Kerap Jadi Menu Takjil Andalan Setiap Ramadan, Ini Fakta-Fakta Unik Bakwan Goreng

Bakwan, gorengan yang renyah dan lezat, menjadi salah satu pilihan takjil favorit saat Ramadan. Mari kita eksplorasi sejarah dan variasi menariknya!

Nurul Diva
Oleh Nurul Diva - Reporter
Kerap Jadi Menu Takjil Andalan Setiap Ramadan, Ini Fakta-Fakta Unik Bakwan Goreng
Kerap Jadi Menu Takjil Andalan Setiap Ramadan, Ini Fakta-Fakta Unik Bakwan Goreng (Merdeka.com)

Siapa yang tidak mengenal bakwan? Gorengan yang renyah ini selalu menjadi pilihan utama saat bulan Ramadan tiba. Di seluruh penjuru Indonesia, hampir setiap pedagang takjil menjadikan bakwan sebagai salah satu menu unggulan. Bakwan telah lama menjadi pilihan favorit untuk berbuka puasa, berkat rasanya yang gurih dan teksturnya yang lembut di dalam serta renyah di bagian luar. Selain itu, bakwan termasuk makanan yang terjangkau, berukuran kecil, dan mengenyangkan.

Popularitas bakwan di Indonesia sangatlah tinggi, terutama di Pulau Jawa. Hampir semua rumah makan di Jawa menyajikan bakwan sebagai menu pelengkap. Keberadaan bakwan yang mudah ditemukan dan harganya yang ramah di kantong menjadikannya camilan yang merakyat dan disukai oleh berbagai kalangan.

Namun, apakah Anda tahu bahwa bakwan bukanlah makanan asli Indonesia? Bakwan memiliki sejarah yang panjang yang berakar dari China, dan dulunya dibuat dari daging, bukan sayuran. Seiring berjalannya waktu, resep bakwan beradaptasi dengan menggunakan bahan yang lebih mudah didapat, sehingga menjadikannya salah satu gorengan khas Indonesia yang tak tergantikan. Lalu, bagaimana perjalanan bakwan hingga menjadi menu takjil favorit saat Ramadan? Simak fakta menarik mengenai bakwan, mulai dari asal-usulnya hingga alasan mengapa makanan ini tetap menjadi hidangan favorit masyarakat Indonesia, seperti yang dirangkum oleh merdeka.com, Minggu (2/3).

Bakwan yang kita kenal saat ini ternyata memiliki asal-usul dari tradisi kuliner China. Dalam bahasa Hokkien, kata "bak" berarti daging dan "wan" berarti bola, sehingga secara harfiah, bakwan awalnya adalah bola daging yang digoreng. Sejarah bakwan diperkirakan sudah ada sejak abad ke-17, ketika makanan ini dibawa oleh para perantau dari negeri tirai bambu melalui jalur perdagangan.

Seiring waktu, resep bakwan mengalami modifikasi karena harga daging yang cukup tinggi. Masyarakat lokal kemudian mulai menggantikan daging dengan sayuran seperti wortel, kol, dan tauge yang dicampur dengan tepung dan digoreng. Perubahan ini membuat bakwan lebih terjangkau dan lebih diterima oleh berbagai lapisan masyarakat. Kini, bakwan menjadi salah satu camilan gorengan yang mudah ditemukan, baik di pasar tradisional maupun di kalangan pedagang kaki lima.

Dengan demikian, bakwan tidak hanya menjadi makanan yang nikmat, tetapi juga mencerminkan adaptasi budaya dan kebutuhan masyarakat akan makanan yang ekonomis. Keberadaan bakwan kini menjadi bagian penting dari kuliner lokal yang disukai banyak orang.

Bakwan menjadi sangat terkenal sehingga setiap daerah berinovasi untuk menciptakan variasi bakwan yang berbeda, seperti bakwan Malang, bakwan Pontianak, ote-ote Surabaya, hingga bala-bala dari Jawa Barat. Masing-masing daerah memiliki ciri khas dalam pemilihan bahan dan bumbu, yang menghasilkan cita rasa yang unik dan berbeda.

Untuk ote-ote yang berasal dari Jawa Timur, bahan-bahannya mirip dengan bakwan pada umumnya, seperti tepung terigu, penyedap rasa, dan sayuran. Namun, yang membedakan adalah kehadiran beberapa iris udang di setiap potongnya, yang tentunya menambah rasa gurih dan lezat. Selain itu, ukuran ote-ote juga lebih besar dibandingkan bakwan yang biasanya digoreng tipis.

Di Surabaya, ote-ote sering disajikan sebagai menu takjil, di mana masyarakat setempat biasa menikmatinya dengan cabai rawit atau sambal petis berwarna hitam. Sementara itu, warga Jawa Barat lebih suka menikmati bakwan dengan sambal goang yang terbuat dari cabai, bawang, dan kecur, atau sambal terasi yang memberikan rasa manis pedas yang khas.

