Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Sejarah Candi Gununggangsir, Dibangun untuk Hormati Janda Murah Hati di Pasuruan

Sejarah Candi Gununggangsir, Dibangun untuk Hormati Janda Murah Hati di Pasuruan Candi Gununggangsir Pasuruan. ©2021 Merdeka.com/Perpusnas Indonesia

Merdeka.com - Candi Gununggangsir terletak di Desa Gunung Gangsir, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Sekitar 18 kilometer dari pusat kota Pasuruan.

Sebenarnya, candi ini bernama Keboncandi. Namun karena terletak di Desa Gununggangsir, masyarakat setempat menyebutnya Candi Gununggangsir.

Candi ini diperkirakan dibangun pada masa pemerintahan Raja Airlangga, yakni sekitar abad XI Masehi. Meskipun diperkirakan berasal dari masa lebih awal sebelum masa pemerintahan Singasari, Candi Gununggangsir dibangun menggunakan bahan batu bata, bukan batu andesit.

Sementara itu, dikutip dari candi.perpusnas.go.id, tidak diketahui informasi jelas mengenai fungsi Candi Gununggangsir. Menurut cerita tutur turun-temurun yang diyakini masyarakat setempat, Candi Gununggangsir dibangun sebagai penghormatan kepada Nyi Sri Gati. Penghormatan diberikan kepada perempuan yang berjuluk Mbok Randa Derma (janda murah hati) yang berjasa membangun masyarakat pertanian di daerah tersebut.

Tokoh Legenda

candi gununggangsir pasuruan

©2021 Merdeka.com/Perpusnas Indonesia

Nyi Sri Gati merupakan tokoh dalam legenda masyarakat setempat. Konon, pada zaman dahulu masyarakat di daerah tersebut belum mengenal kehidupan bercocok tanam. Mereka senang mengembara dan makanan utamanya merupakan tanaman jenis rerumputan.

Suatu saat, persediaan rerumputan yang menjadi makanan pokok masyarakat mulai menipis. Saat itu datanglah seorang perempuan yang tak diketahui asalnya, bernama Nyi Sri Gati.

Perempuan itu mengajak para pengembara untuk berdoa, meminta petunjuk kepada Hyang Widi supaya bisa mengatasi kekurangan pangan yang mereka alami. Tak lama kemudian datang serombongan burung sebangsa burung gelatik dengan membawa padi-padian, lalu menjatuhkannya di dekat para pengembara. Padi yang jatuh itu kemudian ditanam oleh Nyi Sri Gati.

Beberapa bulan kemudian, tanaman Nyi Sri Gati dapat dipanen. Ia kemudian menumbuk hasil panennya menjadi beras, yang kemudian diolah menjadi nasi. Selanjutnya, Nyi Sri Gati mengajarkan cara bercocok tanam kepada para pengembara.

Sejak saat itu, masyarakat pengembara menetap dan hidup dari bercocok tanam. Mereka menjadikan padi sebagai makanan pokok. Sementara itu, sebagian dari padi yang dijatuhkan burung berubah menjadi permata yang membuat Nyi Sri Gati kaya raya.

Pemugaran

candi gununggangsir pasuruan

©2021 Merdeka.com/Perpusnas Indonesia

Candi Gununggangsir belum pernah mengalami pemugaran secara menyeluruh. Secara keseluruhan bangunan Candi Gununggangsir masih megah berdiri, tetapi banyak bagian yang hancur. Candi ini disebut mengalami kerusakan berat pada zaman penjajahan Jepang. Banyak hiasan pada dinding candi yang diambil oleh tentara Jepang untuk membiayai perang.

Setelah Jepang tak lagi berkuasa, masyarakat setempat melakukan perbaikan sekadarnya tanpa didasari dengan pengetahuan memadai terkait pemugaran candi. Beberapa potongan bata atau hiasan dinding terlihat sangat berbeda dengan tempatnya menempel.

Bangunan Candi

candi gununggangsir pasuruan

©2021 Merdeka.com/Perpusnas Indonesia

Kaki Candi Gununggangsir berbentuk segi empat dengan dengan ukuran sekitar 15 x 15 m2. Tinggi bangunan candi mencapai sekitar 15 meter.

Di dalam tubuh candi terdapat ruangan yang cukup luas dan diperkirakan mampu menampung 50 orang. Pintu masuk ke ruangan tersebut terletak di sebelah barat, berjarak sekitar 5 meter dari tanah. Ada tangga yang cukup lebar yang menjorok jauh ke barat untuk mencapai pintu candi, namun tangga tersebut telah hancur sehingga sulit ditapaki.

Pada dinding di sisi kanan dan kiri atas pintu terdapat relung yang terlihat seperti tempat meletakkan arca. Relung di sisi selatan sudah hancur, sementara yang di sisi utara masih tampak bekasnya.

Atap candi berbentuk melengkung dengan ujung tumpul seperti puncak gunung. Bagian puncak atap sudah hancur, namun masih terlihat lapik penyangga puncak atap. Dari belakang, bangunan candi tampak seperti bukit kecil yang terbuat dari batu-bata, namun tidak terdapat relung-relung tempat meletakkan arca.

Beberapa hiasan masih menempel pada dinding candi. Di kiri dan kanan puncak tangga terdapat hiasan berupa pahatan gambar wadah berhiaskan sulur-suluran dan gambar seorang perempuan. Hiasan yang terbuat dari batu-bata tersebut sangat halus, nyaris terlihat sebagai hasil cetakan, bukan pahatan.

(mdk/rka)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP