Pekan lalu, seorang wanita bernama Evie curhat dalam blog pribadinya. Curhatan itu menceritakan pengalaman tak mengenakkan yang dia alami saat datang ke apartemen Kalibata City.Kejadian itu sekitar 24 Juni lalu. Saat itu dia hendak mengunjungi rekannya yang tinggal di tower Kemuning.Sambil menunggu temannya datang, Evie memilih tetap berada di lobi depan lift. Selain dirinya, ada pria yang belakangan diketahui berkewarganegaraan Irak.Mulanya dia tak berpikir macam-macam dengan pria tersebut. Tapi ternyata, WN Irak itu memanfaatkan situasi lobi yang kebetulan sedang sepi.WN Irak itu menyentuh bokongnya. Evie sempat tak percaya. Tapi setelah dua kali merasakan ada yang menyentuh bokongnya, dia yakin WN Irak itu lah pelakunya. Lalu apa reaksi Evie?Evie geram bukan kepalang. Dia langsung mendamprat."Saya bilang 'Anda ngapain', tetapi malah dijawab dengan senyuman yang melecehkan dan bagi saya juga itu sangat menjijikkan. Saya katakan lagi, 'ngapain colek-colek saya'. Tapi dia mengelak yang intinya dia enggak mencolek saya, tetapi sedang memeriksa tasnya. Kemudian saya jawab lagi, 'ada CCTV, saya laporkan anda ke sekuriti," cerita Evie.Pria itu awalnya mengelak. Dia berdalih bulan Ramadan tak mungkin melakukan hal demikian."Masya Allah.. madam.. please forgive me.. this Ramadan', kalimat itu saja yang dia ucapkan terus menerus di hadapan saya. Tapi saya enggak peduli.. tetap gue laporin ke petugas keamanan," katanya mengulang berdebatan dengan si pria Irak itu.Pria Irak itu akhirnya digiring ke pos satpam. Saat mendengar cerita Evie, petugas langsung ingat laporan pengunjung sebelumnya. Mereka pun sempat melihat CCTV yang menampilkan wajah pria Irak itu.Pelapor terdahulu pun ikut dipanggil untuk meyakinkan. Benar saja, pelakunya orang yang sama.Tak mau kejadian serupa menimpa pengunjung lainnya, Evie melaporkan kasus tersebut ke Polda Metro Jaya.
Advertisement
Kalibata City memang tergolong bebas untuk pengunjung luar. Apalagi, untuk sampai lobi lift di setiap tower, pengunjung bisa masuk saat memanfaatkan orang yang akan keluar.Mungkin kondisi itulah yang sering dimanfaatkan pelaku kejahatan.Bicara soal Kalibata City, beberapa waktu lalu polisi dari Polres Jakarta Selatan juga sempat membongkar praktik prostitusi online di apartemen tersebut. Penggerebekan dilakukan di Tower H lantai 8 kamar 08AU dan Tower J lantai 5 kamar 05CT di Apartemen Kalibata City, Jakarta Selatan.Dalam penggerebekan itu, polisi menangkap seorang bernama Faisal (FMH) 25 tahun yang mengaku sebagai perantara dan enam PSK dengan sebutan Angel berumur 15-20 tahun. Dari penyelidikan yang berjalan, polisi sudah mengantongi tiga pelaku bisnis esek-esek itu."Kita sudah kantongi tiga nama jaringan prostitusi di Apartemen Kalibata City, sebelumnya kita kan sudah tangkap satu yang berperan perantara", ujar Direktur Reserse Kriminal Umum (Dir Reskrimum) Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Heru Pranoto, di Mapolda Metro Jaya, Kamis (21/5).Terendusnya keberadaan tiga pelaku setelah diselidiki melalui website dan nomor rekening yang sering mereka gunakan saat transaksi dengan pelanggan para PSK. Menurutnya, bisnis yang dijalankan empat orang ini begitu rapi."Prostitusi di Apartemen Kalibata City ini sudah terorganisir atau dirancang dengan baik. Namanya prostitusi online ya tidak dijual bebas, pemainnya tidak bisa sembarangan masuk karena ada semacam manajemen", kata Heru.
Advertisement
Kacaunya pengawasan dan pengamanan di apartemen itu membuat Ahok geram. Dia langsung memanggil pengelola.Ahok menjelaskan, permasalahan awal terjadi semenjak Pembentukan Perhimpunan Penghuni Rumah Susun (PPPRS). Terjadi cek cok antara penghuni dan pengelola. Namun, Pemprov DKI Jakarta tidak dapat berbuat banyak."PPPRS itu ada peraturan menteri juga, kami udah putusin setelah mereka daftar tapi enggak kami sahkan. kenapa? Karena ada cekcok antara warga dan pengelola. Engga ada kesepahaman, makanya disuruh nunggu. Itu yang sering berantem, ribut," jelasnya di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (28/4)."Kenapa? Karena di tengah jalan si pengembang kalo dia enggak jual lepas, dia masih punya hak suara. Itu yang sering sekali membuat para penghuni kalah sama pengembang," tambah mantan Bupati Belitung Timur ini.Dia menjelaskan, pihaknya sudah mendapatkan banyak laporan mengenai iuran yang tinggi dari pihak pengelola. Untuk itu, suami Veronica Tan ini meminta untuk membuka transparansi penggunaan dana iuran per bulan."Hampir semua begitu. Mesti ada transparansi aja, soalnya dikasih ke warga juga belum tentu beres," katanya.