Kisah Sukses Petani Kemangi di Jogja, Raup Omzet Melimpah Berkat Digital Marketing

ASR Farm berhasil menjadi petani kemangi yang sukses di Sleman berkat penerapan inovasi dan strategi digital marketing.

Mabruri Pudyas Salim
Oleh Mabruri Pudyas Salim - Reporter
Kisah Sukses Petani Kemangi di Jogja, Raup Omzet Melimpah Berkat Digital Marketing
Noni Suci Aristyani (kiri) & Ahmad Asrori (kanan) pasangan suami istri yang sukses setelah banting stir menjadi petani kemangi. (Liputan6.com/Mabruri Pudyas Salim) (© 2026 Liputan6.com)

Perjalanan Ahmad Asrori dan Noni Suci Aristyani, pasangan suami istri yang mendirikan ASR Farm, menggambarkan semangat tak kenal menyerah dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan.

Mereka berhasil beralih dari latar belakang non-pertanian menuju kesuksesan sebagai petani kemangi modern di Sleman, menunjukkan bahwa ketekunan dan pemanfaatan teknologi dapat membuka peluang baru dalam sektor agribisnis.

Ahmad Asrori, yang sebelumnya bekerja di pabrik selama sepuluh tahun setelah menyelesaikan pendidikan di SMK Otomotif, memilih untuk meninggalkan karier tersebut. Keputusan ini muncul setelah terinspirasi oleh keluarganya yang berkecimpung dalam dunia pertanian.

Di sisi lain, Noni Suci Aristyani, yang pernah menjadi guru dan memiliki usaha konveksi, awalnya merasa ragu untuk terjun ke dunia pertanian. Namun, pada tahun 2023, ia akhirnya memutuskan untuk "nyemplung" ke dunia pertanian, didorong oleh potensi perputaran modal yang cepat serta hasil menjanjikan dari budidaya kemangi.

Transformasi ASR Farm, yang awalnya berencana menanam timun baby, menjadi pemasok kemangi unggulan, menegaskan pentingnya kejelian dalam melihat peluang pasar. Dengan memanfaatkan digital marketing, pasangan ini berhasil menjangkau konsumen yang lebih luas dan membangun merek yang kuat. Hal ini membuktikan bahwa pertanian bukan lagi sekadar pekerjaan tradisional, melainkan juga bisnis yang menjanjikan di era digital.

Kisah Ahmad Asrori dan Noni Suci Aristyani dari ASR Farm dimulai dari latar belakang yang sangat berbeda dari dunia pertanian. Ahmad, yang merupakan lulusan SMK Otomotif, menghabiskan sepuluh tahun hidupnya di pabrik GKBI sebelum akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri.

Keputusan tersebut diambil karena keinginan untuk mencari lingkungan kerja yang lebih fleksibel serta terinspirasi oleh anggota keluarganya yang telah lama berprofesi sebagai petani.

"Sudah tetap sudah oke lah sudah enak. Nah, terus lama-lama kok sudah agak apa ya, kebanyakan aturan lah biasa pabrik ikut orang ya. Saya tak pikir-pikir lagi ya, saya mau resign saja, Mas, untuk bertani," ungkap Ahmad Asrori dalam wawancara dengan reporter Liputan6.com di kediamannya di Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, pada Selasa, 14 April 2026.

Sementara itu, Noni Suci Aristyani, istri Ahmad, memiliki latar belakang pendidikan S1 Kependidikan dan pernah mengajar di Sekolah Dasar selama tiga tahun. Sebelum sepenuhnya terjun ke dunia pertanian, Noni juga sempat merintis usaha konveksi. Pada tahun 2023, Ahmad mengajak Noni untuk bergabung dalam mengelola usaha pertanian mereka, yang menjadi titik balik penting bagi ASR Farm. Awalnya, Noni mengaku tidak pernah bercita-cita untuk menjadi seorang petani dan sempat menolak untuk terlibat langsung di sawah.

