. Seperti visinya, A Place That Can Be Home for Everyone, Be Home Indonesia berharap bisa menjadi rumah pulang penuh cinta dan kasih bagi anak-anak broken home.

Tulisan ini menjadi bagian dari Program Beasiswa Peliputan Jurnalisme dan Trauma yang diselenggarakan oleh AJI Indonesia, DW Akademie, dan Kementerian Luar Negeri Jerman.

 

 

(mdk/rka)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP