Sudah pernah mendengarkan lagu Geef Mij Maar Nasi Goreng? Ini adalah lagu Belanda yang didedikasikan khusus untuk makanan Indonesia, lebih tepatnya nasi goreng dan telur ceplok. Pengarangnya adalah Wieteke van Dort, seorang aktris, pelawak, dan penyanyi asal Belanda.
Wieteke merupakan salah satu warga Belanda yang dibesarkan dalam budaya Indo-Belanda. Perempuan berusia 73 tahun ini lahir di Surabaya pada tahun 1943. Pada masa-masa nasionalisasi yang digalakkan oleh presiden Soekarno, Wieteke dan keluarganya harus mengikuti repatriasi, pulang ke negeri kincir bersama ribuan keluarga Belanda lainnya. Saat itu usianya masih 14 tahun.
Wieteke van Dort sebagai Tante Lien. © Flickr/JanvanSchijndel
Di masa dewasa, Wieteke menuai sukses lewat program televisi The Late Late Lien Show. Dalam acara tersebut, dia memerankan karakter Tante Lien, seorang wanita Indo-Belanda dengan aksen pribumi yang sangat medok. Bahkan sampai sekarang, Wieteke masih menggunakan aksen khasnya itu.
The Late Late Lien Show. © IMDB
"Mijn stem nog steeds boleh, loh. Laten we onze taal, ons accent, in ere houden. Djedar djedoer, omong kosong en hantem kromo. Banjak tjioem tjioem van Tante Lien," tutur Wieteke dalam situs pribadinya. Kurang lebih artinya, "Suaraku masih boleh, loh. Mari kita menjaga bahasa kita, dialek kita, dan hidup kita. Jedar-jedor, omong kosong, dan hantem kromo. Cium yang banyak dari Tante Lien."
Penasaran seperti apa lagu Geef Mij Maar Nasi Goreng? Berikut lirik lagu serta videonya.
Advertisement
Advertisement
Selain nasi goreng, Wieteke juga menyebutkan sejumlah makanan lokal yang dia sukai, antara lain tahu petis, ketan gula Jawa, terasi, lontong, dan serundeng. Berikut lirik lengkapnya.
Ketika kami meninggalkan negeri zamrud
Sama sekali tak disangka jika negeri Belanda begitu dingin
Tetapi yang keterlaluan adalah makanannya, benar-benar payah
Kentang, daging, dan sayuran serta gula dan nasi
Beri saja aku nasi goreng dengan telur ceplok
Dengan sambal dan kerupuk serta segelas bir terbaik
Tidak ada lontong, sate babi, dan rasa pedas sedikit pun tidak ada
Tidak ada terasi, serundeng, bandeng, tahu petis pun tiada
Kue lapis, onde-onde, ketela maupun bakpau tak ada
Tidak ada ketan dan gula jawa, karena itu kukatakan
Beri saja aku nasi goreng dengan telur ceplok
Dengan sambal dan kerupuk serta segelas bir terbaik
Sekarang aku sudah terbiasa, ya, makan boerenkol dengan daging cincang
Hutspot, dengan klapperstuk, minum susu untuk menghilangkan rasa haus
Stamppot dengan andewi, spruitjes, sup kapri
Tetapi, toh, yang paling enak hanya nasi, ya, dan karena itu selalu kukenang
Sumber: IMDB, Wietekevandort.nl, Rijsttafel: Budaya Kuliner di Indonesia Masa Kolonial 1870-1942