Mengunjungi Masjid Agung Demak, Saksi Bisu Penyebaran Islam di Pulau Jawa

Minggu, 3 Mei 2020 12:36 Reporter : Shani Rasyid
Mengunjungi Masjid Agung Demak, Saksi Bisu Penyebaran Islam di Pulau Jawa Masjid Agung Demak. ©kemendikbud

Merdeka.com - Masjid Agung Demak merupakan salah satu masjid tertua di Jawa Tengah. Masjid yang berada di pusat Kota Demak itu dulunya berkaitan erat dengan keberadaan Kerajaan Demak yang muncul pada akhir kejayaan Kerajaan Majapahit. Mengingat keberadaan Kerajaan Demak yang menjadi kerajaan Islam pertama di Jawa, peran Masjid Agung Demak sangat penting sebagai pusat penyebaran agama Islam.

Pada saat permulaan penyebaran Agama Islam di Tanah Jawa, masjid ini menjadi tempat berkumpulnya para wali penyebar agama Islam di tanah Jawa yang terkenal dengan sebutan “ Wali Songo”.

Pendiri masjid ini adalah Raden Patah yang tidak lain merupakan sultan pertama Kerajaan Demak yang memerintah sekitar abad ke-15 Masehi.

2 dari 6 halaman

Pusat Penyebaran Agama Islam di Pulau Jawa

masjid agung demak

©kemendikbud

Masjid Agung Demak didirikan oleh Raden Patah bersama dengan para Wali Songo. Dilansir dari Kemendikbud.go.id, pembangunan masjid ini dimulai dari tahun 1477-1479 Masehi. Oleh Raden Patah, masjid ini dibangun dengan gaya khas Majapahit yang dapat dilihat dari bentuk atapnya.

Secara sekilas, atap bangunan itu berbentuk menyerupai bangunan peribadatan umat Hindu. Bentuk atap itu diyakini sebagai bentuk akulturasi dan toleransi masjid sebagai sarana penyebaran Agama Islam yang waktu itu berkembang di tengah masyarakat Hindu.

3 dari 6 halaman

Sebagai Bentuk Perlawanan Terhadap Majapahit

masjid agung demak©kemendikbud

Mustaka Masjid Demak yang berbentuk runcing merupakan simbol perlawanan dan keberanian Demak untuk menghadapi pasukan Majapahit. Pada waktu itu, tahta Majapahit telah jatuh ke tangan Prabu Girindrawardana dari Kediri. Waktu itu, Raden Patah yang merupakan anak dari Prabu Brawijaya merasa prihatin dengan kekuasaan ayahnya yang jatuh ke tangan Girindrawardana.

Bentuk keprihatinan itu diyakini terlihat dari sengkalan memet berbentuk bulus yang berada di mihrab Masjid Demak. Gambar bulus itu juga menandakan tahun berdirinya masjid tersebut.

4 dari 6 halaman

Menara Masjid Agung Demak

masjid agung demak©kemendikbud

Menara Masjid Agung Demak didirikan pada 2 Agustus 1932. Dilansir dari Demakkab.go.id, penggagas pendirian bangunan itu adalah KH Moh Abdoerrochman yang merupakan takmir Masjid Agung Demak waktu itu. Tujuan didirikannya menara itu tak lain adalah sebagai sarana muadzin dalam mengumandangkan azan.

Karena memiliki tinggi 22 meter, suara azan yang dikumandangkan waktu itu dapat terdengar dalam cakupan yang jauh dan luas. Selain itu, karena waktu itu belum ada listrik ataupun loudspeaker, muadzin menggunakan corong yang terbuat dari seng agar suara dapat keluar dengan lantang.

5 dari 6 halaman

Peninggalan-peninggalan di Halaman Masjid

masjid agung demak©kemendikbud

Di sudut tenggara masjid terdapat sebuah situs kolam. Kolam itu diyakini menjadi tempat berwudhu pada awal berdirinya masjid tersebut. Kini, situs kolam itu tidak dipergunakan lagi walaupun masih berada pada tempatnya seperti sedia kala.

Selain itu di halaman masjid ini pula terdapat makam raja Demak yaitu Raden Patah dan Pati Unus yang terkenal dengan julukan Pangeran Sabrang Lor.

6 dari 6 halaman

Museum Masjid Agung Demak

masjid agung demak©kemendikbud

Bila ingin melihat sejarah Masjid Agung Demak secara lengkap, wisatawan dapat mengunjungi Museum Masjid Agung Demak. Museum ini terletak di halaman pelataran masjid sebelah utara.

Dilansir dari Kemendikbud.go.id, beberapa koleksi peninggalan yang ada di museum ini di antaranya soko guru bangunan masjid yang rusak, bedug peninggalan Wali Songo, dua buah gentong dari Dinasti Ming, Pintu Bledeg buatan Ki Ageng Selo, dokumentasi foto-foto Masjid Agung Demak tempo dulu, dan masih banyak lagi.

[shr]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini