Suyono, seorang maestro Ludruk asal Malang yang namanya pernah besar namun kini terlupakan. Selama kurang lebih 54 tahun menggeluti ludruk, Yono tetap memiliki keinginan untuk terus manggung sampai tidak ada lagi orang yang menyewanya.
Pada tahun 1950-an sampai 1960-an, ludruk memang berjaya dan menjadi hiburan andalan masyarakat Jawa. Sayang perlahan ludruk meredup dan membuat Yono harus menekuni pekerjaan lain di dunia rekaman untuk pembuatan sponsor.
Pekerjaan sampingan Yono tersebut dilakukannya dari tahun 1976-1990. Di waktu yang hampir bersamaan, Yono juga mulai meninggalkan ludruk konvensional. Ia kembali ke kediamannya di Malang untuk manggung jika ada panggilan dan melanjutkan usaha cukur rambut peninggalan bapaknya.
Entah filosofi dari mana yang membuat Yono berkata bahwa ludruk sama seperti mencukur rambut orang. Namun baginya, ludruk dan profesi mencukur rambut itu memang saling berhubungan.
"Ludruk itu kan seni. Nah mencukur rambut juga seni. Banyak orang bisa memotong rambut orang. Tetapi menemukan potongan rambut sesuai wajahnya itu tidak mudah, perlu jiwa seni untuk melakukannya," tutur Yono.
Dari pukul 08.00 hingga 15.00, Yono siap melayani pelanggan yang ingin dicukur rambutnya. Jumlah pelanggan yang datang pun tidak pasti. Kalau sepi, hanya 4-5 orang saja yang menggunakan jasanya. Tetapi jika ramai, ia bisa melayani sampai dengan 15 pelanggan.
Orang awam mungkin akan berpikir bahwa Yono hanya tukang cukur rambut biasa. Padahal nyatanya ia adalah maestro ludruk yang pernah berjaya di tahun 1950-an.
Sebenarnya sampai sekarang Yono masih tetap menerima panggilan bermain ludruk. Meskipun tawaran itu juga semakin jarang menemuinya. Sembari menunggu tawaran manggung, Yono menikmati kesehariannya sebagai tukang cukur yang berjiwa seni tinggi.