Namun, setelah mempertimbangkan potensi perputaran modal yang cepat dan hasil yang menjanjikan, ia akhirnya memutuskan untuk "nyemplung" dan menikmati peran barunya sebagai petani kemangi. Perjalanan ini menegaskan bahwa dengan tekad dan adaptasi, siapa pun bisa meraih kesuksesan di bidang yang baru.

Sebelum menemukan komoditas unggulan, ASR Farm pernah berencana untuk membudidayakan timun baby. Rencana tersebut muncul karena harapan akan perputaran modal yang cepat, tetapi mereka menghadapi berbagai kendala. Salah satu kendala utama adalah kebutuhan akan lahan baru untuk mencapai produksi yang optimal, serta modal besar yang diperlukan untuk pengolahan lahan secara berkelanjutan.

Titik balik bagi ASR Farm muncul dari sebuah percakapan yang tak terduga. Noni Suci Aristyani mendengar keluhan dari seorang tetangga, yang merupakan penjual pecel lele, mengenai kesulitan dalam mendapatkan pasokan kemangi berkualitas tinggi dan segar. Pedagang tersebut mengalami kesulitan dalam mencari kemangi yang memiliki daun segar, tidak layu, dan tidak rusak, terutama untuk memenuhi kebutuhan harian mereka.

Menanggapi peluang ini, Ahmad Asrori mulai mencari informasi tentang budidaya kemangi melalui YouTube. Mereka kemudian memutuskan untuk mencoba menanam kemangi di satu bedeng kecil berukuran sekitar 8-9 meter dengan bibit yang dibeli secara daring. Hasil dari percobaan ini sangat memuaskan: kemangi tumbuh subur, mudah dirawat, dan menghasilkan kualitas yang sangat baik.

Para pedagang pecel lele memberikan respons positif terhadap kemangi yang dihasilkan ASR Farm karena selalu segar, dipanen saat dipesan, dan bisa dipesan secara mendadak. Noni melihat kesempatan ini sebagai peluang besar karena jarang ada petani yang secara khusus fokus pada branding sebagai petani kemangi, khususnya di wilayah Sleman. Selain itu, harga kemangi yang relatif stabil, dengan harga terendah sekitar Rp11.000 per kilogram, semakin memperkuat keyakinan mereka untuk melanjutkan usaha ini.

Noni Suci Aristyani sangat menyadari betapa pentingnya pemasaran digital, terutama bagi petani muda. Ia meyakini bahwa tidak memanfaatkan platform digital merupakan sebuah kerugian besar, khususnya untuk generasi milenial dan Gen Z. Menurutnya, pemasaran digital adalah metode promosi yang lebih efektif dan efisien dibandingkan dengan metode tradisional.

"Sekalinya panen raya murah, harganya jatuh. Bisa tidak sih petani golek pasaran dewe (membangun pasar sendiri). Enggak, enggak melulu tergantung sama pengepul maupun pasar lelang gitu. Itulah makanya saya kenapa pengin belajar marketing tuh karena itu saya pengin cari pasar sendiri," ujar Noni.

ASR Farm secara aktif memanfaatkan berbagai platform digital seperti website, marketplace, Facebook, Instagram, dan TikTok untuk mempromosikan produk kemangi mereka. Noni bahkan mendorong dirinya dan suaminya untuk menjadi "content creator" agar dapat mengisi platform-platform tersebut dengan konten yang menarik. Melalui strategi ini, mereka dapat menjangkau pasar yang lebih luas, menekan biaya promosi, dan membantu membangun citra merek yang kuat. Membangun personal branding dan jaringan juga menjadi aspek penting dalam bisnis pertanian ASR Farm. Hal ini membuka peluang untuk menjalin relasi dan memperluas pasar, sehingga menunjukkan bahwa visibilitas online sangat penting bagi petani kemangi modern.

ASR Farm menempatkan penjualan Business-to-Business (B2B) sebagai inti dari model bisnis mereka. Noni menjelaskan bahwa bagi konsumen langsung, membeli kemangi dalam jumlah besar, seperti 10 kilogram dalam sehari, adalah hal yang sulit.

"Tapi jujur ya Mas targetku awal itu memang B2B. Masa iya sih kita panen lah katakanlah 10 kilo dalam satu hari mana ada konsumen langsung yang mau konsumsi segitu," ungkap Noni. Meskipun demikian, ASR Farm tetap melayani konsumen langsung yang memerlukan kemangi dalam jumlah kecil, mulai dari 0,5 hingga 2 kilogram. Fleksibilitas ini memastikan bahwa semua segmen pasar dapat terlayani dengan baik, sekaligus menjaga hubungan baik dengan pelanggan individu.

Diversifikasi saluran penjualan juga menjadi faktor penting dalam kesuksesan ASR Farm. Selain penjualan langsung, mereka juga memanfaatkan berbagai saluran lain.

  1. Pasar Lelang Gapoktan: Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Purwobinangun memiliki pasar lelang yang menampung hasil tani. ASR Farm menyuplai kemangi ke pasar ini jika ada sisa panen, dengan standar kualitas yang lebih fleksibel (Grade A dan B).
  2. Superindo: ASR Farm pernah menyuplai buncis ke Superindo melalui jaringan seorang teman. Untuk Superindo, standar kualitas sangat ketat, seperti ukuran yang pas dan tidak ada cacat. Mereka menyuplai dalam bentuk belum dikemas, dengan harga yang lebih tinggi sekitar Rp2.000-Rp2.500 per kilogram dibandingkan harga pengepul.

Ahmad Asrori mengungkapkan bahwa perawatan tanaman kemangi cukup sederhana. Proses yang diperlukan hanya mencakup penanaman, pemupukan, dan penyemprotan, tanpa memerlukan pemangkasan.

"Untuk kemangi itu khusus kemangi ya, sangat mudah Mas, cuma tanam, enggak ada pruning. Nah, cuma mupuk sama nyemprot sudah itu saja Mas, sudah panen berkali-kali. Musuh cuma satu saja, penghujan itu saja," jelasnya.

Kualitas daun kemangi dapat menurun setelah beberapa waktu, sehingga penting untuk mengganti bibit baru guna menjaga produktivitas tanaman.

Siklus panen yang panjang menjadikan kemangi sebagai komoditas yang efisien dan menguntungkan bagi para petani. Dalam pengelolaan Sumber Daya Manusia (SDM), ASR Farm tidak mengalami banyak kendala dalam budidaya kemangi, karena Ahmad Asrori dan Noni dapat menangani proses tersebut, dibantu oleh ibu Noni dalam hal pengemasan. Meskipun demikian, Ahmad mengakui bahwa SDM bisa menjadi tantangan untuk komoditas lainnya. Selain itu, ASR Farm juga bekerja sama dengan Kelompok Wanita Tani (KWT) dalam budidaya kemangi, memanfaatkan pekarangan rumah mereka sebagai lahan produktif.

Noni Suci Aristyani dan Ahmad Asrori mengungkapkan beberapa faktor yang menyebabkan generasi muda kurang berminat pada profesi pertanian. Salah satu pandangan yang umum adalah bahwa bertani dianggap "tidak keren" atau "rekoso," yang berarti pekerjaan ini sulit dan melelahkan.

Anggapan ini sering kali membuat profesi petani dipandang sebelah mata, dan hasil pertanian dianggap kurang berarti. Krisis petani muda di Indonesia sering kali berhubungan dengan kurangnya daya tarik profesi ini di kalangan generasi penerus. Banyak dari mereka lebih memilih pekerjaan di sektor lain yang dianggap lebih modern atau memberikan status sosial yang lebih tinggi. Persepsi ini menjadi salah satu hambatan utama dalam regenerasi petani di masa depan.

Selain itu, Noni juga menambahkan bahwa generasi muda saat ini berada dalam fase eksplorasi diri dan mencari pengalaman baru.

Dalam konteks ini, kebutuhan finansial yang mendesak mungkin belum menjadi prioritas utama bagi mereka. Hal ini menunjukkan bahwa untuk menarik minat generasi muda terhadap profesi petani, diperlukan pendekatan yang lebih inovatif dan menarik. Misalnya, dengan memberikan pemahaman yang lebih baik tentang potensi dan manfaat dari bertani, serta menciptakan peluang yang lebih menarik dalam sektor pertanian.

Noni Suci Aristyani meyakini bahwa sektor pertanian dan peternakan akan selalu relevan selama manusia masih memerlukan makanan. Ia memberikan contoh kisah sukses seorang petani milenial di Jabodetabek yang berhasil membudidayakan kucai.

"Akhirnya dia budidaya terus dia setor-setorkan ke tukang gorengan. Itu katanya satu bulannya itu hasilnya bisa sampai dua digit," ungkap Noni. Hal ini menunjukkan bahwa peluang di bidang pertanian masih sangat terbuka lebar, terutama bagi generasi muda yang ingin berkontribusi.

Bagi generasi muda yang berminat, Noni menyarankan untuk memulai bertani dari skala kecil, seperti kebun mini atau dengan konsep urban farming dan integrated farming. Ia juga menekankan pentingnya memanfaatkan teknologi, khususnya digital marketing, untuk memasarkan hasil pertanian.

Dengan menggunakan digital marketing, petani tidak perlu lagi bergantung pada pengepul, sehingga mereka bisa mencari pasar sendiri dengan lebih efisien. Selain itu, Noni juga menekankan pentingnya perencanaan dan pengalaman sebelum terjun sepenuhnya ke bisnis pertanian.

Ia mencontohkan pengalamannya sendiri yang merencanakan bisnis konveksi sebelum memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan mengajar, dengan menggunakan gajinya sebagai modal awal. ASR Farm juga menyediakan program magang dan penelitian bagi mahasiswa yang ingin belajar tentang pertanian modern. Dengan demikian, ASR Farm menjadi wadah bagi generasi muda untuk mendapatkan pengalaman praktis dalam bidang pertanian yang semakin berkembang.

Q: Apa itu ASR Farm?

A: ASR Farm merupakan sebuah usaha pertanian yang dikelola oleh pasangan suami istri, Ahmad Asrori dan Noni Suci Aristyani, yang terletak di Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman. Fokus utama dari ASR Farm adalah pada budidaya kemangi, yang menjadi komoditas unggulan mereka.

Q: Bagaimana ASR Farm memulai usaha kemangi?

A: ASR Farm memutuskan untuk beralih ke budidaya kemangi setelah mendengar keluhan dari tetangga yang menjual pecel lele mengenai kesulitan dalam menemukan kemangi berkualitas secara konsisten. Ahmad Asrori melakukan riset dan mencoba menanam kemangi, yang ternyata mudah dirawat dan hasilnya memiliki kualitas yang baik.

Q: Apa peran digital marketing dalam kesuksesan ASR Farm?

A: Digital marketing memiliki peran yang sangat penting dalam memperluas jangkauan pasar ASR Farm. Hal ini membantu mereka membangun personal branding yang kuat dan memungkinkan interaksi langsung dengan konsumen tanpa ketergantungan pada pengepul. ASR Farm memanfaatkan berbagai platform seperti website, media sosial (Facebook, Instagram, TikTok), dan marketplace untuk mencapai tujuan tersebut.

Q: Apakah ASR Farm menerima magang atau penelitian?

A: Tentu saja, ASR Farm terbuka bagi mahasiswa yang ingin melakukan magang atau penelitian di bidang pertanian. Noni Suci Aristyani pernah diminta untuk mengisi stadium general mengenai peluang usaha pertanian dan sering menerima permintaan untuk melakukan penelitian di lokasi mereka.

Q: Apa pesan ASR Farm untuk generasi muda yang ingin bertani?

A: ASR Farm mendorong generasi muda untuk mencoba bertani, bahkan jika hanya dalam skala kecil seperti kebun mini atau urban farming. Mereka juga menyarankan pemanfaatan teknologi, khususnya dalam digital marketing untuk pemasaran, serta pentingnya perencanaan dan pengalaman sebelum terjun sepenuhnya ke dalam dunia bisnis pertanian.

Rekomendasi