Asyiknya Traveling ke Tiga Kota Cantik China dan 'Narsis' di Media Sosial (bagian 1)

Musim liburan akhir tahun telah tiba. Biasanya warga Indonesia mengisi liburan dengan mengunjungi negara empat musim. Musim salju menjadi daya pesonanya. Salah satu negara tujuan favorit adalah China. Simak cerita menarik liburan ke tiga kota di China tanpa hambatan bernarsis ria di media sosial dan WhatsApp!

Syakur Usman
Oleh Syakur Usman - Reporter
Asyiknya Traveling ke Tiga Kota Cantik China dan 'Narsis' di Media Sosial (bagian 1)
traveling ke shanghai. ©2018 Merdeka.com

Welcome Desember, selamat datang liburan akhir tahun.

Ya, liburan di Desember merupakan salah satu musim liburan besar di Indonesia. Di bulan terakhir ini, biasanya diisi dengan liburan di negara bermusim dingin alias negara yang memiliki empat musim. Menikmati musim dingin (baca: salju) menjadi daya tarik tersendiri bagi warga negara tropis seperti Indonesia.

Tak heran bila musim liburan di Desember hingga Januari, negara-negara yang memiliki empat musim menjadi tujuan favorit warga negara Indonesia. Menghabiskan waktu liburan dengan sensasi melihat saju turun dan bermain-main dengan salju. Inilah pesona negara dengan empat musim yang tiada dimiliki pelancong asal Indonesia.

Nah, negara China menjadi salah satu tujuan favorit wisata di musim dingin tersebut. Setidaknya berdasarkan data pengguna jasa sewa Wi-Fi saku, JavaMifi, pada periode liburan musim lalu. Ya, menurut JavaMifi, China masuk kelompok lima besar tujuan utama pelancong Indonesia dengan 8,4 persen termasuk Hong Kong dan Macau. Negeri Tirai Bambu ini menggeser Korea Selatan dari Top 5. Sementara di posisi pertama destinasi favorit adalah Jepang dengan 24,1 persen. Disusul Eropa (17,5 persen), Singapura (12,5 persen), dan Australia-Selandia Baru (7,9 persen).

Melihat potensi China yang semakin besar sebagai tujuan favorit pelancong Indonesia di masa mendatang terutama periode liburan musim dingin, JavaMifi melakukan media trip ke tiga kota utama di China; Shanghai-Suzhou-Hangzhou pada awal Desember ini.

Merdeka.com termasuk yang diundang bersama dua media lainnya untuk menikmat wisata musim dingin sekaligus menguji coba layanan Wi-Fi saku di China yang tanpa virtual private network (VPN)! Perlu diketahui, regulasi China membatasi akses internet warganya dengan teknologi VPN. Tanpa VPN, aplikasi global macam WhatsApp, Instagram, Facebook, dan Google tidak bisa diakses di Negeri Tirai Bambu ini.

Simpelnya, dengan JavaMifi, pelancong bisa bebas mengakses layanan WhatsApp, Instagram, Facebook, Google Maps dengan baik, tanpa harus mengunduh software VPN selama berada di China. Asyik bukan!

Singkatnya, kami berenam berangkat menuju Bandara Internasional Pudong, Shanghai, pada Rabu tenggah malam, pekan lalu, menggunakan maskapai kebanggaan negeri, Garuda Indonesia.

Memakan waktu sekitar 6 jam, kami tiba di Bandara Internasional Pudong sekitar jam 7 pagi waktu setempat. Ingat dengan misi awal menguji layanan JavaMifi, saya pun langsung menyalakan perangkat WiFi saku JavaMifi yang sudah diberikan di Bandara Soekarno-Hatta.

traveling ke shanghai ©2018 Merdeka.com

Caranya mudah. Cukup memasukkan nama Wi-Fi saku dan kata sandi yang sudah tertera di belakang perangkat, akses internet dengan JavaMifi pun bisa digunakan. Saya pun langsung mengoneksikan dengan dua smarphone saya. Dan ingat, tanpa repot unduh VPN!

Pembuktian pertama adalah dengan memperbarui status check-in di Bandara Pudong di akun Facebook saya, serta story di akun Instagram. Tanpa VPN lagi dan cepat pula. Menjelang Imigrasi China, terpaksa bermain-main di media sosial saya hentikan sebelum ditegur pihak Imigrasi.

Setelah lolos dari Imigrasi China, kami pun berada di terminal kedatangan Bandara Pudong yang pagi itu bersuhu sekitar 5 derajat celsius. Sambil menunggu bagasi, momen ini dimanfaatkan dengan aksi foto-foto. Jepret sana, jepret sini, lalu unduh di media sosial yang langusung update, berkat akses internet dari JavaMifi.

traveling ke shanghai ©2018 Merdeka.com

Ada satu pos pemeriksaan lagi sebelum kami keluar bandara. Setelah melewati pos ini, tour leader kami sudah menunggu. Panggil saja Miss Ling. Perempuan asal Shanghai ini ternyata cukup fasih berbahasa Indonesia. "Bapak-ibu, selamat datang di Shanghai ya. Di Shanghai pagi ini suhunya sekitar 5 derajat plus angin," ujarnya memecah 'kebekuan'.

Miss Ling pun menyarankan kami memakai jaket musim dingin, karena di luar angin dingin lumayan kencang. Benar saja, begitu menungggu mobil van jemputan, udara dingin menyergapkan badan kami, orang tropis yang paling hanya tahan dingin di kisaran suhu 15 derajat celcius, tapi ini 5 derajat! Brrrr tak tahan dingin, jaket tebal pun menutup badan kami rapat-rapat. Mobil van eksklusif pun segera kami naiki untuk menghindari angin dingin ala Shanghai, salah satu kota termodern di China daratan.

Untunglah, van ini menyediakan penghangat.

Tujuan 1: Oriental Pearl TV Tower

Destinasi pertama kami adalah Oriental Pearl TV Tower, salah satu menara tertinggi di dunia, sekaigus land mark Shanghai. Tingginya mencapai 468 meter.

Waktu masih sekitar jam 8 pagi, suasana perkantoran di sana belum begitu hidup. Banyak toko masih tutup. Tak lama bus men-drop off kami di jalan masuk TV Tower ini, rombongan wisatawan dalam jumlah besar menyusul kami. Miss Ling pun meminta kami menyusulnya, supaya kami bisa masuk lebih dulu dari rombongan itu. Maklum saja antrean di sana lumayan panjang, jika musim liburan tiba. Mumpung masih pagi, akses masuk ke salah satu obyek wisata utama di Shanghai pun tak begitu panjang antreannya.

traveling ke shanghai ©2018 Merdeka.com

Lewati dua pos pemeriksaan, kami pun memasuki menara ini dengan bergegas. Ternyata antrean sudah mengular untuk menaiki lift menuju lantai 263! Di lantai ini, ada spot sightseeing kota Shanghai dari ketinggian 263 meter! Luar biasa, gedung-gedung tinggi pencakar langit langsung mempesona saya. Beragam desain gedung yang cantik dan unik menjadi wajah modern Shanghai masa kini.

traveling ke shanghai ©2018 Merdeka.com

Oya, kita bisa berkeliling di spot yang berbentuk lingkaran ini. Sungai Huangpu yang membelah Shanghai juga tampak kentara. Bagai naga yang meliuk-liuk membelah kota.

Meski tinggi, jangan takut dingin di sini. Karena spot ini tertutup dengan kaca tebal. Kecuali pos sightseeing di lantai 259! (bersambung)

Rekomendasi