Ludruk memang tak sejaya dulu, namun Suyono, maestro ludruk asal Malang, tidak pernah berhenti berusaha untuk menghidupkannya kembali. Bahkan, ia sampai harus menjual perhiasan istri demi biaya manggung.
Ditemui di kediamannya awal pekan lalu oleh tim merdeka.com, pria yang akrab dipanggil Yono ini terlihat hidup sederhana. Bagaimana tidak, rumah yang hanya berukuran sekitar 6x3 meter itu adalah tempat tinggal maestro ludruk ini. Padahal, namanya pernah besar di tahun 1950-an.
Akhir tahun 1960-an, ketika ludruk mulai meredup, Yono memang sempat beralih karir dan bekerja di dunia sponsor. Meski tetap bermain ludruk, Yono mengakui bahwa minimnya dana membuat kakek lima cucu ini cukup sulit mengumpulkan pundi-pundi dana untuk manggung.
Sampai saat ini, pria yang dilahirkan 75 tahun silam tersebut bahkan mengaku masih 'berhutang' pada istrinya. Ongkos perawatan peralatan ludruk dan biaya administrasi lainnya memang besar dan tidak cukup jika mengandalkan honor manggung saja.
"Saya itu masih punya hutang sama istri, perhiasan dia saya jual semua buat ludruk. Bener ini," akunya.
Selain kesulitan dana, kurang adanya dukungan pemerintah dan ketiadaan regenerasi juga menjadi penyebab utama mundurnya kesenian tradisional ludruk. Namun Yono tidak menyerah atas kendala tersebut. Ia justru berusaha melestarikan ludruk agar tetap hidup, salah satunya mengajak bergabung anak-anak muda dari tim teater universitas.
Mengenai putra dan putrinya, memang tidak ada penerus pemain ludruk dalam di antara mereka. Meskipun dulu beberapa putra Yono juga sempat mencoba terjun ke dunia ludruk. Sayang ternyata jiwa mereka tidak sekuat Yono untuk menekuni ludruk.
"Alhamdulillah, meskipun nggak ada anak-anak yang nerusin ludruk, mereka bangga punya bapak yang main ludruk," cerita Yono ketika ditanyai pendapat putra dan putrinya tentang pekerjaan yang ditekuninya selama puluhan tahun.
Yono pun berharap agar ludruk tetap dilestarikan. Maka dari itu ia bertekad untuk mendedikasikan hidupnya demi ludruk meskipun anak-anaknya tidak ada yang meneruskan jejaknya.