Jakarta Bakal Diguyur Hujan Buatan Rutin

Pemprov DKI menyiapkan hujan buatan di Jakarta 1–2 kali tiap pekan. Puncak El Nino diperkirakan hingga Oktober. Pramono paparkan fokus antisipasi.

Winda Nelfira
Oleh Winda Nelfira - Reporter
Jakarta Bakal Diguyur Hujan Buatan Rutin
Warga bersepeda saat hujan turun di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Minggu (24/1/2021). Kepala BMKG Dwikorita mengatakan, puncak musim hujan akan terjadi pada Januari dan Februari 2021, sehingga perlu diwaspadai terjadinya cuaca ekstrem. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiapkan hujan buatan di Jakarta melalui operasi modifikasi cuaca satu hingga dua kali setiap pekan untuk meredam dampak fenomena El Nino yang masih berlanjut.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyebut langkah ini sudah ia setujui setelah berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Ia juga memaparkan proyeksi kemarau tahun ini bakal lebih panjang daripada 2023, dengan peluang hujan baru muncul pada awal hingga pertengahan Oktober.

Rencana Hujan Buatan di Jakarta 1–2 Kali Sepekan

Pramono mengaku telah memberi lampu hijau bagi pelaksanaan operasi modifikasi cuaca di wilayah Jakarta. Ia meminta agenda penerbangan dapat dilakukan rutin setiap pekan jika kondisi memungkinkan.

"Jadi intinya tadi saya sudah memberikan persetujuan untuk kalau bisa setiap minggu itu satu-dua kali dibuat hujan buatan atau modifikasi cuaca," kata dia.

Langkah ini disiapkan sebagai bagian dari penanganan dampak El Nino di Ibu Kota agar kebutuhan air dan pengendalian risiko tetap terjaga selama kemarau.

Prediksi Puncak El Nino dan Peluang Awan

Menurut Pramono, puncak kemarau tahun ini diperkirakan terjadi lebih lama dibanding tahun lalu. Ia menyebut potensi hujan alami baru akan hadir sekitar awal hingga pertengahan Oktober.

"Dari data yang ada, puncak El Nino itu akan panjang, mungkin salah satu yang terpanjang dibandingkan dengan tahun 2023 pada waktu itu. Puncaknya kurang lebih nanti akhir September atau pertengahan Oktober minggu pertama, kedua Oktober baru akan ada hujan," kata Pramono kepada wartawan, Rabu (5/8/2026).

Ia menambahkan, peluang terbentuknya awan untuk pelaksanaan modifikasi cuaca saat ini relatif kecil. Meski demikian, ia telah memerintahkan jajarannya menyiapkan seluruh kebutuhan teknis.

"Tetapi saya sudah memerintahkan dan kita sudah mempersiapkan. Kalau tadi malam itu termasuk rezeki anak sholeh itu, enggak ada awan tapi bisa dimodifikasi lah," ujar Pramono.

Antisipasi Kebakaran dan Air Bersih di Ibu Kota

Selain modifikasi cuaca, Pemprov DKI menetapkan dua fokus utama selama kemarau: pencegahan kebakaran dan ketersediaan air bersih.

"Yang pertama adalah antisipasi terhadap kebakaran. Maka Pemerintah DKI Jakarta, Wali Kota akan campaign tentang Jaga Jakarta dalam dua hal; satu kebakaran, yang satu adalah penyediaan air bersih pasti mengalami hambatan," ujar Pramono.

Ia juga meminta setiap RW menyiapkan alat pemadam api ringan (APAR) sebagai langkah antisipasi kebakaran, mengingat cuaca kering meningkatkan risiko kejadian tersebut serta berpotensi memicu meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Pramono menegaskan, arahan tersebut menjadi salah satu keputusan yang diambil dalam rapat bersama jajaran Pemprov DKI Jakarta.

Rekomendasi