Pertempuran Surabaya (3)

Saat Tentara Inggris Hampir Tersapu

Jumat, 29 Oktober 2021 07:07 Reporter : Merdeka
Saat Tentara Inggris Hampir Tersapu 10 November. ©Istimewa

Merdeka.com - Keputusan Brigade ke-49 menumpas para pejuang Indonesia berujung kepada hampir musnahnya mereka hanya dalam waktu dua hari.

Penulis: Hendi Jo

SURABAYA, 28 Oktober 1945. Beberapa jam setelah Jenderal Mayor Moestopo dan Residen Sudirman meninggalkan markas Brigade ke-49 British Indian Army (BIA), kesunyian membekap seluruh kota. Situasi mencekam tersebut berkelindan dengan berbagai kesibukan para pejuang Indonesia yang mulai memasang kembali brikade-brikade di jalanan. Tidak hanya menebang pohon-pohon yang kemudian dilintangkang di tengah jalan, mereka pun meletakan berbagai peralatan rumah tangga seperti kursi, meja, lemari dan alat-alat dapur sebagai halang rintang.

Sekitar pukul 16.00, kontak senjata pertama dimulai. Kawasan-kawasan sekitar Gedung Radio Surabaya, Kayoon dan lainnya menjadi medan pertempuran yang sengit. Bersamaan dengan itu, secara perlahan dari berbagai sudut kota, bergeraklah lebih kurang 140.000 orang (20.000 di antaranya pernah dilatih militer Jepang) mendekati posisi-posisi pasukan Inggris yang hanya berjumlah 4000 prajurit.

"Hingga tengah malam hampir semua pos Inggris terkepung," ungkap Nugroho Notosusanto dalam Pertempuran Surabaya.

Suasana semakin mencekam ketika menjelang malam secara tiba-tiba listrik di seluruh kota dipadamkan para pejuang Indonesia. Begitu juga hubungan telepon. Matinya aliran listrik membuat suplai air bersih ke pos-pos militer Inggris berhenti seketika. Kalap dengan kondisi tersebut, militer Inggris kemudian mulai menghajar posisi-posisi di luar pos-pos mereka dengan menggunakan artileri secara membabi-buta.

P.R.S Mani, salah seorang anggota Brigade ke-49, menjadi saksi bagaimana kepanikan melanda para serdadu Inggris. Tak ada cara lain, di tengah terputusnya komunikasi antara unit pasukan, para serdadu Inggris hanya bisa bertahan dengan menembaki segala sesuatu yang bergerak di hadapan mereka.

"Di radio kami mendengar semua pembicaraan antara Markas Besar dengan unit-unit yang masing-masing mengirimkan tanda SOS (sinyal bahaya)," kenang Mani dalam The Story of Indonesian Revolution 1945-1950.

Pertempuran sengit terus berlangsung sampai tengah malam. Menurut sejarawan militer Inggris bernama A.J.F. Doulton, para prajurit Inggris nyaris putus asa menghadapi gelombang serbuan musuh yang seolah tak akan berakhir. Para pejuang Indonesia bertarung secara fanatik tanpa memperhitungkan korban yang jatuh.

"Jika ada seorang dari mereka yang tewas, maka tempatnya akan langsung diganti dengan orang lain. Suatu pemandangan yang sangat mengerikan" ungkap Doulton dalam The Fighting Cock, The Story of the 23RD Indian Division.

Hingga 29 Oktober 1945, posisi pertahanan pasukan Inggris semakin kritis. Sekalipun mereka memiliki peralatan perang yang lengkap namun kehancuran tetap mengancam para pemenang Perang Dunia II tersebut. Situasi mencekam tidak hanya dialami oleh para prajurit Inggris di tengah kota yang sudah terkepung, di wilayah Pelabuhan Tanjung Perak pun mereka harus berlindung di sekitar dok-dok pelabuhan.

Secara perlahan namun pasti, beberapa tempat kembali dapat direbut oleh para pejuang Indonesia, termasuk Lapangan Terbang Morokrembangan. Begitu juga Gedung BPM, Gedung Internatio di dekat Jembatan Merah dan Gedung Lindeteves di dekat Jembatan Semut ada dalam kepungan kaum Republik.

Tiga puluh tahun kemudian, seorang veteran Pertempuran Surabaya bernama R.C. Smith (saat itu berpangkat kapten) membuat pengakuan kepada sejarawan J.G.A. Parrot. Pengakuan Smith yang dituliskan Parrot dalam Jurnal Indonesia yang diterbitkan Cornell University pada Juli 1976 menyatakan bahwa saat terjadinya pertempuran dua hari itu, sejatinya Brigadier A.W.S. Mallaby (Komandan Brigade ke-49) sudah merasa waswas jika semua itu tak bisa dihentikan, seluruh anak buahnya akan tersapu bersih.

Pernyataan Smith itu dikuatkan oleh Doulton. Veteran tentara Inggris itu menilai jika orang-orang Surabaya dibiarkan untuk terus beraksi maka pertempuran hanya akan berakhir dengan hancur leburnya Brigade ke-49 di sebuah kota asing bernama Surabaya.

"Kecuali ada seseorang yang bisa mengendalikan kemarahan orang-orang itu," ujar Doulton. [noe]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini