Mengenang seteru panjang Ahok dan Sanusi rebut kursi DKI

"Pemimpin saat ini kurang merasa. Di DKI harus mencari orang yang bisa merasa. Bukan hanya merasa bisa," kata Sanusi.

Lia Harahap
Oleh Lia Harahap- Reporter
Mengenang seteru panjang Ahok dan Sanusi rebut kursi DKI
M Sanusi ditahan KPK. ©2016 Merdeka.com/Muhammad Luthfi Rahman

Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi Partai Gerindra, Mohamad Sanusi, ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sanusi menjadi tersangka dalam kasus penerimaan suap dari pihak swasta terkait pembahasan Raperda Zonasi dan Raperda Tata Ruang yang saat ini tengah dibahas di DPRD.

Penetapan Sanusi sebagai tersangka cukup mengagetkan koleganya di DPRD dan partai. Sebab selama ini Sanusi yang duduk di Komisi D justru kerap mengkritisi kebijakan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, yang dianggap tak pro rakyat.

Ketidakpuasan pada kepemimpinan Ahok pulalah yang membuat dirinya memilih ikut penjaringan Pilgub DKI 2017. Mengikuti penjaringan dari Partai Gerindra, Sanusi bahkan sudah melakukan safari politiknya menyapa warga.

"Pemimpin saat ini kurang merasa. Di DKI harus mencari orang yang bisa merasa. Bukan hanya merasa bisa," kata Sanusi kala itu menyindir gaya memimpin Ahok.

Dia merasa sangat siap jika hasil penjaringan memutuskan dirinya yang diusung Gerindra melawan Ahok. Tapi sebaliknya dia tak masalah bila tak terpilih.

"Kesiapan saya secara pribadi, tapi menerima bila partai menunjuk pilihan lain," ucapnya mantap.

Dia menilai, hampir lima tahun Ahok memimpin hampir tak ada yang terlalu istimewa yang telah dilakukan. Bahkan, dia mengungkit apa yang didapat Ahok sekarang tak lepas dari campur tangan dia.

"Saya yang juga merasa bersalah, saya bagian dari Pak Ahok tinggal (memimpin) di Jakarta. Saya selalu ikut dia dan Pak Jokowi kampanye atau debat-debat bakal calon saat itu. Saya juga bakal calon (gubernur) dari Gerindra, dulu. Namun, partai lebih memilih Ahok," kenangnya pertengahan Maret lalu dalam sebuah diskusi.

Dia juga yakin kepopuleran Ahok saat ini hanya akan berujung kekalahan seperti Fauzi Bowo di Pilgub DKI 2012 lalu.

"Ya itu semua orang tahu, tapi sekali lagi rakyat ini cerdas, betapa kuatnya Foke waktu itu tapi kalah," jelasnya.

Dia mengaku mengenal dekat dengan Ahok. Dia mengibaratkan Ahok mirip styrofoam yang akan mudah dihancurkan.

"Di luar kelihatan baik tapi begitu dicolok kosong, enggak ada isinya. Ini cuma proses demokrasi biasa. Semua yang maju punya kekuatan yang sama, jangan menggiring opini seakan dia (Ahok) yang menang," kata dia.

Serangan demi serangan ditanggapi pula oleh Ahok. Termasuk setelah Sanusi menjadi tersangka oleh KPK.

Dia mending Sanusi punya banyak harta tapi tak melaporkan ke KPK. Sanusi juga dituduhnya tak membayar pajak.

"Saya cuma tahu dia hidupnya mewah saja. Kalau lapor LHKPN terus buktikan pajak yang kamu bayar berapa baru kamu pantas ngomong atau teriak teriak," kata Ahok di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (1/4).

"Kamu cek saja berapa penghasilannya, gaya hidupnya, jadi enggak usah banyak omong. Sekarang LHKPN nya kagak lapor gimana coba," sambungnya.

Dia menilai deretan mobil merah Sanusi tak ada yang bayar pajak. Dia yakin kelakuan malas bayar pajak juga terjadi pada kakak Sanusi juga Wakil ketua DPRD DKI, M Taufik.

"Kamu cek aja tuh Sanusi sama Taufik (Wakil Ketua DPRD DKI yang juga kakak Taufik) lapor LHKPN apa enggak? Kagak kan? Tapi mereka naik Mercedes Benz S-Class, Range Rover, Jaguar, Alphard, wah kelas ataslah," pungkasnya.

Rekomendasi