Dokter Citra Rahmadani yang bertugas di Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Atma Husada Mahakam Samarinda, Kalimantan Timur, menyatakan bahwa depresi tidak hanya dialami oleh orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Kondisi ini dapat mengganggu perkembangan serta kualitas hidup mereka secara keseluruhan.
"Ada beberapa faktor yang dapat memicu depresi pada anak, yaitu stres, lingkungan, dan genetik," ujarnya. Stres dapat muncul dari tekanan yang dialami anak, seperti ketidakmampuan dalam menghadapi tugas atau aktivitas sehari-hari. Lingkungan, terutama yang berkaitan dengan keluarga dan pergaulan, juga memiliki pengaruh yang signifikan.
Di samping itu, faktor genetik turut berkontribusi dalam meningkatkan risiko terjadinya depresi pada anak. Citra juga menekankan pentingnya peran orangtua dalam mengenali tanda-tanda depresi yang mungkin muncul pada anak. "Orangtua harus peka terhadap perubahan perilaku anak. Jangan menganggap remeh perubahan sekecil apa pun," ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa komunikasi yang terbuka antara orangtua dan anak sangatlah penting. "Jangan sampai keluhan anak dianggap sepele. Dengarkan dan berikan dukungan," tambah Citra mengutip Antara. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa jika depresi tidak ditangani dengan baik, dampaknya bisa sangat serius.
"Depresi yang tidak ditangani bisa mengganggu aktivitas dan kualitas hidup anak, bahkan berisiko menyebabkan tindakan berbahaya," paparnya, simak ulasan lengkapnya yang dilansir Merdeka.com dari berbagai sumber, Jum'at (24/1/2025).
Advertisement
Tingkatan Depresi pada Anak dapat Bervariasi
Citra mengingatkan bahwa depresi dapat memiliki berbagai tingkat keparahan, yang mencakup ringan, sedang, dan berat. Gejala yang sering muncul pada penderita depresi antara lain adalah perubahan suasana hati, kehilangan minat pada aktivitas yang biasanya disukai, gangguan tidur, serta kesulitan dalam berkonsentrasi.
Apabila gejala-gejala tersebut berlangsung terus-menerus selama dua minggu atau lebih, ia merekomendasikan agar individu tersebut segera mencari bantuan dari tenaga profesional. "Kenali faktor risiko dan gejala depresi pada anak. Jangan ragu untuk mencari bantuan profesional jika diperlukan," tutupnya.
Advertisement
Mendiagnosis Depresi dengan Tepat
Menurut laman Kemenkes, diagnosis depresi harus dilakukan oleh tenaga medis yang profesional, seperti dokter atau psikiater.
Proses ini melibatkan evaluasi psikologis dan, jika diperlukan, pemeriksaan fisik. Untuk menentukan diagnosis yang tepat, umumnya digunakan panduan yang dikenal sebagai Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5).
Panduan ini menetapkan kriteria yang jelas untuk mendiagnosis depresi, berdasarkan gejala yang dialami oleh individu dalam jangka waktu tertentu.
Advertisement
Pengobatan untuk depresi dapat dilakukan dengan berbagai cara
Pada diagnosis depresi, pengobatan yang diterapkan bersifat holistik dan dapat mencakup berbagai pendekatan, seperti terapi obat dan terapi psikologis.
Dalam konteks ini, "Terapi Obat: Dokter dapat meresepkan antidepresan untuk membantu mengurangi gejala depresi. Antidepresan yang umum digunakan termasuk SSRIs (Selective Serotonin Reuptake Inhibitors), SNRIs (Serotonin-Norepinephrine Reuptake Inhibitors)."
Selain itu, terapi psikologis juga memainkan peranan penting. Terapi seperti terapi kognitif perilaku (CBT) dan terapi bicara berfungsi untuk membantu individu mengatasi pikiran negatif, mengembangkan strategi untuk mengelola stres, serta mempelajari keterampilan baru yang dapat membantu mereka menghadapi depresi.