Jadi Cikal Bakal Masjid Agung Demak, Ini Sejarah Masjid Wonokerso di Wonogiri
Merdeka.com - Bangunan masjid itu berbentuk unik. Seluruh dindingnya terbuat dari kayu. Bangunan itu berdiri di atas batu umpal sebagai alas pilar-pilar bangunan. Di bagian belakang terdapat bangunan tembok yang ukurannya lebih luas.
Saat hendak memasuki waktu salat, suara bedug terdengar berkali-kali dari bangunan itu. Kemudian, suara azan dari masjid kuno berukuran sekitar 7x7 meter itu terdengar lantang.
Melansir dari Jatengprov.go.id, bangunan bernama Masjid Tiban Wonokerso itu terletak di Desa Sendangrejo, Kecamatan Baturetno, Wonogiri. Konon masjid itu merupakan cikal bakal Masjid Agung Demak yang keberadaannya sudah ada pada era Wali Songo.
Lalu bagaimana sejarah masjid itu? Berikut selengkapnya:
Sudah Ada Sejak Era Wali Songo

©jatengprov.go.id
Takmir Masjid Tiban Wonokerso, Slamet Zainudin, mengatakan bahwa keberadaan masjid ini tidak lepas dari peran Wali Songo. Waktu itu, para penyiar Islam di tanah Jawa itu hendak membangun Masjid Demak. Mereka sepakat untuk keluar dari Demak untuk menuju ke arah selatan. Dengan menggunakan rakit, mereka menuju daerah Pulung (Wonogiri) untuk mencari kayu hutan.
“Mereka ke timur dan menemukan Hutan Donoloyo. Lantas mereka mendirikan masjid ini yang kemudian dinamai Masjid Tiban,” kata Slamet dikutip dari Jatengprov.go.id pada Jumat (15/4).
Sempat Terbengkalai

©jatengprov.go.id
Waktu itu, para Wali Songo menjadikan Hutan Donolayu sebagai tempat untuk mencari kayu buat pembangunan Masjid Demak setelah sebelumnya sempat bermunajat kepada Allah SWT. Ternyata benar, di hutan itu terdapat kayu jati yang sangat kuat dan cocok untuk pembangunan Masjid Agung Demak. Seiring dengan selesainya tugas mencari kayu itu, masjid tua itu ditinggalkan oleh para Wali Songo.
“Masjid ini terlantar karena sudah ditinggal oleh wali, kembali menjadi hutan belantara,” ungkap Slamet.
Ditemukan Kembali

©jatengprov.go.id
Setelah sekian lama hilang di tengah kegelapan hutan, keberadaan bangunan masjid ini ditemukan kembali pada era penjajahan Belanda. Waktu itu pecah perang antara Belanda dengan masyarakat. Raden Mas Said, atau Pangeran Sambernyawa yang ketika itu melakukan perlawanan bersembunyi di bawah bekas bangunan masjid itu.
“Waktu itu Raden Mas Said bala tentaranya sangat sedikit dan persenjataannya kurang lengkap. Sehingga ia lari ke selatan pojok dan bersembunyi di kolong. Setelah aman baru dia keluar. Ia lihat kanan kiri ternyata ada bangunan masjid yang tertutup ilalang rimbun,” kata Slamet.
Peran Pangeran Sambernyawa

©jatengprov.go.id
Setelah Raden Mas Said menjadi Raja Mataram dengan gelar Pangeran Sambernyawa, ia teringat kembali akan masjid tempat ia bersembunyi dari kejaran Belanda. Ia kemudian memerintahkan tiga orang utusannya untuk merawat bangunan itu dan membangun perkampungan di sekitarnya.
“Sampai akhirnya menjadi kampung. Hingga saat ini sudah gemah ripah karena tanahnya subur. Dinamakan Wonokerso karena hutan diizinkan oleh ratu atau raja,” terang Slamet dikutip dari Jatengprov.go.id.
Kondisi Masjid Kini

©jatengprov.go.id
Telah berusia hingga lima abad, bangunan masjid yang berdiri saat ini konon masih asli. Di dalam masjid tua itu terdapat empat tiang saka guru, satu mimbar, dan pintu ukuran pendek. Warga yang ingin masuk masjid pun harus merunduk.
“Pintunya kecil, kalau masuk rumah Allah harus merunduk atau hormat. Tempat imam lebih pendek artinya menguasai ilmu atau menep,” ujar Slamet.
Warto, juru pelihara masjid, mengatakan bahwa perawatan masjid kuno itu dilakukan seperti masjid-masjid pada umumnya. Sementara untuk perawatan kayu masjid, ia diberi bahan dari Dinas Purbakala Wonogiri. Bahan itu dicampur dengan air. Kayu digosok dengan air hingga bersih.
(mdk/shr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya