Jelantah4Change, Gerakan Sosial untuk Selamatkan Lingkungan Berbasis Minyak Jelantah

Jelantah4Change adalah komunitas gerakan sosial berbasis minyak goreng bekas (minyak jelantah) yang melakukan edukasi publik, pengelolaan limbah, dan pemberdayaan masyarakat.

Tantri Setyorini
Oleh Tantri Setyorini - Reporter
Jelantah4Change, Gerakan Sosial untuk Selamatkan Lingkungan Berbasis Minyak Jelantah
Ilustrasi minyak jelantah. ©Unsplash/Ashwini Chaudhary

Minyak jelantah merupakan jenis limbah yang hampir selalu ditemukan di setiap rumah tangga. Bisnis kuliner seperti katering, restoran, dan kafe juga rutin memproduksi limbah ini setiap harinya. Mengingat konsumsi minyak goreng rumah tangga Indonesia yang mencapai 13 juta ton, bukan yang mengherankan jika pembuangan dan pengolahan minyak jelantah menjadi masalah lingkungan tersendiri. Menanggapi masalah ini, lahirlah Jelantah4Change.

Jelantah4Change adalah komunitas gerakan sosial berbasis minyak goreng bekas (minyak jelantah) yang melakukan edukasi publik, pengelolaan limbah, dan pemberdayaan masyarakat. Gerakan ini dinaungi PT Wasteforchange Alam Indonesia (Waste4Change), perusahaan yang menyediakan layanan pengelolaan sampah dari hulu ke hilir dengan visi mengurangi jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan sampah.

Sebagai perusahaan yang bergerak dalam pengelolaan sampah, Waste4Change berupaya menerapkan strategi melalui perubahan ekosistem pengelolaan sampah yang bertanggungjawab dengan berlandaskan kolaborasi dan teknologi menuju penerapan ekonomi melingkar (circular economy) dan Indonesia Bebas Sampah.

Sementara itu, Jelantah4Change diluncurkan pada 26 Maret 2016. Program utamanya adalah mengumpulkan dan mengolah limbah minyak jelantah. Di tahun pertama, Jelantah4Change memulai aktivitasnya di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Hingga Juli 2020, Jelantah4Change telah menjangkau 30 Kota/Kabupaten yang tersebar di 11 Provinsi di Indonesia.

Disalurkan dan Diolah Kembali menjadi Produk Bernilai Ekonomis

Minyak jelantah yang berhasil dikumpulkan Jelantah4Change akan disalurkan ke produsen daur ulang minyak jelantah yang dapat dimanfaatkan kembali sebagai produk-produk alternatif yang dapat digunakan kembali.

"Minyak jelantah yang telah terkumpul akan disalurkan ke produsen daur ulang minyak jelantah yang dapat dimanfaatkan kembali sebagai produk-produk alternatif yang dapat digunakan kembali," kata Edy Supriyanto, Business Development Waste4Change dalam webinar A-Z Tentang Minyak Jelantah bersama Waste4Change dan Jelantah4Change (20/3/2021).

Jelantah4Change melakukan edukasi secara masif di masyarakat, melakukan penjemputan dari rumah ke rumah, mengumpulkan dalam beberapa waktu, hingga melakukan pengiriman minyak jelantah ke pihak pemanfaat yang bertanggung jawab.

Gerakan ini juga melakukan kunjungan rutin ke pihak pemanfaat seperti pabrik pengolahan sabun untuk memastikan minyak jelantah diolah dengan baik dan benar.

Saat ini, Jelantah4Change berupaya terus meningkatkan jumah jelantah yang terkumpul setiap tahunnya. Pada tahun 2015, volume jelantah yang terkumpul hanya 15 liter, lalu di tahun 2016 meningkat menjadi 1250 liter, dan seterusnya hingga mencapai 5659 liter di tahun 2019. Seluruh minyak jelantah yang terkumpul berasal dari rumah tangga.

Aksi Jelantah4Change juga aktif mengajak masyarakat untuk menjadi Mitra Daur Ulang (MDU) Waste4Change. MDU akan menjalankan layanan Send Your Waste dengan tugas mengumpulkan, mengemas, dan menyimpan sementara limbah minyak jelantah untuk kemudian dikirim atau diangkut ke industri daur ulang.

MDU juga menjadi mitra layanan Drop Point dengan tugas mengangkut sampah atau limbah di titik lokasi letak drop point, kemudian mengumpulkan, mengemas, dan menyimpan sementara untuk dikirim atau diangkut ke industri daur ulang. Kemitraan ini bakal menciptakan peluang bagi Usaha Kecil dan Menengah (UKM), karena MDU akan mendapatkan insentif dari minyak jelantah yang berhasil dikumpulkannya.

Rekomendasi