Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi meradang. Bakal mengirim aparat. Betapa tidak, ia mendapat cideo kiriman rumput Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) Bandung, Jawa Barat botak, dicongkel.
Parahnya, pelaku adalah Bobotoh, suporter Persib Bandung. Tak hanya rumput, Bobotoh yang merayakan kemenangan Persib juga menyayat jaring gawang di Stadion GBLA. Terdengar si perekam meminta agar rekannya itu dibawa ke barak militer. Namun, sambil tertawa. "Ayo Pak Dedi bawa ke barak, pak bawa ke barak," ucap si perekam.
Praktis Demul, panggilan Dedi naik pitam. "Saya tidak ada toleransi terhadap tindakan-tindakan yang mengarah pada kriminal, melakukan perusahaan terhadap fasilitas stadion yang kita banggakan," kata Dedi.
"Tunggu aparat akan segera datang menjemput untuk dilakukan klarifikasi dan pemeriksaan."
Kemarahan Demul terbilang wajar. Rumput maupun jaring gawang yang dirusak termasuk dalam fasilitas umum. Peruntukannya untuk umum, publik bukan perseorang. Jadi, sudah menjadi kewajiban tiap individu untuk menjaganya.
Tidak hanya di Bandung. Faktanya, sejumlah fasilitas umum (Fasum) di sejumlah tempat jauh dari kata layak. Tak terkecuali Jakarta. Contohnya di daerah Kebon Jeruk, Jakarta Barat tepatnya di Jalan Raya Perjuangan.
Di sana terdapat sebuah jembatan penyeberangan orang (JPO) di kawasan padat terlihat memprihatinkan. Di tengah hiruk-pikuk kota yang terus bergerak, fasilitas umum yang seharusnya menjadi penopang kenyamanan warga justru menampilkan wajah muram.
Advertisement
Terlihat atapnya berlubang di sana sini. Membahayakan penyeberang saat hujan mengguyur. Tidak hanya itu, tiang-tiang penyangga tampak rapuh, dan kawat pengaman di sisi kiri-kanan terurai tanpa fungsi.
Di sudut-sudutnya, grafiti tanpa makna dan tulisan kasar mencoreng dinding, menjadi simbol dari minimnya pengawasan dan perawatan.
Tangga berwarna hijau pun telah berubah warna menjadi hitam karena karat yang dibiarkan menahun.
Sejumlah warga masih terlihat menyeberang JPO itu. Rata-rata para pekerja di di daerah sekitar. Meski bisa digunakan, warga yang melewati merasa kurang nyaman.
"Seram, kalau jelang maghrib kayak angker, karena enggak kerawat, rusak semua, tapi mau gimana, lewat sini doang bisa nyeberang," ucap Aji ditemui di JPO Perjuangan, Jakarta Barat, Jumat (30/5).
Advertisement
Tak jauh dari JPO tersebut, kondisi halte bus bahkan lebih mengenaskan. Tanpa kursi tunggu dan dipenuhi karat, halte itu tak ubahnya rongsokan yang ditinggalkan. Semen-semen di halte itu terlihat rusak.
Di dekat halte, plang bus pun sudah copot. Terlihat digeletakkan di aspal dan belum ada perbaikan.
"Bukan cuma tidak nyaman. Kami seperti tidak dianggap ada, padahal masih ada orang yang nunggu angkutan umum, semoga diperbaiki pemerintah," ucap Yati salah satu warga yang menunggu angkutan umum.
Tak hanya JPO dan halte, plang-plang penunjuk jalan pun tak luput dari kerusakan. Salah satunya terlihat plang ruang publik terpadu ramah anak (RPTRA) Meruya Utara yang sudah miring.
Sebagian miring, sebagian lainnya bahkan kehilangan tanda gambar sepenuhnya. Ini menyulitkan warga maupun pengemudi yang tidak familiar dengan kawasan tersebut.