Mengenal Konklaf dan Makna Di Balik Warna Asap yang Mengepul Keluar Cerobong Kapel Sistina

Konklaf, proses pemilihan Paus, menyimpan misteri di balik asap berwarna dari Kapel Sistina; putih menandakan Paus baru terpilih, hitam sebaliknya.

Titah Mranani
Oleh Titah Mranani - Reporter
Mengenal Konklaf dan Makna Di Balik Warna Asap yang Mengepul Keluar Cerobong Kapel Sistina
Mengenal Konklaf dan Makna Di Balik Warna Asap yang Mengepul Keluar Cerobong Kapel Sistina (Merdeka.com)

Setiap kali takhta kepausan lowong, mata dunia seolah tertuju pada satu tempat yang sarat simbol: cerobong asap Kapel Sistina di Vatikan. Dari sanalah, isyarat sederhana namun penuh makna akan keluar: asap hitam atau asap putih. Kedua warna ini menjadi penanda penting bagi umat Katolik dan dunia: apakah para kardinal telah berhasil memilih paus baru atau belum? 

Kini, dengan wafatnya Paus Fransiskus pada 21 April 2025, proses pemilihan paus ke-267 pun akan segera dimulai pada 7 Mei 2025. Konklaf—ritual kuno dan sakral yang berlangsung tertutup—akan kembali digelar di Kapel Sistina, di tengah suasana penuh harap. 

Konklaf adalah pertemuan tertutup para kardinal Gereja Katolik untuk memilih Paus baru. Nama "konklaf" berasal dari bahasa Latin cum clave, yang berarti "dikunci dengan kunci". Sesuai namanya, para kardinal yang berhak memilih (berusia di bawah 80 tahun) akan dikurung secara ketat tanpa akses ke dunia luar hingga berhasil mencapai keputusan. 

Proses ini diawali dengan Misa Pro Eligendo Romano Pontifice sebagai bentuk doa bersama untuk memohon bimbingan Roh Kudus. Setelah itu, para kardinal memasuki Kapel Sistina dalam prosesi khidmat dan mengucapkan sumpah untuk menjaga kerahasiaan dan tidak terpengaruh intervensi pihak luar. 

“Extra omnes,” adalah kalimat sakral yang menandai dimulainya konklaf—seluruh orang yang tidak berhak hadir diminta keluar, meninggalkan para kardinal dalam kesendirian yang penuh tanggung jawab. 

Simbol yang paling dikenal dari konklaf adalah asap yang keluar dari cerobong Kapel Sistina. Asap hitam berarti belum ada keputusan—belum ada paus baru. Asap putih, sebaliknya, menjadi kabar gembira bahwa seorang Paus baru telah terpilih. 

Tradisi ini mulai diterapkan sejak abad ke-19 sebagai cara visual untuk menyampaikan hasil pemungutan suara kepada umat yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus. Setiap hari, para kardinal biasanya melakukan dua kali pemungutan suara di pagi dan dua kali di sore hari. Namun, asap hanya dikeluarkan dua kali sehari, mengikuti ritme itu. 

Asap ini bukan hanya simbol, melainkan juga berfungsi sebagai metode untuk menghancurkan surat suara secara aman, mencegah kebocoran informasi dari dalam konklaf. 

Pada awalnya, asap dihasilkan dari pembakaran surat suara dengan tambahan jerami basah untuk menghasilkan asap putih. Namun, metode ini kerap membuat warna asap tampak abu-abu, membingungkan orang-orang yang menyaksikan dari luar. 

Sebagai solusinya, sejak tahun 1958 ditambahkan bahan kimia khusus agar warna asap bisa terbaca lebih jelas: hitam pekat atau putih bersih. Pada konklaf tahun 2013 yang memilih Paus Fransiskus, bahkan digunakan perangkat tambahan untuk memastikan asap benar-benar berwarna putih. 

Tahun 2005, ketika Paus Benediktus XVI terpilih, asap putih keluar pukul 17.56 waktu Roma. Namun lonceng Basilika Santo Petrus tidak langsung dibunyikan, membuat umat ragu dan bertanya-tanya. Baru sembilan menit kemudian, lonceng berbunyi, menandai hadirnya pemimpin baru Gereja Katolik.

Sejak Kapel Sistina dijadikan tempat konklaf pada tahun 1878, sejarah mencatat berbagai kisah unik.

1922: Konklaf berlangsung lima hari dan menghasilkan Paus Pius XI setelah 14 kali pemungutan suara. Lima hari penuh asap hitam membuat warga Roma gelisah.

1939: Pemilihan tercepat. Paus Pius XII terpilih hanya dalam tiga kali pemungutan suara—dalam waktu kurang dari 30 jam.

2013: Konklaf memilih Jorge Mario Bergoglio sebagai Paus Fransiskus. Asap hitam muncul pada 12 dan 13 Maret pagi, tapi pada malam tanggal 13 Maret pukul 19.06, asap putih membumbung, dan satu jam kemudian umat mengenal Paus baru mereka.

Dengan wafatnya Paus Fransiskus, proses pemilihan penggantinya telah dijadwalkan dimulai pada 7 Mei 2025, setelah selesai digelarnya Novemdiales—sembilan hari misa untuk mendoakan arwah Paus yang wafat.

Sekitar 180 kardinal akan berkumpul, dengan lebih dari 100 di antaranya memiliki hak pilih. Selama konklaf, Kapel Sistina akan ditutup total untuk wisatawan, menandakan kesakralan dan eksklusivitas prosesi.

Untuk memilih Paus, diperlukan dua pertiga suara dari total kardinal yang hadir. Jika jumlah tidak habis dibagi tiga, dibutuhkan satu suara tambahan untuk mencapai mayoritas. Jika selama tiga hari belum tercapai hasil, para kardinal diperbolehkan rehat sejenak untuk berdoa dan berdiskusi secara bebas, sebelum proses dilanjutkan kembali.

Begitu seorang kardinal mendapatkan dua pertiga suara dan menyatakan kesediaannya, ia akan diminta memilih nama baru sebagai Paus. Dari momen itu, ia resmi menjadi pemimpin tertinggi Gereja Katolik sedunia.

Para kardinal akan menyatakan penghormatan dan ketaatan, lalu Paus baru akan muncul di balkon Basilika Santo Petrus dan menyampaikan berkat Urbi et Orbi.

Sang Kardinal Pro-Diakon akan lebih dahulu mengumumkan: "Annuntio vobis gaudium magnum; Habemus Papam"—kami mengumumkan kabar gembira besar; kita memiliki Paus.

Dalam dunia serba digital dan serbacepat seperti sekarang, simbol asap dari cerobong tua Kapel Sistina mungkin tampak kuno. Namun justru di situlah letak kekuatannya. Di tengah ketidakpastian dunia, asap putih dari Kapel Sistina menyampaikan pesan yang abadi: bahwa pemimpin spiritual telah dipilih, bukan oleh kekuatan politik, tetapi dalam keheningan doa, tradisi, dan semangat pelayanan.

Sementara dunia menanti kepulan asap putih berikutnya mulai 7 Mei nanti, satu hal pasti: setiap helai asap yang mengepul dari Kapel Sistina membawa harapan jutaan umat di seluruh dunia. Habemus Papam akan kembali menggema—tinggal menunggu warna langit Roma berubah putih.

Rekomendasi