Mencicipi Pedas Gurih Sate Bandeng Khas Serang, Ide dari Juru Masak Kesultanan Banten
Merdeka.com - Kota Serang di Provinsi Banten memiliki ragam kuliner khas yang sayang untuk dilewatkan. Terletak di daerah pesisir, ikan bandeng menjadi salah satu makanan yang menjadi incaran. Masyarakat sendiri kerap mengolahnya menjadi sate bandeng.
Sate bandeng memang telah lama tersohor sebagai sajian khas di wilayah tersebut. Dagingnya tanpa dipotong kecil-kecil seperti sate lainnya. Cara memasaknya juga dibakar di atas bara api hingga matang sempurna.
Wisatawan pun bisa menjumpainya di rumah-rumah makan pinggir jalan, kawasan Kota Serang. Yang menarik, makanan ini konon telah ada sejak ratusan tahun lalu, karena dulunya merupakan favorit dari raja-raja pada masa Kasultanan Banten.
Memiliki Rasa Pedas dan Gurih

©2023 YouTube Liputan6 SCTV/ Merdeka.com
Untuk rasanya, makanan ini begitu menggugah selera. Balutan rempah yang kuat, menjadikan sate bandeng memiliki rasa pedas, gurih dan sedikit manis. Biasanya penjual juga memadukannya dengan parutan kelapa maupun kentang.
Banyak wisatawan yang membawa pulang sate bandeng sebagai oleh-oleh setelah berkunjung dari Serang. Penjual akan membungkusnya menggunakan karton dengan segel yang rapat, sehingga ikan bisa awet saat dibawa perjalanan jauh.
“Kami biasanya melayani sate bandeng ini untuk keperluan acara seperti hajatan, untuk prasmanan dan biasanya untuk oleh-oleh juga” kata perajin sate bandeng di kedai Hj. Maryam, Ari, mengutip YouTube Liputan6 SCTV.
Dagingnya Lembut dan Tanpa Duri
Berbeda dari olahan bandeng lainnya, sate bandeng ini memang diolah secara berbeda sehingga tidak meninggalkan duri di dagingnya. Teksturnya begitu lembut, karena telah dihaluskan bersama bumbu dari rempah-rempah khusus.
Daging bandeng yang dijadikan sate memang bukan daging utuh, melainkan sudah digiling dan dihaluskan dengan berbagai rempah. Adonan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam ikannya kemudian dibakar.
Untuk membakarnya, penjual akan melakukannya di tungku besar karena penjualannya per hari terbilang tinggi. Ari mengatakan bahwa produknya sudah terjual sampai mancanegara. Ia pun menjualnya dengan harga Rp40 ribu per tusuknya.
“Sate bandeng ini sudah terjual sampai ke mancanegara, seperti Belanda kemudian Australia, dari wisatawan yang beli di sini, kemudian dibawa ke sana” katanya lagi.
Berasal dari Inisiatif Juru Masak Kesultanan Banten

©2023 YouTube Liputan6 SCTV/ Merdeka.com
Sementara itu, merujuk laman “Ensiklopedi Makanan Khas Banten dan Betawi” sate bandeng telah populer sejak 500 tahunan silam. Saat itu, makanan ini menjadi hidangan andalan dari Kerajaan Kesultanan Banten saat masa kejayaan antara tahun 1526 sampai 1812.
Mulanya, ini berasal dari inisiatif juru masak sultan yang ingin menyediakan makanan ikan bandeng tanpa duri. Hal ini agar sultan dan keluarga kerajaan tidak merasa kerepotan karena banyaknya duri-duri halus di daging ikan.
Kemudian juru masak itu menghilangkan durinya dan mengolahnya sedemikian rupa hingga tersaji masih dalam bentuk ikan bandeng utuh. Tak disangka, keluarga kerajaan menyukai makanan ini, sampai kelezatannya diketahui oleh masyarakat luas.
Agar lebih awet, sate bandeng biasanya akan masuk ke proses pengukusan sebelum dibakar. Setelah dikukus, sajian ini bisa tahan sampai empat hari.
(mdk/nrd)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya