Diteliti BRIN dan Unpad, Begini Cara Kerja Terapi Kanker Paru-Paru Pakai Tulang Sapi
Merdeka.com - Pusat Riset dan Teknologi Nuklir Terapan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Laboratorium Sentral Universitas Padjajaran (Unpad) tengah melakukan penelitian untuk terapi kanker paru-paru. Dalam penerapannya, digunakan nanopartikel hidroksiapatit-zirkonium (Zr Dopped HAp) berbasis bahan lokal Indonesia untuk terapi fotodinamik kanker paru.
Adapun nano partikel dalam hidroksiapatit didapatkan dari sisa tulang sapi yang sudah tidak terpakai.
"Kami berharap agar dapat berkontribusi dalam penanggulangan penyakit kanker khususnya kanker paru-paru di Indonesia," kata ketua periset penelitian BRIN, Dani Gustaman, Rabu (30/3), mengutip dari ANTARA.
Berangkat dari Banyaknya Limbah Tulang Sapi

healthvision.in
Dani Gustaman mengatakan bahwa Hidroksiapatit (HAp) yang didapat dari tulang sapi sudah melalui proses disintesis. Sedangkan zirkonium disintesis dari pasir zircon.
Tulang sapi digunakan karena limbahnya cukup tersedia banyak sehingga bisa dimanfaatkan sebagai sumber hidroksiapatit yang merupakan salah satu penyusun tulang.
"Sedangkan untuk bahan zircon, kami memanfaatkan kelimpahan pasir zirkon di Indonesia," ujarnya.
Cara Kerja Menggunakan Terapi Fotodinamik
Dani menjelaskan, teknik yang digunakan yakni menggunakan terapi fotodinamik (photodynamic therapy). Di sana terdapat senyawa sensitif cahaya (photosensitizer) yang menjanjikan dan mulai dikembangkan untuk terapi kanker paru. Saat bekerja, Photosensitizer akan terakumulasi pada kanker paru dan jika terkena sinar gamma maupun sinar-x dari mesin linear accelerator (Linac) maka akan menghasilkan reactive oxygen species yang diharapkan mampu menghancurkan sel kanker secara efektif. Nanopartikel HAp-Zr yang berhasil disintesis dengan ukuran tertentu diuji ke sel kanker paru, dan hasilnya menunjukkan adanya potensi toksisitas terhadap sel kanker paru dengan akumulasi yang tinggi di sel kanker paru daripada sel paru-paru normal.
Berhasil Dicoba ke Hewan Normal

©2020 Merdeka.com/pixabay
Penelitian tersebut sebelumnya telah diujicobakan ke hewan normal. Hasilnya menunjukkan bahwa terdapat akumulasi di organ paru-paru, limpa dan hati. Dapat disimpulkan, kehadiran nano HAp-Zr berpotensi untuk menjadi kandidat photosensitizer untuk terapi kanker paru.
Penelitian tersebut berjangka tiga tahun, di mana target tahun kedua adalah untuk melihat keamanan dan distribusi organ pada hewan normal atau hewan yang belum memiliki sel kanker. Sedangkan pada tahun ketiga, ditargetkan untuk melakukan pengujian nanopartikel Hap-Zr pada hewan model kanker paru.
(mdk/nrd)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya