Mengenal Tren Slow Tourism Bikin Liburan Jadi Lebih Lambat dan Bisa Menikmati perjalanan Tanpa Terburu-buru

Slow tourism, gaya berwisata santai untuk pengalaman lebih mendalam. Cocok untuk libur Lebaran, menghindari keramaian, dan menikmati perjalanan lebih lama.

Shalsha Ardya
Oleh Shalsha Ardya - Reporter
Mengenal Tren Slow Tourism Bikin Liburan Jadi Lebih Lambat dan Bisa Menikmati perjalanan Tanpa Terburu-buru
<p>ilustrasi perempuan yang ingin travelling//copyright freepik/marymarkevinch</p> (@ 2024 merdeka.com)

Pandemi Covid-19 telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam dunia pariwisata. Jika sebelumnya konsep perjalanan lebih banyak berfokus pada kunjungan cepat ke berbagai destinasi wisata dalam waktu singkat (mass tourism), kini semakin banyak orang yang mengadopsi konsep slow tourism. Sejalan dengan meningkatnya kesadaran akan keberlanjutan dan pentingnya pengalaman yang lebih bermakna, slow tourism menjadi tren yang semakin diminati.

Konsep ini tidak hanya memungkinkan wisatawan untuk lebih menikmati setiap perjalanan, tetapi juga memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat lokal. Dengan perjalanan yang lebih lambat, wisatawan dapat lebih menghargai budaya setempat, mengurangi stres akibat jadwal yang padat, serta berkontribusi pada ekonomi lokal dengan menghabiskan lebih banyak waktu di suatu destinasi.

Terutama menjelang libur Lebaran dan akhir tahun, ketika banyak orang merencanakan perjalanan, slow tourism bisa menjadi alternatif yang lebih santai dan mendalam dibandingkan wisata konvensional yang terburu-buru. Dilansir dari Beauty Journal, selain menghindari keramaian dan kepadatan destinasi populer, wisatawan juga dapat menikmati pengalaman yang lebih autentik dan bermakna selama liburan mereka.

Sesuai dengan namanya, slow tourism berfokus pada perjalanan yang dilakukan dengan kecepatan lambat dan waktu yang lebih panjang. Konsep ini bertolak belakang dengan pariwisata yang mengejar banyak destinasi dalam waktu singkat. Slow tourism mengutamakan pengalaman yang mendalam, menikmati suasana, serta membangun koneksi dengan tempat dan budaya setempat.

Dalam slow tourism, wisatawan tidak merasa terburu-buru untuk mengeksplorasi destinasi. Mereka lebih memilih untuk tinggal lebih lama di satu tempat, berinteraksi dengan penduduk lokal, dan memahami kehidupan sehari-hari di sana. Seorang pelaku slow tourism cenderung mencari makna dalam perjalanan mereka, bukan sekadar mengumpulkan foto atau mencentang daftar tempat wisata yang harus dikunjungi.

Selain memberikan pengalaman lebih otentik, slow tourism juga berkontribusi terhadap keberlanjutan lingkungan dan ekonomi lokal. Dengan mengurangi mobilitas berlebihan, wisatawan dapat mengurangi jejak karbon, sementara menghabiskan lebih banyak waktu di suatu tempat berarti memberikan dampak ekonomi lebih besar bagi komunitas setempat.

packing 2
<p>Ilustrasi koper yang seimbang/Copyright pexels.com/Oleksandr P</p> @ 2024 merdeka.com

Libur Lebaran dan liburan akhir tahun sering kali identik dengan mudik dan perjalanan wisata yang padat. Banyak keluarga yang memilih untuk menghabiskan waktu bersama di tempat-tempat wisata populer. Namun, padatnya arus wisatawan sering kali membuat pengalaman liburan menjadi melelahkan, dengan antrean panjang, kemacetan, dan jadwal perjalanan yang padat.

Di sinilah slow tourism dapat menjadi solusi. Alih-alih mengejar banyak destinasi dalam waktu singkat, wisatawan dapat memilih untuk menikmati satu atau dua lokasi dengan lebih santai. Misalnya, daripada mengunjungi beberapa kota dalam seminggu, wisatawan bisa memilih untuk tinggal lebih lama di satu kota kecil yang kaya budaya dan keindahan alam. Dengan begitu, mereka dapat benar-benar menikmati momen bersama keluarga tanpa tekanan waktu.

Selain itu, slow tourism memungkinkan wisatawan untuk menghindari keramaian dan menemukan sisi lain dari destinasi yang sering terabaikan. Mengunjungi desa-desa wisata, menikmati kuliner khas secara perlahan, atau berinteraksi dengan masyarakat setempat bisa menjadi pengalaman yang lebih berharga daripada sekadar mengunjungi tempat-tempat yang sudah terlalu ramai.

Ilustrasi Backpacking (©Pexels)
Ilustrasi Backpacking (©Pexels) @ 2025 merdeka.com

1. Backpacking

Backpacking merupakan salah satu bentuk slow tourism yang populer karena fleksibilitas dan kebebasannya. Wisatawan yang memilih gaya ini tidak terikat oleh jadwal ketat, sehingga dapat menghabiskan lebih banyak waktu di suatu destinasi dan benar-benar merasakan atmosfer lokal.

Selain itu, backpacking memungkinkan perjalanan yang lebih ekonomis karena wisatawan sering memilih penginapan sederhana, seperti hostel atau homestay, serta menggunakan transportasi umum.Tidak hanya sekadar mengunjungi tempat wisata, backpacking juga membuka kesempatan untuk mengenal budaya setempat lebih dalam melalui interaksi langsung dengan masyarakat lokal.

Misalnya, wisatawan dapat mengikuti kegiatan tradisional, mencoba makanan khas dari warung lokal, atau bahkan terlibat dalam aktivitas komunitas setempat, yang membuat perjalanan lebih bermakna.

Ilustrasi Road Trip (©Pexels)
Ilustrasi Road Trip (©Pexels) @ 2025 merdeka.com

Road trip adalah pilihan ideal bagi mereka yang ingin menikmati perjalanan dengan lebih santai dan fleksibel. Dengan menggunakan kendaraan pribadi, wisatawan memiliki kebebasan untuk menentukan rute dan jadwal perjalanan mereka sendiri tanpa terikat oleh waktu keberangkatan transportasi umum. Road trip juga memberikan kesempatan untuk mengeksplorasi tempat-tempat tersembunyi yang tidak selalu dapat dijangkau oleh moda transportasi umum.

Salah satu bentuk road trip yang semakin populer adalah perjalanan dengan mobil RV atau camper van. Selain lebih hemat biaya dalam jangka panjang, gaya perjalanan ini juga lebih ramah lingkungan karena mengurangi kebutuhan akan akomodasi hotel. Dengan road trip, wisatawan dapat menikmati pemandangan sepanjang perjalanan, berhenti di tempat menarik kapan saja, serta menciptakan pengalaman yang lebih personal dan tidak terburu-buru.

Ilustrasi Mendaki Gunung (©Pexels)
Ilustrasi Mendaki Gunung (©Pexels) @ 2025 merdeka.com

Bagi pecinta alam, mendaki gunung atau bersepeda adalah bentuk slow tourism yang menawarkan pengalaman mendalam dan penuh tantangan. Aktivitas ini memungkinkan wisatawan untuk menikmati keindahan alam dengan lebih perlahan dan lebih menghargai perjalanan itu sendiri. Mendaki gunung, misalnya, memberikan kesempatan untuk merasakan ketenangan di tengah alam, menikmati pemandangan spektakuler, serta melatih ketahanan fisik dan mental.

Pendakian ke Gunung Semeru atau Gunung Rinjani membutuhkan waktu beberapa hari, yang memungkinkan pendaki untuk meresapi setiap tahapan perjalanan tanpa tergesa-gesa. Demikian pula, bersepeda di pedesaan, perbukitan, atau sepanjang jalur pesisir memberikan pengalaman unik untuk benar-benar merasakan atmosfer suatu tempat. Selain itu, bersepeda juga lebih ramah lingkungan karena tidak menghasilkan emisi karbon, sehingga menjadi pilihan ideal bagi wisatawan yang peduli terhadap kelestarian alam.

Ilustrasi Wisata Kuliner (©Pexels)
Ilustrasi Wisata Kuliner (©Pexels) @ 2025 merdeka.com

Slow tourism juga dapat dilakukan melalui wisata kuliner dan budaya, di mana wisatawan menghabiskan waktu lebih lama untuk mengenal keunikan suatu daerah melalui makanan dan tradisi setempat. Mencicipi makanan khas daerah bukan hanya sekadar menikmati cita rasa, tetapi juga memahami sejarah dan budaya di baliknya.

Misalnya, mengunjungi pasar tradisional untuk melihat langsung cara penduduk lokal berinteraksi dan membeli bahan makanan segar dapat memberikan wawasan yang lebih dalam tentang kehidupan sehari-hari mereka. Tidak hanya itu, wisatawan juga bisa mengikuti kelas memasak untuk belajar membuat hidangan tradisional atau menghadiri festival budaya yang diadakan di destinasi yang dikunjungi.

Libur Lebaran dan libur akhir tahun menjadi momen yang tepat untuk menjelajahi kuliner khas daerah, seperti mencicipi opor ayam, ketupat, rendang, dan berbagai kue tradisional yang mungkin jarang ditemukan di luar musim Lebaran. Dengan menikmati makanan dan budaya dengan cara yang lebih santai, wisatawan dapat lebih memahami esensi dari tempat yang mereka kunjungi, menciptakan kenangan yang lebih berkesan, serta turut melestarikan tradisi lokal.

Slow tourism menawarkan banyak keuntungan dibandingkan dengan gaya wisata yang lebih cepat dan terburu-buru. Berikut beberapa manfaatnya:

  1. Mengurangi Stres dan Kelelahan – Dengan perjalanan yang lebih santai, wisatawan tidak perlu khawatir dengan jadwal yang padat atau harus berpindah-pindah tempat dalam waktu singkat.
  2. Meningkatkan Koneksi dengan Destinasi – Wisatawan dapat lebih memahami budaya, tradisi, dan kehidupan lokal, sehingga menciptakan pengalaman yang lebih bermakna.
  3. Dampak Lingkungan yang Lebih Rendah – Mengurangi mobilitas berlebihan dapat membantu mengurangi jejak karbon dan menjaga kelestarian lingkungan.
  4. Meningkatkan Perekonomian Lokal – Dengan tinggal lebih lama di suatu tempat, wisatawan memberikan kontribusi ekonomi yang lebih besar bagi bisnis dan komunitas setempat.

Slow tourism adalah konsep berwisata yang semakin relevan di era modern, terutama saat libur Lebaran. Dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya menikmati perjalanan secara lebih santai, wisatawan kini mulai mengadopsi cara berwisata yang lebih lambat dan bermakna. Alih-alih terburu-buru mengunjungi banyak destinasi dalam waktu singkat, mereka dapat lebih fokus menikmati suasana, berinteraksi dengan masyarakat lokal, serta menghargai budaya dan keindahan alam di sekitar mereka.

Dengan berbagai pilihan, mulai dari backpacking, road trip, mendaki, bersepeda, hingga wisata kuliner dan budaya, slow tourism memberikan pengalaman yang lebih berharga, otentik, dan berkelanjutan. Tidak hanya itu, gaya wisata ini juga membantu mengurangi stres akibat perjalanan yang melelahkan dan padat jadwal.

Bagi mereka yang ingin menikmati libur Lebaran dengan lebih nyaman dan bebas tekanan, slow tourism bisa menjadi pilihan terbaik untuk merasakan keindahan perjalanan dengan cara yang lebih bermakna dan mendalam.

Rekomendasi