Siapa yang tidak kenal dengan kue balok? Kue berwarna cokelat dengan bentuk persegi panjang ini merupakan kudapan khas Jawa Barat. Biasanya kue balok disajikan sebagai teman minum teh di sore hari.
Namun siapa sangka jika kue yang sempat viral beberapa waktu belakangan ini ternyata merupakan warisan kolonial Belanda di tanah pasundan. Awalnya kue balok berbentuk putih polos dan bercita rasa manis.
Advertisement
Berawal dari Munculnya Toko Kue di Bandung
nativeindonesia.com ©2020 Merdeka.com
Dilansir dari berita.upi.edu, pada 1899 di kawasan Jalan Braga, Kota Bandung mulai banyak toko-toko roti khas Belanda yang dibangun untuk memenuhi kebutuhan para keluarga kolonial di Kota Kembang tersebut.
Pada 1920-an, beragam varian kue tradisional mulai bermunculan. Kue-kue tersebut sebagian besar merupakan hasil dari akulturasi antara kue tradisional Sunda dengan roti-roti Belanda yang bertekstur khas dan bercita rasa manis. Kue balok sendiri juga lahir dari akulturasi ini.
Advertisement
Akulturasi Budaya Minum Teh ala Orang Belanda
Kue balok merupakan sajian wajib bagi warga kota Bandung ketika waktu sarapan tiba. Dalam setiap penyajiannya, kue balok selalu disandingkan dengan secangkir teh atau kopi hangat.
Kebiasaan memakan kue balok dan secangkir teh atau kopi hangat warga Bandung ini terinspirasi dari budaya sarapan para saudagar Belanda yang selalu menyajikan onbijtkoek (roti) serta bokkepootjes (kue kering) sebelum bekerja.
Advertisement
Lebih Mengenyangkan
selerasa.com ©2020 Merdeka.com
Dengan cita rasa yang manis, padat, dan berukuran cukup besar membuat kue balok selalu dijadikan sebagai menu sarapan favorit oleh warga. Kue balok dianggap lebih mengenyangkan dibanding dengan roti belanda dan kue kering.
“Di tahun 1952 dan 1959, kue balok memang menjadi alternatif sarapan selain bubur hanjeli, bubur labu siam dan ditaburi potongan tahu. Penjual kue balok biasanya di pinggir jalan, dan biasanya pembeli membeli dengan berjongkok atau nagog. Hanya membeli dua buah saja sudah mengenyangkan dan menjadi sumber energi bagi penduduk kota,”. Ujar Tien Surtini, salah seorang penikmat kue balok asal Bandung.
Advertisement
Hampir Berganti Nama
Menurut Chef Legendaris Dedie Soekartin, pada 1960-an kue balok hampir berganti nama menjadi nama kue robur.
Hal ini karena pada 1965-1966 Kota Bandung mendapat bantuan armada bus dengan merek Robur dari Jerman Timur. Bentuk kue balok yang menyerupai bus tersebut membuat nama kue balok berencana diganti menjadi kue robur, namun hal ini urung terjadi.
Advertisement
Kue Balok di Era Sekarang
©2020 Merdeka.com
Saat ini masyarakat di Kota Bandung dan beberapa wilayah Jawa Barat mulai memodifikasi kue balok dengan berbagai varian rasa, mulai dari pandan, green tea, hingga red velvet.
Kue balok paling banyak ditemui saat ini adalah kue balok dengan varian rasa cokelat yang lumer di bagian tengahnya.