Ludruk, kesenian tradisional asal Jawa Timur yang semakin meredup keberadaannya. Salah satu seniman ludruk asal Malang pun membagi kisah hidupnya dalam menggeluti kesenian tradisional tersebut.
Adalah Suyono, pria kelahiran 1 Juli 1937 yang menggeluti ludruk sejak tahun 1958. Ia menuturkan bahwa ludruk sempat berjaya sekitar tahun 1950-an sampai 1960-an.
Awal mula terjun ke dunia ludruk, pria yang biasa dipanggil Yono ini pun mengaku bahwa ia hanya kebetulan mencoba bermain. Misalnya saat perayaan acara 17 Agustus di kampung, ia sekadar iseng dan ikut-ikutan teman sepermainannya untuk menampilkan ludruk.
Namun jiwa seni dalam dirinya ternyata semakin menguat. Yono pun jatuh cinta pada ludruk. Berbagai lakon demi lakon diperaninya. Memang kesenian ludruk menjadi hiburan favorit warga zaman dahulu.
Bahkan ketika ludruk dibekukan pada tahun 1965 karena dianggap bagian dari komunis, Yono tidak menyerah. Maestro ludruk tersebut pun hijrah ke Surabaya. Nama Yono akhirnya semakin dikenal luas oleh masyarakat.
Yono juga disebut-sebut sebagai guru seniman ludruk Kartolo cs. Namun ketika dikonfirmasi merdeka.com pada awal pekan lalu di kediamannya, Yono dengan rendah hati mengelaknya.
"Kalau guru ya ndaklah. Cuma dulu ketemunya ya nggak sengaja. Tahun 1964, saya gabung di tobongan (perkumpulan) ludruk dan ada Kartolo masuk. Karena lebih senior, jadi ya saya berkewajiban mendidik. Itu saja," ujarnya.
Seiring berjalannya waktu, kesenian ludruk perlahan meredup. Kondisi tersebut disadari oleh Yono dan membuatnya harus melakukan pekerjaan lain.
Sampai saat ini, Yono hanya manggung jika hanya tawaran. Besar karena ludruk, Yono pun berharap kesenian tradisional ini tetap dilestarikan dan bisa bangkit sejaya dulu lagi.