Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Mengenal Biskuit Sardjito, Makanan Berkhasiat Prajurit Serangan Umum 1 Maret 1949

Mengenal Biskuit Sardjito, Makanan Berkhasiat Prajurit Serangan Umum 1 Maret 1949 Biskuit Sardjito. ©YouTube/Universitas Gadjah Mada

Merdeka.com - Serangan Umum (SO) 1 Maret 1949 merupakan peristiwa sejarah yang sulit dilupakan. Banyak kisah di balik peristiwa yang membuka mata dunia akan perjuangan Bangsa Indonesia melawan Penjajah Belanda itu.

Salah satunya adalah kisah tentang khasiat sebuah makanan bernama Biskuit Sardjito. Biskuit yang dibuat oleh seorang dokter dari Pasteur Institute bernama Dr. M. Sardjito itu konon bisa membuat para prajurit yang bertempur di medan perang SO 1 Maret tahan lapar selama seharian.

Lalu seperti apa cerita di balik makanan berkhasiat itu? Berikut selengkapnya:

Kesaksian Prajurit tentang Biskuit Sardjito

biskuit sardjito

©YouTube/Universitas Gadjah Mada

Shamdy, salah satu prajurit pada saat peristiwa SO 1 Maret mengatakan sebelum serangan itu dimulai, para tentara dikumpulkan terlebih dahulu di daerah Godean. Di sana mereka diberi briefing mengenai strategi dan lain sebagainya. Di saat itulah Dr. Sardjito datang memberikan biskuit pada para prajurit sebanyak satu kantong, serta satu kantong lagi berisi nasi aking.

“Biskuitnya bentuknya seperti bakpia kecil-kecil itu. Setelah makan bakpia itu, lalu minum, perut terasa kenyang dan besar. Untuk jalan, untuk lari, pokoknya kekuatan itu berlipat-lipat ganda dan energi penuh,” kata Shamdy dikutip dari kanal YouTube Universitas Gadjah Mada pada 1 Maret 2018.

Sosok Dr. Sardjito

biskuit sardjito

©YouTube/Universitas Gadjah Mada

Seperti diketahui, Dr. Sardjito merupakan sosok yang disegani pada saat itu bahkan hingga kini. Sebelum terlibat dalam peristiwa SO 1 Maret, ia juga pernah terlibat dalam peristiwa Bandung Lautan Api. Saat itu ia menjabat sebagai Kepala Laboratorium Pasteur. Saat peristiwa Bandung Lautan Api, ia mengamankan vaksin cacar dengan menggunakan kerbau sebagai wadahnya.

Saat itu, ia menorehkan vaksin cacar tersebut ke dalam tubuh hewan itu. Kerbau lalu dibawa dari Bandung hingga Klaten. Sampai di tujuan, hewan itu disembelih dan kemudian diambil limpanya untuk kembali memperoleh vaksin tersebut.

Setelah masa revolusi, ia pernah menjabat sebagai Rektor UGM pada tahun 1950-1961, lalu Rektor UII tahun 1964-1970. Ia meninggal dunia pada 5 Mei 1970 pada usia 80 tahun.

(mdk/shr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP