Bicara tentang kesenian tradisional yang berusaha bertahan dari gerusan zaman, tentu tak lepas dari upaya pemerintah dan organisasi. Di Malang sendiri, terdapat sebuah organisasi ludruk yang disebut dengan PALMA atau Paguyuban Ludruk Arek Malang.
Pada tahun 1984, Malang memiliki organisasi ludruk POLMA (Paguyuban Organisasi Ludruk Malang). Suyono, salah seorang seniman ludruk Malang, adalah salah satu pengurusnya.
Pada masa itu, Suyono mengaku kesenian ludruk masih berkembang. Namun menurutnya, paguyuban ludruk Malang yang ada saat ini seakan mati suri.
Ketika ditanya mengenai usaha mengembangkan ludruk bersama organisasi tersebut, Suyono mengatakan bahwa hal tersebut akan sangat sulit.
"Sulit Mas, sedangkan PALMA sendiri itu, sekarang tidak jalan," ungkap Suyono pada merdeka.com (15/10).
Suyono mengakui bahwa vakumnya organisasi ludruk diakibatkan oleh komunikasi yang kurang antara para seniman ludruk dengan pengurus organisasi. Tak hanya PALMA, Dewan Kesenian Malang (DKM) juga dinilai 'mati suri' oleh Suyono.
Hal ini sangat disayangkan mengingat besarnya pengaruh dan dukungan yang sebenarnya bisa diberikan oleh lembaga dan organisasi daerah bagi kelestarian ludruk.
Sementara para seniman ludruk, baik individu maupun kelompok, berusaha keras mempertahankan kesenian tradisional Jawa Timur ini, organisasi Ludruk di Malang malah sedang 'tertidur'.