Jibrut merupakan salah satu kesenian yang ada di tanah Sunda. Cirinya memiliki irama yang cepat dan mirip beatbox yang dimainkan oleh rapper. Uniknya, Jibrut memiliki bunyi yang berasal dari ketiak.
Kesenian Jibrut perlahan mulai dilupakan. Jarang kalangan anak muda yang melestarikan ini termasuk di daerah asalnya, Jawa Barat. Hanya ada Entoh E. Solihin, di Limbangan, Garut yang masih mempertahankannya.
Permainan ini diperlukan kemampuan mengelola nafas yang baik, karena biasanya Jibrut juga dimainkan berbarengan dengan pantun.
“Jibrut itu sudah ada sejak lama. Dulu dimainkan oleh orang tua, dan saya susah untuk mempelajarinya” kata salah Entoh, mengutip kanal YouTube Studio Seni Proklamasi, Selasa (7/3)
Advertisement
Mengiringi Pantun
Menurut Entoh, kesenian ini awalnya dimainkan sebagai hiburan. Lama kelamaan, pemainnya menambahkan variasi lain dengan iringan pantun. Sejak itu, keduanya jadi identik dan selalu ditampilkan berbarengan.
Selanjutnya, Jibrut juga menjadi pengiring kesenian lain yakni bobodoran atau lawak dengan bahasa Sunda. Pemainnya akan menyelipkan Jibrut di tengah-tengah lawakan agar makin mengundang gelak tawa.
Permainan yang menggunakan ketiak ini kemudian memunculkan rasa lucu dan menarik perhatian penonton.
“Jibrut juga dipakai lagu, pakai pantun Sunda. Beres satu lagu dan pantun, dilanjut lawak Jibrut” kata Entoh lagi.
Advertisement
Cara Memainkan Jibrut Memakai Ketiak
Dikutip dari Instagram @budaya.kuring, cara memainkan Jibrut terbilang unik, yakni dengan memposisikan telapak tangan ke bagian ketiak. Kemudian, ketiak akan mengeluarkan nada tertentu.
Ketika dimainkan dengan pola, Jibrut akan memiliki irama yang senada dengan beatbox terlebih jika diiringi dengan pantun yang berirama cepat.
“Jadi memang Jibrut itu mainnya diiringi lagu” katanya
Kemudian suara dari ketiak itu diiringi dengan bunyi-bunyian dari mulut dan tepukan tangan, sehingga menghasilkan nada yang harmonis.
Advertisement
Kurang Diminati Anak Muda
Sayangnya, kesenian unik ini perlahan mulai punah dan dilupakan. Menurut Entoh, anak-anak muda saat ini jarang ada yang tertarik untuk memainkan Jibrut. Kalaupun ada, mereka kurang berminat untuk mendalaminya.
Sampai saat ini, Entoh masih melestarikan Jibrut dan memainkannya di acara-acara kebudayaan Sunda untuk dikenalkan kepada masyarakat agar tidak punah.
“Melatih ke yang lainnya banyak yang tidak ingin memainkannya, ini juga sudah mengajak anak-anak muda jarang ada yang mau karena sulit memainkannya” kata dia lagi.
Salah satu remaja yang menaruh perhatian ke Jibrut, Yoga Pratama mengaku ingin melestarikan Jibrut dan mengombinasikannya dengan beatbox.
“Saat ini anak muda jarang ada yang tertarik dengan Jibrut, tapi saya mendalaminya karena untuk mengiringi beatbox” terang Yoga.