Umat Islam di Jakarta Timur (Jaktim) melaksanakan salat Iduladha depan Gereja Koinonia, Jalan Raya Matraman, Jatinegara, Kamis (29/6). Khatib Ramdansyah mengingatkan jemaah untuk menjauhi clicktivisme jelang Pemilu. Menurutnya, clicktivisme yakni aktivitas di media sosial dengan mendukung isu tertentu demi kepuasan pribadi tetapi berdampak politis lebih luas.
"Kecepatan tangan lebih cepat ketimbang akal kita. Itu harus tidak terjadi lagi, Kita adalah ulul albab, memiliki akal yang sempurna, mampu membedakan yang baik dan benar," kata Ramdansyah.
Pria yang pernah menjabat sebagai Ketua Panwaslu DKI Jakarta periode 2008-2012 ini melanjutkan, kecenderungan clictivisme ini pernah terjadi pada Pemilu 2019 dengan terbelahnya aktivitas sosial melalui sebutan kadrun dan cebong.
Pandangan atau berita yang sesuai dengan pemikiran atau ideologinya akan diteruskan ke banyak media sosial. "Padahal belum tentu kebenarannya. Itulah clicktivisme," terangnnya.
Dalam semangat Iduladha 1444 Hijriah, dia mengajak jemaah yang hadir untuk berhati-hati ketika ada informasi yang belum terkonfirmasi.
Dia mengutip Surat Al-Hujurat Ayat 6 yang berbunyi "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya, yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu."
"Berita hoaks dapat memecah belah umat. Padahal kita diminta untuk memperhatikan dan menghindari hoaks agar tidak pertarungan politik memecah belah di tahun politik 2023 2024," ujarnya.
Ramdansyah menegaskan setiap individu dapat merenungkan calon presiden yang terbaik sesuai hati nurani, tanpa harus menjelekkan calon yang lain. Siapa pun calon pemimpin pilihan rakyat, memiliki kelebihan dan kekurangan. Menerima kekurangan dan kelebihan adalah bagian pengorbanan untuk berbangsa dan bernegara.
"Kita akan menjadi ulul albab selama kita merenung, meneliti dan mengkaji pilihan politik dan diendapkan," tambahnya.
Ramdansyah berpesan untuk bertakwa kepada Allah dan rasulnya. Masyarakat diminta dapat menahan diri untuk tidak irasional. "Dengan semangat pengorbanan Nabi Ibrahim, kita melangkah maju untuk menjalan kesalehan sosial demi mencapai Indonesia yang adil dan makmur dengan lindungan dan rida Allah SWT," tegasnya.
Ketua Yayasan Al Mukarromah Koja Jakarta Utara ini juga berpesan agar seorang yang telah menunaikan haji tidak boleh berbohong, tidak boleh menipu dan harus menjadi tetangga yang baik.
"Seorang yang telah menunaikan haji juga harus tetap berada di jalan yang benar," tambahnya.