Mengapa Seseorang Bisa Tega Melakukan Revenge Porn? Ini Kata Psikolog

Revenge porn tidak hanya dilakukan dengan foto, tapi juga bisa dilakukan dengan menyebar video pribadi atau tangkapan layar chat yang bersifat seksual.

Tantri Setyorini
Oleh Tantri Setyorini - Reporter
Mengapa Seseorang Bisa Tega Melakukan Revenge Porn? Ini Kata Psikolog
Mengapa Seseorang Bisa Tega Melakukan Revenge Porn? Ini Kata Psikolog (Merdeka.com)

Beberapa hari terakhir, viral thread di Twitter yang memperingatkan keberadaan grup telegram khusus konten-konten revenge porn. Grup tersebut menjadi wadah untuk memperjualbelikan atau barter konten eksplisit perempuan-perempuan muda.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Grup tersebut juga menyertakan Google Form untuk mengisi akun media sosial dan sekolah perempuan yang ingin fotonya "dibugilin". Netizen langsung menyerukan agar grup-grup seperti ini segera di-report, karena aktivitasnya sudah masuk ke ranah revenge porn.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Apa Itu Revenge Porn?

Apa Itu Revenge Porn?
Dok. Istimewa

Menurut Merriam Webster, revenge porn adalah gambar-gambar bernuansa seksual eksplisit seseorang yang diposting online tanpa persetujuan orang tersebut, terutama utuk balas dendam atau pelecehan.

Menurut The First Amendment Encyclopedia, revenge pornography adalah istilah yang diberikan untuk praktik penyebaran gambar seseorang dalam keadaan telanjang atau berpartisipasi dalam tindakan seksual.

Menurut The First Amendment Encyclopedia, revenge pornography adalah istilah yang diberikan untuk praktik penyebaran gambar seseorang dalam keadaan telanjang atau berpartisipasi dalam tindakan seksual.
Dok. Istimewa

Dewasa ini, revenge porn tidak hanya dilakukan dengan foto. Kejahatan ini juga bisa dilakukan dengan menyebar video pribadi atau tangkapan layar chat yang bersifat seksual.

Dewasa ini, revenge porn tidak hanya dilakukan dengan foto.

Kejahatan ini juga bisa dilakukan dengan menyebar video pribadi atau tangkapan layar chat yang bersifat seksual.
Dok. Istimewa
Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Gambar dan video yang digunakan untuk revenge porn biasanya disebarluaskan bersama informasi pribadi dan akun media sosial korban revenge porn.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Menurut data tahun 2021 yang dirilis The Revenge Porn Helpline, 75% korban revenge porn adalah perempuan.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Persebaran foto atau video revenge porn biasanya diikuti cyberstalking dan pelecehan oleh pihak ketiga yang mengonsumsi konten tersebut melalui media sosial atau grup online.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Begitu gambar atau video pribadi korban tersebar, sulit untuk menghentikan peredarannya.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Sifat kejahatan revenge porn yang sulit dihentikan menjadi alasan utama korban merasa dipermalukan terus-menerus, putus asa, atau hidupnya berakhir.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Karena alasan yang sama, cukup banyak korban yang dikucilkan keluarga atau lingkungan di sekitarnya.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Korban revenge porn umumnya menunjukkan gejala yang mirip dengan pasien PTSD (Post-Traumatic Stress Syndrome).

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Menurut hasil riset End Revenge Porn, sebanyak 51% korban revenge porn di Amerika Serikat terpikir untuk bunuh diri. Korban yang benar-benar melakukannya juga tak sedikit.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Sebuah fakta mengejutkan, ternyata banyak orang yang tidak keberatan dengan revenge porn. Menurut survei tahun 2017 yang dilakukan para peneliti di University of Kent, Inggris, 87% partisipan menunjukkan ketertarikan dan persetujuan terhadap revenge porn.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Menurut laporan dari Broadly, mereka mewawancarai seratus orang berusia 18 tahun ke atas. Hasilnya, 99% partisipan yang tidak menolak revenge porn tadi memaklumi jika penyebaran gambar dan video pribadi dilatari sakit hati akibat putus cinta.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Menurut psikolog klinis, Dr. David Ley dalam sebuah artikel untuk Psychology Today, salah satu alasan yang diberikan oleh pasien-pasiennya yang melakukan revenge porn adalah kurangnya kesadaran atas dampak revenge porn bagi korban.

Para pelaku tak sadar kalau sirkulasi konten di era media sosial bisa membuat sasaran revenge porn mengalami cyberstalking, pelecehan online oleh netizen, pengucilan hingga kehilangan pekerja.

Para pelaku tak sadar kalau sirkulasi konten di era media sosial bisa membuat sasaran revenge porn mengalami cyberstalking, pelecehan online oleh netizen, pengucilan hingga kehilangan pekerja.
Dok. Istimewa

Sejumlah pria yang melakukan revenge porn juga mengaku kalau mereka "marah kepada kaum perempuan" dan ingin menjatuhkan mereka. Menurut Dr. Ley, alasan ini cukup jarang ditemukan. Namun sebagian besar kasus yang diberitakan besar-besaran biasanya dilatari motif seperti ini.

Herannya, ada juga pria pelaku revenge porn yang berpikir kalau perempuan bakal lebih bergairah jika foto-foto bugilnya disebarluaskan oleh para pria. Dalam kasus ini, pelaku adalah jenis pria yang justru bangga jika foto pribadinya disebarkan dan dikonsumsi oleh sekelompok wanita.

Rekomendasi