Saat Dolly masih buka, banyak anak yang dewasa sebelum waktunya

Kini mereka berperilaku lebih positif, seperti mengaji dan pergi ke gereja.

Yoga Tri Priyanto
Oleh Yoga Tri Priyanto - Reporter
Saat Dolly masih buka, banyak anak yang dewasa sebelum waktunya
Suasana Jarak dan Dolly setahun setelah penutupan. ©2015 Merdeka.com/Tantri Setyorini

Seratus hari pasca penutupan lokaliasasi Dolly di Surabaya ternyata berujung manis. Meskipun tak sedikit pula yang hingga kini mempertanyakan keputusan mengapa Dolly ditutup karena berhubungan dengan penghasilan mereka yang merosot tajam.Di sisi lain, sejumlah orang sudah merasa nyaman dan bahagia pasca Dolly ditutup. Hal tersebut diungkapkan oleh Yayuk. Dia mengatakan bahwa ada perubahan positif yang dirasakan dari anak-anak remaja di sekitarnya."Dulu mereka (anak-anak remaja) banyak meniru kata-kata kotor, ikut dandanan mbak-mbaknya (PSK). Sekarang kegiatannya positif, ke gereja, ngaji," ujar Yayuk kepada tim merdeka.com (22/10).Pengakuan Yayuk dipertegas oleh Kartono, seorang mantan mucikari dan pemilik wisma. Menurut Kartono, sebagian besar anak yang ada di sini adalah anak PSK, mucikari, atau anak dari rumah tangga biasa yang terpengaruh budaya negatif di Jarak. Pasalnya, berbeda dengan Dolly yang terkonsentrasi, wisma-wsima di Jarak membaur dengan rumah tangga warga. Sehingga anak-anak di sini mendapatkan pengaruh psikis yang lebih besar dari bisnis prostitusi."Anak sini belum waktunya dewasa sudah dewasa duluan," ujar Kartono.Dia ingin melindungi anak-anak yang tinggal di kompleks Jarak dari pengaruh buruk prostitusi dengan cara memberikan pendidikan yang cukup bagi mereka. "Mereka akan terlindungi kalau mendapatkan informasi yang banyak," lanjutnya.Kartono memutuskan untuk menutup wisma dan mendirikan taman baca setelah dia mendapat 'pencerahan' dari membaca dan melihat kondisi salah satu PSK yang menderita penyakit. Taman baca yang didirikan Kartono bernama Taman Baca Kawan Kami. Perpustakaan kecil ini berdiri sejak tahun 2007, sebelum Dolly ditutup. Sekarang dia dipekerjakan sebagai konsultan perpustakaan oleh pemerintah kota dan rutin meninjau perpustakaan di sekolah-sekolah Surabaya.

Rekomendasi