Potret kecantikan wanita-wanita idaman dari masa lalu

Kecantikan klasik yang mereka miliki tak akan pernah lekang dimakan waktu, sekakipun standar kecantikan terus berubah.

Tantri Setyorini
Oleh Tantri Setyorini - Reporter
Potret kecantikan wanita-wanita idaman dari masa lalu
Dovima. © Revlon

Potret-potret ini mencerminkan kecantikan dari masa lalu. Pada saat rekayasa digital maupun makeover belum dikenal, kecantikan mereka tetap memukau para fotografer.

Mereka adalah sosok wanita ideal dari era lampau, dengan pesona yang tak akan pernah pudar meskipun standar kecantikan terus berganti. Inilah perempuan-perempuan jelita dari masa lalu, mulai dari Yoha sang geisha hingga Dovima, supermodel kondang dari tahun 1950-an.

Marcia Pascal

Marcia Pascal © Vintage Everyday

Perempuan cantik nan eksotis ini merupakan contoh perpaduan dua ras dari abad 19. Pascal menyimpan darah suku Indian, Cherokee dari ibunya dan ciri Kaukasia dari ayahnya, George W. Pascal yang seorang tentara.

Dovima

Dovima © Henry Clarke

Dovima merupakan singkatan dari Dorothy Virginia Margaret Juba. Dia terhitung sebagai supermodel dari tahun 1950-an, walaupun pada masa itu istilah 'supermodel' sendiri masih belum dikenal. Dovima ditemukan oleh editor Vogue di jalanan New York. Sejak itu karirnya menanjak dengan cepat.

Dovima menjadi model langganan berbagai produk kecantikan bergengsi dengan bayaran termahal pada masa itu tak hanya karena paras dan tubuhnya yang nyaris sempurna. Dia juga dikenal karena selera modenya yang elegan bak kaum bangsawan.

Yoha

Yoha (1896-1995) termasuk salah satu geisha paling tersohor dalam sejarah dunia hiburan Jepang. Perempuan bernama asli Chiso Takaoka ini dianggap sebagai salah satu geisha paling dikagumi pada era Meiji dan Taisho. Nama geishanya berarti 'daun musim gugur yang cantik'.

Yoha dijual ke salah satu okiya (rumah geisha) oleh ayahnya pada usia 12 tahun. Pada usia 15 tahun, Yoha terlibat skandal asmara yang mencoreng reputasinya sebagai geisha. Kejadian ini membuat Yoha harus mengganti nama, pindah ke Tokyo, dan melakukan debut untuk kedua kalinya.

Evelyn Nesbit

Evelyn Nesbit © Harvard Theatre Collection

Evelyn Nesbit merupakan sosok wanita ideal dari zaman awal tahun 1900-an. Perempuan ini dianggap sebagai cerminan sempurna Gibson Girls, sosok wanita idaman yang dipopulerkan oleh ilustrator Charles Dana Gibson.

Bisa dikatakan Nesbit merupakan sosok Marilyn Monroe pada awal abad 20. Wajahnya muncul dalam berbagai poster iklan, lukisan, dan majalah. Sosoknya juga menjadi inspirasi berbagai film, buku, lukisan, dan lagu.

Qiu Jin

Qiu Jin menjadi wanita China pertama yang memimpin pasukan revolusioner untuk melawan Dinasti Qing yang korup.

Qiu Jin (1875-1907) dianggap sebagai Joan of Arc-nya China. Perempuan perkasa ini sudah meneriakkan kesetaraan hak antara pria dan wanita jauh sebelum konsep feminisme diagungkan seperti sekarang.

Mary Vetsera

Baroness Marie Alexandrine von Vetsera (1871–1889) adalah sosialita pada masa kerajaan Austria. Meskipun berasal dari golongan bangsawan kelas dua, Mary menjadi pujaan kaum aristokrat karena kecantikan dan selera berbusananya yang modis.

Vetsera menjadi tokoh penting dalam sejarah kerajaan Austria karena skandal asmaranya bersama Putra Mahkota Rudolf. Vetsera tewas dalam upaya bunuh diri bersama yang dilakukan oleh Rudolf di rumah berburu Mayerling. Saat itu usianya baru 18 tahun.

Soekarno

Hariyatie dan Soekarno © Istimewa

Rasanya tak salah jika menyebut Haryatie, salah satu istri mendiang presiden Soekarno sebagai sosok wanita ideal dari masa lalu. Haryatie yang seorang penari istana memiliki kecantikan sederhana dan keanggunan khas wanita Jawa yang membuat sang proklamator terpesona dan nekat menikahinya.

Ratu Geraldine Dari Albania

Geraldine dari Albania © Royalty Magazine - The Richest

Ratu Geraldine adalah permaisuri bernasib tragis yang harus menyaksikan kejatuhan Kerajaan Albania. Perempuan yang terlahir sebagai bangsawan Hungaria ini tumbuh dalam kemiskinan karena keluarganya dilucuti dari tahta dan seluruh harta mereka ketika negara itu kalah dalam Perang Dunia I. Geraldine harus membanting tulang untuk bertahan hidup di Budapest sebelum memikat hati raja Albania lewat selembar foto.

Namun dia hanya sempat mencicipi kejayaan sebagai permaisuri selama setahun. Albania ditaklukkan oleh rezim Mussollini, memaksa Geraldine, suami, dan anak-anaknya melarikan diri ke luar negeri. Sang ratu pun menghabiskan sisa hidupnya di pengasingan.

Rekomendasi