Seorang karyawati di Jakarta mengalami pelecehan. AS, namanya, dilecehkan saat baru saja turun dari Transjakarta jurusan Dukuh Atas - Ragunan.AS turun di halte Jati Padang. Saat melintasi jembatan penyeberangan tiba-tiba ada pria tak dikenalnya langsung memeluk dari belakang. Tak hanya itu, saat tangan si pria itu berhasil sampai ke pundak AS, dia juga meremas payudara wanita itu."Saat korban sedang turun dari Transjakarta di halte Jati Padang, kemudian jalan melewati jembatan penyeberangan. Tiba-tiba pelaku yang tidak dikenalnya langsung memeluk korban dari belakang," terang Kapolsek Pasar Minggu, Kompol Dodi, (1/8) kemarin.Peristiwa itu terjadi Sabtu pagi sekitar pukul 10.15 WIB. Pria yang lebih kurang berusia 24 tahun dan berstatus mahasiswa."Pelaku berusaha kabur melarikan diri, lompat dari halte selanjutnya oleh petugas busway dan warga langsung dikejar," jelasnya.
Advertisement
Kebetulan, saat itu ada polisi melintas. Pria yang belakangan diketahui berinisial AA dan seorang mahasiswa itu berhasil diamankan.Dalam pemeriksaan, AA mengaku khilaf melakukan perbuatan tak senonoh itu. Meski dia mengakui sudah mengincar korban sejak keduanya berada di bus Transjakarta yang sama."Motifnya khilaf dan hasil interogasi awal kita si tersangka tertarik pada wajah dan penampilan korban," tambah Dodi.AS memutuskan tak akan damai pada pelaku. Dia meminta pelaku tetap dihukum sesuai aturan yang berlaku."Disesuaikan hukumannya sama hukum yang belaku. Enggak mau kalau damai. Ikuti aturan hukum," tegas AS.Apa yang dialami AS tentu bukan cerita baru. Sudah beberapa kali penumpang wanita mengalami pelecehan baik di dalam bus Transjakarta itu sendiri maupun di jembatan penyeberangan halte Transjakarta.Di dalam bus, kondisi yang padat banyak dimanfaatkan penumpang lainnya untuk berbuat kriminal hingga pelecehan. Sedangkan untuk di halte, orang demikian memanfaatkan keadaan gelap dan sepi.Sekitar tahun 2010, untuk menindak para pelaku kriminal di Transjakarta dibentuklah Satgas Wanita. Mereka disebar di semua halte dengan posisi di luar maupun di dalam halte.
Advertisement
Dihimpun dari berbagai sumber, satgas ini untuk membantu korban pelecehan yang melapor agar lebih tenang apabila didampingi satgas perempuan."Satgas perempuan harus bertugas memberi pengarahan agar bisa membantu penumpang yang menjadi korban pelecehan. Kalau dengan sesama perempuan pasti lebih berani cerita dan tidak risih atau sungkan. Satgas juga akan mendampingi korban saat di kantor polisi," kata Kepala Manajer Operasional BLU Transjakarta Gunardjo, saat itu.Satgas ini juga diharapkan bisa melakukan penjagaan di halte-halte bus besar yang biasanya padat penumpang."Kita akan koordinasikan dengan pihak Polda Metro Jaya, sehingga minimal ada satu orang anggota polisi yang berjaga di dalam busway dan halte tempat transit," ungkapnya.Udar Pristono yang saat itu masih menjabat sebagai kepala Dinas Perhubungan mengatakan, pelecehan seksual ada hubungannya dengan kedatangan bus ke halte yang lama sehingga penumpang menumpuk. Alhasil, penumpang nakal memanfaatkan keadaan yang berdesak-desakan seperti itu.Tiga tahun setelah dibentuk, kini keberadaan Satgas Wanita di Transjakarta tak lagi terdengar kabarnya. Padahal, yang namanya kejahatan tak pernah mengenal waktu, bisa datang kapan saja tanpa diduga. Bila tak ada petugas siaga, bukan tidak mungkin korban pelecehan seperti AS makin banyak dialami penumpang lain.