Kemiskinan Jawa Barat Turun Drastis Jadi 6,54 Persen, Namun Ketimpangan Pengeluaran Justru Meningkat

Angka Kemiskinan Jawa Barat berhasil ditekan menjadi 6,54 persen per Maret 2026, mengurangi jumlah penduduk miskin, namun data BPS menunjukkan Gini Ratio atau ketimpangan pengeluaran justru melebar.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Kemiskinan Jawa Barat Turun Drastis Jadi 6,54 Persen, Namun Ketimpangan Pengeluaran Justru Meningkat
Angka Kemiskinan Jawa Barat berhasil ditekan menjadi 6,54 persen per Maret 2026, mengurangi jumlah penduduk miskin, namun data BPS menunjukkan Gini Ratio atau ketimpangan pengeluaran justru melebar. (AntaraNews)

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat melaporkan adanya penurunan signifikan pada persentase penduduk miskin di wilayah tersebut per Maret 2026. Angka kemiskinan berhasil menyusut menjadi 6,54 persen, yang berarti terjadi pengurangan sebanyak 114,23 ribu jiwa penduduk miskin.

Meskipun demikian, laporan yang sama juga menyoroti peningkatan pada angka ketimpangan pengeluaran atau Gini Ratio. Kondisi ini mengindikasikan bahwa meskipun jumlah penduduk miskin berkurang, jurang kesenjangan ekonomi antar-kelompok masyarakat justru semakin melebar.

Kepala BPS Provinsi Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati, di Bandung, Jumat, menegaskan bahwa perbaikan kualitas kemiskinan tercermin dari indikator Indeks Kedalaman dan Keparahan Kemiskinan yang juga menurun. Namun, peningkatan ketimpangan tetap menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah.

Penurunan Angka Kemiskinan dan Perbaikan Kualitas Hidup

Total penduduk miskin di Jawa Barat kini tersisa 3,44 juta jiwa, setelah penurunan yang signifikan. Penurunan ini menunjukkan upaya pemerintah dalam menanggulangi kemiskinan membuahkan hasil positif.

Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) mengalami penurunan dari 1,14 menjadi 1,04, sementara Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) juga membaik dari 0,27 menjadi 0,23. Indikator-indikator ini mencerminkan perbaikan kualitas kemiskinan secara keseluruhan di Jawa Barat.

Penurunan jumlah warga miskin terutama terjadi di wilayah perkotaan, dengan berkurangnya 124,61 ribu orang miskin. Namun, wilayah perdesaan justru mengalami penambahan penduduk miskin sebanyak 10,38 ribu orang, atau naik 0,20 persen poin.

Garis Kemiskinan dan Komoditas Pemicu Utama

Garis kemiskinan Jawa Barat per Maret 2026 ditetapkan sebesar Rp609.790 per kapita per bulan. Margaretha Ari Anggorowati menjelaskan, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar untuk mengukur kemiskinan.

"Dengan pendekatan ini kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan non makanan yang diukur menurut garis kemiskinan," kata Ari. Komoditas makanan memegang peran dominan, menyumbang 74,48 persen dari garis kemiskinan.

Beras dan rokok kretek filter diidentifikasi sebagai dua komoditas utama penyebab kemiskinan di Jawa Barat. Sumbangan beras terhadap garis kemiskinan mencapai 21,33 persen di perkotaan dan 26,78 persen di perdesaan.

Sementara itu, rokok menyumbang 10,63 persen di wilayah kota dan 6,88 persen di wilayah desa terhadap garis kemiskinan. Hal ini menunjukkan bahwa konsumsi rokok masih menjadi beban signifikan bagi rumah tangga miskin.

Ketimpangan Pengeluaran yang Melebar

Di tengah kabar baik penurunan angka kemiskinan, Gini Ratio Jawa Barat per Maret 2026 justru menunjukkan peningkatan. Angka ini merangkak naik menjadi 0,413, atau naik 0,016 poin dibandingkan September 2025.

Kenaikan Gini Ratio ini mempertegas bahwa jurang ketimpangan pengeluaran antar-kelompok masyarakat semakin melebar di Jawa Barat. Ini menjadi tantangan baru dalam upaya pemerataan kesejahteraan.

Ari menyatakan, "Baik dari sisi kuantitas maupun kualitas, indikator kemiskinan di Jawa Barat secara umum membaik dibandingkan September 2025. Namun indikator ketimpangan mengalami kenaikan sehingga tetap perlu menjadi perhatian." Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya fokus pada isu ketimpangan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi