Melihat dari dekat keindahan batu ambar yang simpan ekor dinosaurus

Melihat dari dekat keindahan batu ambar yang simpan ekor dinosaurus. Potongan kerangka sepanjang 1,4 inci yang tertutup bulu berwarna putih dan cokelat terlihat masih utuh di dalam batu ambar yang ditemukan palaentologist Lida Xing. Diperkirakan ekor itu milik spesies coelurosaur muda dan berusia sekitar 99 juta tahun.

Tantri Setyorini
Oleh Tantri Setyorini - Reporter
Melihat dari dekat keindahan batu ambar yang simpan ekor dinosaurus
Batu amber berisi potongan ekor dinosaurus. ©2016 National Geographic

Batu amber atau ambar dikenal karena warnanya yang indah, sekaligus jasad-jasad renik yang terperangkap di dalamnya. Tak jarang, sebongkah ambar menyimpan fosil dari zaman purba yang terawetkan dengan sempurna. Seperti halnya batu ambar yang ditemukan oleh ahli paleontologi National Geographic ini.

Ketika mengumpulkan sampel di Myanmar tahun 2015 lalu, Lida Xing tak sengaja mendapatkan penemuan berharga. Serpihan ekor dinosaurus yang terbekukan di dalam sepotong ambar.

Batu amber berisi potongan ekor dinosaurus. ©2016 National Geographic Batu amber berisi potongan ekor dinosaurus. ©2016 National Geographic

Potongan kerangka sepanjang 1,4 inci yang tertutup bulu berwarna putih dan cokelat terlihat masih utuh, ikut membeku bersama hewan-hewan kecil dan getah yang kemudian berubah menjadi batu ambar.

Batu amber berisi potongan ekor dinosaurus. ©2016 National Geographic Batu amber berisi potongan ekor dinosaurus. ©2016 National Geographic

Ini adalah penemuan berharga, sebab ekor ini berasal dari dinosaurus berbulu yang fosilnya jarang ditemui. Diperkirakan ekor tersebut berusia sekitar 99 juta tahun. Para ilmuwan percaya ekor itu adalah milik spesies coelurosaur muda yang merupakan bagian dari kelompok dinosaurus theropoda.

Ilustrasicoelurosaur.©2016 National Geographic

"Meskipun bulu dari zaman dinosaurus pernah ditemukan di dalam batu ambar, dan bukti-bukti mengenai keberadaan dinosaurus berbulu telah ditemukan dalam bentuk fosil, ini pertama kalinya para ilmuwan bisa mengaitkan langsung bulu yang terawetkan dengan baik ini dengan dinosaurus, dan pada gilirannya mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang evolusi dan struktur bulu dinosaurus," tulis Kristin Romey di halaman resmi National Geographic.

Rekomendasi