Bagi Generasi Z, kemampuan mengelola keuangan dengan baik masih tergolong rendah. I Wayan Nuka Lantara, pengamat di bidang perbankan dan keuangan, menekankan pentingnya menetapkan tujuan keuangan jangka pendek dan panjang. Salah satu kunci untuk mencapai stabilitas finansial adalah kebiasaan menabung dan berinvestasi. Wayan menyarankan agar Gen Z meningkatkan pendapatan dan mengurangi pengeluaran dengan disiplin, serta belajar menyusun skala prioritas antara kebutuhan dan keinginan.
Selain itu, fenomena Fear of Missing Out (FOMO) yang sering mendorong perilaku konsumtif, seperti penggunaan Pay Later atau pinjaman online, harus dihindari.Wayan juga memberikan tips mengelola keuangan dengan cara membagi dana ke dalam alokasi yang tepat, seperti dana darurat, investasi, dan konsumsi. Ia mengingatkan bahwa meraih kemerdekaan finansial membutuhkan waktu dan kebiasaan konsisten dalam menabung serta merencanakan keuangan.
Untuk Gen Z yang ingin mulai berinvestasi, Wayan menyarankan untuk memulai dengan reksadana, yang memungkinkan investasi dengan modal kecil, lalu bisa berkembang ke instrumen lain seperti saham, obligasi, atau bahkan cryptocurrency. Dengan memahami investasi dan disiplin dalam mengelola keuangan, Gen Z dapat mencapai kestabilan finansial di masa depan, dilansir Merdeka.com dari berbagai sumber, Rabu(22/1/2025).
Advertisement
Bagi Generasi Z, kemampuan dalam menyusun anggaran yang sehat dan efektif merupakan salah satu langkah pertama menuju pengelolaan keuangan yang baik. Menyusun anggaran bukan hanya soal mencatat pemasukan dan pengeluaran, tetapi juga memahami prioritas keuangan jangka panjang dan mengatur alokasi dana secara bijak.
Salah satu prinsip yang perlu diterapkan adalah "pay yourself first," yaitu mengutamakan tabungan atau investasi sebelum memenuhi kebutuhan konsumtif.Langkah pertama dalam menyusun anggaran adalah mengidentifikasi sumber pemasukan yang stabil.
Untuk Gen Z, pendapatan ini bisa berasal dari pekerjaan tetap, pekerjaan paruh waktu, atau bahkan kegiatan usaha sampingan. Setelah itu, penting untuk mengategorikan pengeluaran menjadi dua jenis utama: kebutuhan dan keinginan.
Kebutuhan mencakup pengeluaran untuk kebutuhan dasar seperti makan, tempat tinggal, dan transportasi, sementara keinginan adalah pengeluaran untuk barang atau layanan yang sifatnya tidak mendesak.
Mengelompokkan pengeluaran ini membantu dalam mengontrol pengeluaran yang tidak perlu dan menjaga agar uang tidak terbuang percuma pada hal-hal yang tidak memberikan dampak jangka panjang terhadap keuangan.
Advertisement
Setelah memiliki anggaran yang jelas, langkah selanjutnya adalah menetapkan strategi menabung dan investasi. Menabung bukan hanya tentang menyisihkan uang, tetapi juga tentang disiplin dalam melakukannya secara konsisten. Gen Z sebaiknya mulai dengan menyisihkan persentase tetap dari pendapatan mereka untuk tabungan dan dana darurat.
Sebagai patokan, menyisihkan minimal 20% dari pendapatan bulanan ke dalam tabungan atau rekening investasi adalah langkah yang bijaksana untuk memastikan kestabilan finansial.Di sisi lain, investasi menjadi elemen penting dalam merencanakan masa depan keuangan.
Gen Z, yang umumnya memiliki horizon waktu lebih panjang, memiliki keuntungan untuk memulai investasi lebih awal dan memanfaatkan kekuatan compound interest. Reksadana menjadi pilihan yang ideal bagi pemula karena memungkinkan diversifikasi portofolio dengan modal yang lebih terjangkau.
Seiring dengan meningkatnya pemahaman mengenai pasar keuangan, instrumen investasi lainnya seperti saham, obligasi, dan bahkan cryptocurrency bisa dipertimbangkan, tentu dengan analisis dan pemahaman risiko yang lebih mendalam.
Dengan investasi yang terencana, Gen Z dapat mulai membangun kekayaan dan memastikan kesiapan finansial di masa depan.