Pemprov DKI Jakarta tengah mengantisipasi adanya kiriman air dari Puncak. Sebab berdasarkan pantauan dari Bendungan Katulampa pada pukul 08.30 WIB ketinggian air mencapai 220 sentimeter, sehingga berstatus siaga I.
Sementara itu, pantauan merdeka.com di pintu air Manggarai, debit air sudah mencapai 780 sentimeter. Di mana titik normalnya sekitar 200 sentimeter. Sehingga kini pintu air Manggarai berstatus siaga III.
Kepala Dinas Tata Air DKI Jakarta, Teguh Hendrawan mengatakan, pihaknya telah mengantisipasi akan adanya debit air yang tinggi. Di mana air yang datang dari Ciliwung Lama akan dibuang ke Banjir Kanal Barat.
"Kita buang ke BKB (Banjir Kanal Barat) sampai Muara Inden semua itu ke Kali Adem," katanya di Pintu Air Manggarai, Jakarta Selatan, Senin (5/1).
Selain itu, cuaca di DKI sendiri tidak memperburuk kondisi air. Teguh menyebut situasi di muara tidak begitu tinggi sehingga masih bisa mengalirkan air ke laut.
"Kita masih tertolong hujan lokal kita angkat pas intensitas sedang. Kemudian di laut Ancol masih di 179 sentimeter sementara kali kita 180 sentimeter artinya masih bisa kita buang," jelasnya.
Untuk mengantisipasi air kiriman, Dinas Tata Air DKI juga akan mengoperasikan pompa air baik di rumah pompa, maupun pompa portable. Ada 421 pompa air yang digunakan pada 145 rumah pompa yang ada di DKI.
"Dari hulu tengah sampai hilir operasional sudah dioperasionalkan supaya debit air ini bisa cepat kita buang," kata Teguh.
Di pintu air Manggarai juga menumpuk sampah. Sebagian besar merupakan sampah kayu dan bambu. Saat ini, Dinas Tata Air tengah melakukan pengerukan sampah tersebut.