Mengenal Tradisi Ngarot Ala Desa Karedok Sumedang, Pameran Hasil Pertanian yang Sarat Makna

Acara Ngarot jadi pameran hasil tani khas Sumedang

Nurul Diva Kautsar
Oleh Nurul Diva Kautsar - Reporter
Mengenal Tradisi Ngarot Ala Desa Karedok Sumedang, Pameran Hasil Pertanian yang Sarat Makna
Mengenal Tradisi Ngarot Ala Desa Karedok Sumedang, Pameran Hasil Pertanian yang Sarat Makna (© 2024 merdeka.com)

Acara ngarot jadi pameran hasil tani khas Sumedang

Dok. Istimewa
© 2024 merdeka.com

Masyarakat Desa Karedok, Kecamatan Jatigede, Kabupaten Sumedang, memiliki tradisi unik bernama Ngarot.

Acara ini merupakan pesta adat setempat, yang rutin dilakukan setelah masa panen padi dan palawija. 

Sebelumnya Ngarot diadakan selama 2 hari pada 23-24 Desember 2023 lalu, dengan menampilkan sejumlah acara mulai dari menyembelih kerbau, mengadakan kesenian lokal hingga memamerkan hasil panen palawija.

Yuk kenalan lebih dekat dengan tradisi Ngarot khas Desa Karedok, Sumedang.

Merupakan Acara Tolak Bala

Di YouTube Baraya Sumedang, warga setempat menyebutkan jika Ngarot merupakan tradisi tahunan untuk menolak bala.

Alasan mengapa tradisi ini digelar berbarengan dengan masa panen karena warga mayoritas merupakan petani. Ngarot juga termasuk pesta panen sebagai bentuk rasa syukur karena hasil panen yang melimpah di musim itu.

“Ini rutin dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur ke Gusti Allah, cuma jalannya melalui tradisi ini,” kata warga setempat yang dikutip dari kanal YouTube tersebut.

Menyembelih Kerbau

Salah satu yang ditunggu oleh masyarakat adalah meuncit munding, atau dalam bahasa Indonesia artinya menyembelih kerbau.

Satu ekor kerbau besar disembelih di area yang sudah disiapkan. Di tengah acara, seorang tokoh masyarakat yang sudah dipercaya akan menyembelih kerbau sebagai upaya tolak bala.

“Meuncit munding itu harus ada, mungkin gampangnya untuk tolak bala, menghilangkan kesusahan di masyarakat, nah dagingnya dibagikan dan kepalanya dikubur,” terang warga setempat.

Hadirkan Kesenian Khas Desa Karedok

Sebagai tradisi khas desa setempat, acara ini juga didukung dengan hadirnya kesenian lokal Sunda ala Desa Karedok seperti jaipongan, karawitan atau bangreng (ronggeng khas Sumedang).

Mengutip kanal YouTube Pelosok Sumedang, kesenian ini menghadirkan iringan musik tradisional Sunda berupa alunan kecapi, rampak kendang yang meriah dan lantunan sinden yang menyanyi lembut.

Kemudian terdapat kalangan pria yang berjoget di bawah panggung mengikuti alunan musik yang dimainkan dan kerap jadi pusat perhatian.

Pameran Hasil Panen

Pameran Hasil Panen
© 2024 merdeka.com

Acara yang juga menyita perhatian masyarakat adalah hadirnya “pameran” hasil panen padi dan palawija oleh petani.

Bentuknya bermacam-macam, mulai dari buah, sayuran, padi sampai umbi-umbian yang semuanya dimasukan ke dalam wadah.

Hasil panen palawija dan padi itu digantung di dalam tenda dan dituliskan alamat sesuai asal dari tanaman ini, seperti RT atau RW.

Punya Makna Gotong Royong

Mengutip jurnal yang ditulis oleh Deni Zein dan Elan berjudul “Upacara Adat Ngarot: Spiritualitas dan Gotong Royong Masyarakat Sumedang” di laman Universitas Ahmad Dahlan, disebutkan bahwa tradisi Ngarot memiliki makna yang mendalam.

Deni dan Elan menyebut jika tradisi Ngarot kental dengan nilai kebersamaan dan gotong royong. Kebersamaan terlihat jelas saat warga berkumpul di satu tempat untuk berdoa dan menyantap sajian bakakak hayam (ayam bakar utuh) sebagai hidangan tradisi.

Lalu sisi gotong royong hadir saat warga mempersiapkan acara, meramaikan acara, dan menyelesaikan acara. Di sana mereka saling membantu agar upacara adat ini terselenggara dengan lancar.

Dok. Istimewa
© 2024 merdeka.com

Adapun kata Ngarot berasal dari istilah ngaruwat, atau ruwatan yang berarti melaksanakan doa dan kegiatan adat untuk keselamatan dan keberkahan bersama.

Rekomendasi