Setiap sore selama bulan Ramadan, para penjual gorengan di tepi jalan selalu ramai oleh pembeli yang mencari takjil untuk berbuka puasa. Di antara berbagai pilihan, bakwan menjadi salah satu menu yang paling diminati. Ada beberapa faktor yang menjadikan gorengan ini sangat populer:

  1. Mudah didapatkan: Bakwan bisa ditemukan di hampir semua penjual takjil, baik di pasar Ramadan maupun di gerobak gorengan.
  2. Rasa yang gurih dan mengenyangkan: Kombinasi antara tepung dan sayuran memberikan cita rasa gurih yang nikmat setelah seharian berpuasa.
  3. Harga yang terjangkau: Jika dibandingkan dengan makanan takjil lainnya seperti kolak atau es buah, bakwan memiliki harga yang relatif lebih murah dan dapat dibeli dalam jumlah yang banyak.
  4. Praktis untuk dibuat sendiri: Dengan bahan yang sederhana dan cara memasak yang mudah, bakwan juga dapat dipadukan dengan berbagai topping seperti bakwan udang atau bakwan jagung.

Keberadaan bakwan sebagai takjil favorit juga didukung oleh hasil survei yang dilakukan oleh Populix pada tahun 2024, yang menunjukkan bahwa lebih dari 70% masyarakat Indonesia memilih gorengan, termasuk bakwan, sebagai takjil pilihan saat Ramadan. "Gorengan telah bertahan menjadi menu favorit buka puasa selama bulan Ramadan. Terbukti dari survei yang dilakukan Populix tahun 2024, 2023, dan 2022. Presentasenya selalu di atas 70%, bahkan gorengan selalu dipilih baik saat berburu takjil di pasar Ramadan maupun masak sendiri di rumah." tulis laman communication.uii.ac.id.

Selain bakwan, terdapat berbagai jenis gorengan lain yang kerap disajikan saat berbuka puasa. Beberapa di antaranya adalah:

  1. Tempe mendoan: Tempe yang digoreng setengah matang dengan balutan tepung berbumbu.
  2. Tahu isi: Tahu yang diisi sayuran dan digoreng hingga mencapai kerenyahan yang sempurna.
  3. Pisang goreng: Salah satu pilihan gorengan manis yang sering dipilih untuk berbuka puasa.
  4. Risoles dan pastel: Gorengan yang terbuat dari sayuran atau daging, dibungkus dengan kulit tipis dan kemudian digoreng.

Gorengan memang menjadi makanan favorit di kalangan masyarakat Indonesia. Namun, bakwan tetap memiliki tempat istimewa di hati banyak orang, terutama karena kemampuannya untuk disajikan dengan berbagai bahan tambahan, seperti bakwan jagung, bakwan udang, hingga bakwan kornet. Dengan beragam pilihan tersebut, setiap orang dapat menikmati kelezatan yang berbeda-beda saat berbuka puasa.

Walaupun enak dan menggugah selera, sebaiknya konsumsi gorengan seperti bakwan dibatasi, terutama selama bulan Ramadan. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa gorengan yang dimasak dengan minyak yang digunakan berulang kali dapat mengandung lemak trans yang berpotensi berbahaya bagi kesehatan, seperti:

  1. Meningkatkan kadar kolesterol
  2. Memicu masalah pencernaan
  3. Meningkatkan risiko terkena penyakit jantung dan obesitas

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia merekomendasikan agar konsumsi gorengan tidak berlebihan, terutama saat berbuka puasa. Sebagai pilihan alternatif, Anda bisa mencoba:

  1. Menggoreng dengan minyak yang baru dan tidak digunakan berulang kali
  2. Menggunakan metode memasak yang lebih sehat, seperti memanggang atau menggoreng dengan air fryer
  3. Menyeimbangkan menu berbuka dengan makanan bergizi lainnya, seperti buah dan sayur segar

Dengan langkah-langkah ini, Anda masih dapat menikmati bakwan sebagai takjil tanpa perlu khawatir akan dampak negatif bagi kesehatan.

"Jadi, mengonsumsi gorengan saat buka puasa sebenarnya boleh-boleh saja Namun, jangan berlebihan, ya. Cukup makan 1 potong gorengan favoritmu untuk memanjakan lidah setelah seharian berpuasa." kata dr. Merry Dame Cristy Pane di laman alodokter.

1. Kenapa bakwan disebut bala-bala di Jawa Barat?Di Jawa Barat, bakwan lebih dikenal sebagai bala-bala, yang artinya "berantakan" dalam bahasa Sunda, menggambarkan tampilan bakwan yang tidak beraturan.

2. Apakah bakwan berasal dari Indonesia?Tidak, bakwan berasal dari China, awalnya dibuat dari daging sebelum akhirnya beradaptasi menjadi gorengan sayur di Indonesia.

3. Kenapa bakwan selalu ada saat Ramadan?Bakwan mudah ditemukan, murah, dan mengenyangkan, sehingga menjadi pilihan utama takjil saat berbuka puasa.

4. Bagaimana cara menikmati bakwan lebih sehat?Gunakan minyak baru, goreng dengan air fryer, dan imbangi dengan makanan bergizi seperti sayur dan buah.

5. Apa perbedaan bakwan dan perkedel jagung?Bakwan umumnya berbahan dasar sayuran seperti kol dan wortel, sedangkan perkedel jagung menggunakan jagung sebagai bahan utama.

Rekomendasi