Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) akan melakukan pemetaan tempat pemakaman umum (TPU) sehingga lahan yang sudah dipesan dapat diketahui. Hal ini dilakukan agar tidak ada lagi oknum yang memperjualbelikan lahan pemakaman."Jadi kalau dia sudah pesan sudah di-lock. Kalau itu benar berarti punya dia," kata Ahok di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (22/1).Dia mengungkapkan, kebanyakan warga menginginkan tanah pemakaman pada bagian depan. Sehingga beberapa oknum memperjualbelikan posisi tersebut dengan harga yang tinggi. Fenomena ini membuat Ahok bingung. Seharusnya semasa hidup mereka berebut barisan paling depan saat beribadah, bukan di pemakamannya."Manusiakan lucu juga. Kalau beribadah suka duduk di barisan belakang, kayak di gereja juga sukanya di belakang jangan di depan karena takut dimarahi pendeta. Tapi kalau meninggal suka minta di barisan depan. Padahal barisan depan kan didatangi duluan sama malaikat," ungkap mantan bupati Belitung Timur ini.Sebagai contoh, TPU Karet Bivak, semua pihak ingin dimakamkan di barisan paling depan. Hal ini menyebabkan, lahan yang seharusnya dijadikan saluran air, digusur untuk dijadikan pemakaman."Ini kami harapkan sistem ini akan menolong. Supaya nggak terjadi permainan, masyarakat harus bantu awasin. Kadang-kadang masyarakat juga nggak mau kalau kayak begini kan kami nggak bisa nyogok. Nanti kami dapatnya di belakang. Kalau sudah ditempelin, misalnya hari ini ada yang meninggal kemarin begitu meninggal langsung bisa dilihat di website kan mana yang kosong jadi nggak bisa lagi datang ke petugas nanya ini ada yang kosong atau nggak," tutupnya.
Ahok: Kalau ibadah suka di belakang, kalau meninggal minta di depan
Ahok ingin tidak ada lagi oknum yang memperjualbelikan lahan pemakaman.
Advertisement
Rekomendasi