Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Serangan Umum 1 Maret 1949: Di Mata Anak Buah, Soeharto Seolah Anti Peluru

Serangan Umum 1 Maret 1949: Di Mata Anak Buah, Soeharto Seolah Anti Peluru Soeharto. ©repro Museum Purna Bhakti Pertiwi

Merdeka.com - Pencitraan Soeharto sebagai pemimpin yang baik selama era revolusi sempat digugat oleh salah satu mantan anak buahnya. Namun gugatan itu segera dibantah oleh orang-orang yang pernah menjadi pengawalnya selama bergerilya melawan Belanda.

Penulis: Hendi Jo

Dalam novel Merdeka Tanahku Merdeka Negeriku, penulis Purnawan Tjondronegoro selalu memunculkan figur Letnan Kolonel Soeharto (Komandan Brigade X) sebagai seorang pimpinan yang kharismatik, pemberani dan selalu bersama anak buahnya dalam situasi apapun.

Hal yang sedikit berbeda terbuhul dalam buku Serangan 1 Maret 1949 atau 6 Jam di Yogyakarta dan buku Pledoi Kol. A. Latief: Soeharto Terlibat G30S karya A. Latief.

Pada kedua buku tersebut, Latief yang saat itu berpangkat kapten dan ada di bawah komando Soeharto, menyebut Soeharto tak selalu ada bersama anak buahnya. Bahkan saat Serangan Umum 1 Maret 1949, Latief mengaku telah mendapatkan Soeharto tengah makan soto babat di Desa Kuncen.

Padahal saat itu anak buahnya sedang bertarung hebat dengan tentara Belanda dan banyak yang gugur. Termasuk pasukan Latief sendiri yang hanya tersisa sepuluh orang.

Soal itu dibantah oleh anak buah langsung dari Soeharto. Salah satu yang membantah adalah adalah Mayor (Purn) Sujud, mantan pengawal Komandan Brigade X. Pada 1984, Sujud memberi kesaksian kepada jurnalis sejarah bernama T. Wedy Utomo.

"Dia mengikuti pertempuran yang dipimpin langsung oleh Pak Harto ketika Serangan Umum 1 Maret 1949," ungkap T.Wedy Utomo dalam Kisah-Kisah Perjuangan Perang Kemerdekaan 1945-1949.

Menurut Sujud yang saat itu berpangkat sersan, di hari yang penting tersebut, dirinya dan Soeharto masuk ke Yogyakarta langsung dari jurusan barat ke timur sampai masuk ke daerah Patuk dan Malioboro. Bersama mereka berdua ikut pula beberapa prajurit lain.

"Jumlahnya tidak begitu besar. Tapi oleh beliau telah diambil prajurit-prajurit pilihan yang tidak kepalang tanggung," kenang Sujud.

Soeharto Seolah Anti Peluru

Dengan kekuatan hanya satu peleton itu, Soeharto memimpin sendiri sebuah serangan pancingan terhadap kedudukan tentara Belanda di sekitar Jalan Wates.

Berjam-jam lamanya pada siang hari, Soeharto terus memimpin pertempuran langsung di garis depan. Hingga menjelang sore, dia memerintahkan pasukan TNI yang telah tersebar di dalam kota Yogyakarta untuk mundur ke jurusan masing-masing sesuai arah kedatangan mereka.

Menurut Sujud, ada kejadian unik saat Soeharto memimpin serangan di siang bolong itu. Kendati dia dihantam secara gencar oleh peluru-peluru tajam serdadu Belanda, namun benda maut itu tak satu pun berhasil menembus tubuhnya.

"Orang boleh percaya dan boleh juga tidak. Tetapi saya berani bersumpah selaku prajurit bahwa waktu itu Pak Harto seperti anti peluru," ujar Sujud.

Semua anak buahnya, kata Sujud, menyaksikan pemandangan aneh itu. Tentu saja mereka sejenak terperangah. Namun sekilas Sujud melihat dalam pertempuran itu, Soeharto tak pernah melepaskan jimatnya yang berupa cemeti di pinggangnya.

Barulah dia maklum, jika komandannya ternyata memiliki 'senjata lain yang mumpuni' dibanding Owen, pegangan Soeharto yang merupakan bikinan Australia itu.

Kyaine, Panggilan untuk Soeharto

Soeharto juga dikenal sangat dekat dengan anak buahnya. Sewaktu bermarkas di Desa Bibis, dia sengaja tak menempati kamar sendiri namun berbaur dengan seluruh bawahannya.

"Beliau setiap malam selalu tidur bersama-sama dengan anak buah: berjejer seperti barisan ikan bandeng," ungkap Mayor (Purn) Maya Retna, eks perwira intel Brigade X.

Maya juga masih ingat, Soeharto memiliki panggilan akrab di kalangan anak buahnya yakni 'kyaine'. Sejatinya istilah tersebut sering dipakai orang Jawa sebagai 'panggilan sayang' untuk seekor harimau agar dia tak mengamuk.

Bagi anak buahnya, Soeharto yang pendiam tetapi selalu tegas dan agak galak itu memang laiknya seekor harimau. Jika memberi tugas, maka tidak ada yang bisa ditawar-tawar lagi, mutlak harus dikerjakan. Kalau tidak? Anak buahnya yang tidak menjalankan perintah tersebut akan mendapat hukuman keras, minimal dijemur di bawah terik matahari selama empat jam.

(mdk/noe)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP