Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Menelisik Pesona Candi Cetho, Peninggalan Majapahit yang Eksotik

Menelisik Pesona Candi Cetho, Peninggalan Majapahit yang Eksotik Candi Cetho. ©Portrait of Indonesia

Merdeka.com - Keruntuhan Kerajaan Majapahit meninggalkan jejak di berbagai tempat. Tak hanya di pusat pemerintahannya di Jawa Timur, peninggalan itu juga ditemukan di Jawa Tengah.

Salah satunya adalah Candi Cetho. Lokasi Candi Cetho berada di lereng Gunung Lawu, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Karanganyar. Bersama Candi Arjuna di Dieng, Candi Cetho termasuk candi yang letaknya tertinggi di tanah Jawa, yaitu berada di 1.496 mdpl.

Tak hanya itu, dari bangunan ini, wisatawan bisa melihat pemandangan yang sangat eksotik. Lantas seperti apa pesona tersembunyi dari bangunan tua ini? berikut selengkapnya:

Tempat Peruwatan

009 isn

©Portrait of Indonesia

Dilansir dari Indonesiakaya, Candi Cetho diperkirakan selesai dibangun pada tahun 1475 M atau 1397 Saka. Fakta sejarah ini diketahui berdasarkan prasasti yang ditulis dengan huruf Jawa Kuno di dinding gapura.

Prasasti itu bertuliskan “Pelling padamel irikang buku tirtasunya hawakira ya hilang saka kalanya wiku goh anaut iku 1397” yang dapat diartikan sebagai peringatan pendirian tempat peruwatan atau tempat pembebasan diri dari kutukan pada tahun 1397 saka.

Penemuan Candi Cetho

004 isn

©Portrait of Indonesia

Dilansir dari Wikipedia.org, Candi Cetho ditemukan pertama kali oleh Van de Vlies pada tahun 1842. Eskavasi untuk kepentingan rekonstruksi dilakukan pertama kali pada tahun 1928. Candi ini diperkirakan berusia tidak jauh berbeda dengan Candi Sukuh yang lokasinya cukup berdekatan.

Saat pertama kali ditemukan, bentuk candi ini hanyalah berupa reruntuhan batu. Reruntuhan itu cukup banyak jumlahnya dan ditemukan pada 14 teras bertingkat.

Setelah pada era Belanda, pemugaran dilakukan lagi pada tahun 1970. Pada masa ini, pemugaran Candi Cetho banyak dikritik oleh pakar arkeologi karena dianggap tidak didasari penelitian yang mendalam. Apalagi di sekitarnya telah ditambah objek baru yang dianggap tidak asli seperti gapura megah, bangunan kayu tempat pertapaan, serta patung-patung yang dinisbatkan sebagai Sabdapalon, Nayagendong, Brawijaya V, phallus, serta bangunan kubus pada bagian puncak punden.

Susunan Teras Candi Cetho

006 isn

©Portrait of Indonesia

Dilansir dari Goodnewsfromindonesia.id, kawasan Candi Cetho memiliki struktur yang berteras-teras atau punden berundak. Setiap halaman candi terhubung oleh pintu masuk dan jalan setapak. Di teras pertama, terdapat bangunan tanpa dinding yang di dalamnya ada susunan batu untuk menaruh sesaji dan sepasang arca Nyai Agni.

Pada teras kedua, terdapat susunan batu membentuk garuda terbang. Di bagian punggung patung garuda itu terdapat susunan batu yang membentuk kura-kura dan di atas kepalanya terdapat susunan batu berbentuk matahari bersinar, segitiga sama kaki, dan arca Kalacakra atau kelamin laki-laki.

Teras Ketiga Sampai Kesembilan

002 isn

©Portrait of Indonesia

Di teras ketiga terdapat susunan batu membentuk segi empat dan di dindingnya terdapat relief dengan tema Kidung Sudamala bergambar hewan dan manusia. Di teras keempat, pengunjung bisa melihat sepasang arca Bima yang tampak sedang memegang tangga batu menuju teras kelima. Di teras kelima, terdapat sepasang bangunan yang disebut pendapa luar.

Lanjut ke teras keenam, terdapat arca Kalacakra dan sepasang arca Ganesha. Di teras ketujuh, ada halaman yang dikelilingi dinding batu dan terdapat pendapa dalam. Baru di teras kedelapan, terdapat ruang untuk bersembahyang. Teras kesembilan digunakan untuk menyimpan benda-benda kuno, seperti arca Sabdapalon dan Nayagendong.

Wisatawan Wajib Kenakan Kain Kampuh

007 isn

©Portrait of Indonesia

Sementara di teras kesepuluh ada arca Prabu Brawijaya, arca Kalacakra, dan tempat penyimpanan pusaka Empu Supa, seorang pembuat senjata pusaka yang dihormati. Lalu di teras kesebelas, ada pesanggrahan Prabu Brawijaya. Dan di bagian teratas, ada bangunan yang di masa lalu digunakan untuk membersihkan diri sebelum melakukan ritual ibadah. Untuk memasuki kompleks Candi Cetho, wisatawan wajib menggunakan kain kampuh atau poleng. Selama di sana pula, wisatawan wajib mengikuti aturan yang berlaku, menjaga kebersihan, serta tidak merusak fasilitas di bangunan kuno itu.

(mdk/shr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP